BKPM Percepat Pengembangan Pabrik Biofuel Terintegrasi di Lampung untuk Dukung Ketahanan Energi

pantau.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mempercepat pengembangan pabrik biofuel terintegrasi di Provinsi Lampung sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi sektor perkebunan dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Lampung Dipilih karena Potensi Bahan Baku dan Infrastruktur

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menyatakan proyek bioetanol terintegrasi tersebut diharapkan menjadi model pengembangan energi terbarukan berbasis pertanian dan sumber daya domestik.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dan PT Toyota Tsusho Indonesia menandatangani Joint Declaration bertajuk Collaboration in Establishing Bioethanol Ecosystem Development sebagai dasar kolaborasi pengembangan ekosistem bioetanol.

Todotua mengatakan, “Lampung memiliki feedstock paling mumpuni untuk pengembangan bioetanol nasional. Selain itu, posisinya sangat strategis karena dapat memasok kebutuhan Sumatera dan sebagian Jawa yang merupakan pusat konsumsi energi terbesar di Indonesia. Karena itu, kami menetapkan Lampung sebagai lokasi awal pengembangan ekosistem bioetanol nasional.”

Hasil peninjauan lapangan menunjukkan Lampung memiliki potensi bahan baku dari molases tebu, sorgum, dan limbah biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bioetanol generasi pertama maupun generasi kedua.

Proyek Ditargetkan Beroperasi pada 2028

Pada tahap awal, proyek percontohan akan mencakup penanaman sorgum varietas Enryu seluas 10 hektare dan pembangunan fasilitas bioetanol berkapasitas 60 kiloliter per tahun.

Selanjutnya, pada tahap komersial akan dilakukan penanaman sorgum seluas 6.000 hektare di Lampung serta pembangunan pabrik bioetanol dengan kapasitas 60.000 kiloliter per tahun.

Proyek tersebut ditargetkan mulai dibangun pada kuartal III 2027 dan mulai beroperasi pada kuartal IV 2028.

Todotua menegaskan, “Yang ingin kita bangun bukan hanya pabrik, tetapi ekosistem ekonomi. Feedstock ada di sini, logistik ada di sini, masyarakat agrikulturnya juga ada di sini. Tinggal kita maksimalkan. Karena itu mari kita mulai saja. Yang penting proyek ini berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, petani, industri pendukung, serta memperkuat ketahanan energi nasional.”


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anjing Pemburu yang Gigit Bocah di Bogor Mati Saat Diamankan
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
DEN Ingatkan Risiko Kenaikan Harga akibat Pelemahan Rupiah
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pembunuh Siswi SD Sragen Ditangkap
• 48 menit lalukumparan.com
thumb
65 Emiten Gelar Buyback Senilai Rp65,34 Triliun, Realisasi Baru 30 Persen 
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Polri Buka Rekrutmen untuk Disabilitas Usai UU Baru Disahkan
• 17 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.