EtIndonesia.com Laporan yang dikutip dari media, IAA bersama SETI Institute (Institut Pencarian Kecerdasan Ekstraterestrial) menyusun delapan pedoman terkait kontak dengan peradaban luar bumi selama periode 2022–2025. Pedoman tersebut diperbarui dan diumumkan secara resmi pada Juni ini.
Jika Ada Sinyal Alien, Harus Diverifikasi Secara KetatPedoman baru tersebut menetapkan bahwa apabila para peneliti mendeteksi sinyal yang diduga berasal dari peradaban luar angkasa, mereka harus melakukan pemeriksaan yang sangat ketat dan meminta verifikasi silang dari berbagai lembaga independen.
Seluruh proses harus dilakukan dengan standar integritas akademik tertinggi guna memastikan bahwa sinyal tersebut benar-benar berasal dari sumber yang tidak dikenal dan bukan kesalahan teknis atau gangguan lainnya.
Jika Terbukti Berasal dari Alien, Dunia Harus Segera Diberi TahuApabila penelitian akhirnya memastikan bahwa sinyal tersebut berasal dari peradaban cerdas di luar bumi, tim peneliti diwajibkan segera memberitahukan masyarakat dunia, komunitas ilmiah internasional, dan United Nations.
Informasi yang dipublikasikan harus akurat, transparan, dan sesuai fakta.
Larangan Membalas Alien Secara SepihakSalah satu poin yang paling menarik perhatian adalah larangan untuk membalas pesan alien sebelum ada kesepakatan internasional.
Pedoman tersebut menegaskan:”Sebelum konsultasi dan pembahasan yang relevan selesai dilakukan, tidak boleh mengirimkan respons apa pun.”
Menurut IAA, jika suatu hari manusia benar-benar menerima pesan dari peradaban luar angkasa, keputusan mengenai cara merespons tidak boleh ditentukan oleh satu negara, organisasi, atau individu saja. Mekanisme komunikasi harus diatur melalui perjanjian, deklarasi, atau kesepakatan internasional yang terpisah dan dilaksanakan secara bertanggung jawab.
Data Asli Harus DiamankanPedoman tersebut juga mengharuskan para peneliti untuk segera mengamankan data asli ketika menemukan sinyal yang diduga berasal dari peradaban luar bumi.
Tujuannya adalah untuk mencegah manipulasi, kehilangan, atau gangguan terhadap data tersebut. Selain itu, berbagai negara didorong untuk membangun mekanisme kerja sama internasional dan menyimpan salinan data di beberapa arsip aman di berbagai belahan dunia.
Perlindungan bagi Para IlmuwanDokumen tersebut juga menyebutkan bahwa ilmuwan yang pertama kali menemukan bukti keberadaan alien kemungkinan akan menjadi pusat perhatian publik.
Karena itu, lembaga-lembaga terkait harus memberikan perlindungan terhadap para peneliti dari:
- Pelecehan di internet
- Ancaman terhadap keselamatan pribadi
- Tekanan atau pembalasan dalam karier profesional
Delapan pedoman ini memicu diskusi hangat di kalangan netizen.
Beberapa komentar yang beredar antara lain:
“Dulu kita hanya penasaran apakah ada kehidupan di luar bumi. Sekarang kita justru khawatir ada peradaban yang lebih maju menemukan kita.”
“Apakah ini berarti pihak berwenang secara tidak langsung sudah mengakui bahwa alien benar-benar ada?”
“Alam semesta begitu besar, dan Bumi bahkan tidak sebesar sebutir wijen jika dibandingkan dengannya.”
Klaim Mengenai UFO dan Alien Kembali Menjadi SorotanArtikel tersebut juga menyebut bahwa baru-baru ini, atas permintaan Presiden AS, Donald Trump, pihak United States Department of Defense dikabarkan membuka sejumlah dokumen dan video mengenai fenomena udara tak dikenal (UAP/UFO) yang sebelumnya diklasifikasikan.
Selain itu, mantan peneliti yang pernah terlibat dalam proyek yang didanai oleh Central Intelligence Agency juga mengklaim dalam sebuah podcast bahwa Amerika Serikat telah menemukan beberapa jenis makhluk luar angkasa dari puing-puing UFO yang jatuh, yang disebut sebagai:
- “Grey” (alien abu-abu)
- “Nordic” (alien Nordik)
- “Insectoid” (alien serangga)
- “Reptilian” (alien reptil)
Dilaporkan oleh Luo Tingting/Disunting oleh Wen Hui – NTDTV.com





