Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu (10/6/2026) pagi. Sentimen positif dari kebijakan pemerintah dan langkah moneter Bank Indonesia (BI) mendorong optimisme pelaku pasar setelah tekanan besar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Meski sempat dibuka melemah 2,59 poin atau 0,05 persen ke level 5.744,06, IHSG berbalik arah dan menguat signifikan. Hingga pukul 09.35 WIB, indeks tercatat naik 132,84 poin atau 2,31 persen ke posisi 5.879,49.
Penguatan ini melanjutkan reli tajam yang terjadi pada perdagangan sebelumnya, ketika IHSG melonjak 404 poin atau 7,57 persen ke level 5.722 setelah sempat menyentuh titik terendah tahun ini di level 5.317.
Liza Camelia Suryanata Head of Research Kiwoom Sekuritas mengatakan, lonjakan tersebut berhasil meredam kepanikan pasar dalam jangka pendek. Namun, sejumlah risiko yang sebelumnya menekan pasar dinilai masih belum sepenuhnya mereda.
“Reli ini berhasil menghentikan kepanikan pasar untuk sementara. Namun faktor-faktor seperti arus keluar dana asing, meningkatnya sovereign risk premium, dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal masih menjadi tantangan yang harus diperhatikan,” ujar Liza dilansir dari Antara.
Menurutnya, secara teknikal pergerakan IHSG akan menghadapi area resistensi terdekat di kisaran 5.900, sementara level 5.550 menjadi area penopang (support) yang perlu dijaga.
Pemulihan pasar saham domestik didorong sejumlah kebijakan yang dianggap mampu meningkatkan kepercayaan investor.
Salah satunya adalah pertemuan pemerintah dengan para direktur utama badan usaha milik negara (BUMN) yang mendorong aksi pembelian kembali atau buyback saham guna memperkuat stabilitas pasar modal.
Selain itu, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen turut mendapat respons positif dari pelaku pasar.
Langkah tersebut dilakukan di luar jadwal rapat reguler setelah Bank Indonesia mengakui pelemahan nilai tukar rupiah berlangsung lebih cepat dan lebih dalam dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Kebijakan moneter yang lebih agresif itu dinilai mampu memberikan sinyal kuat bahwa otoritas siap menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan nasional.
Di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi domestik, Prabowo Subianto Presiden RI juga menerima laporan rutin dari Dewan Ekonomi Nasional yang dipimpin oleh Luhut Binsar Pandjaitan.
Laporan tersebut mencakup perkembangan ekonomi nasional, evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), percepatan integrasi GovTech berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga potensi dampak ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Sentimen domestik juga dipengaruhi kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026.
Harga Pertamax (RON 92) resmi naik sekitar 32 persen menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Sementara Pertamax Green 95 meningkat 31,7 persen menjadi Rp17.000 per liter dari Rp12.900 per liter.
Penyesuaian tersebut dilakukan seiring lonjakan harga minyak mentah dunia, meskipun pemerintah memastikan harga Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan.
Dari pasar internasional, perhatian investor tertuju pada meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Sebelumnya, optimisme sempat muncul setelah Iran dan Israel menghentikan serangan pada awal pekan. Bahkan Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) menyatakan, proses kesepakatan nuklir Iran memasuki tahap akhir.
Namun, harapan tersebut kembali memudar setelah muncul laporan mengenai insiden militer di kawasan Selat Hormuz yang memicu eskalasi baru dan meningkatkan ketidakpastian pasar global.
Selain perkembangan geopolitik, investor juga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat, yakni Consumer Price Index (CPI) Mei 2026 dan Producer Price Index (PPI), yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Pasar saat ini memperkirakan peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama semakin besar setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan kondisi ekonomi yang masih kuat dan harga energi terus meningkat. (ant/saf/ipg)




