Ujian Krusial Benteng Pangan RI

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah kian loyo dan harga sejumlah pangan dunia tengah naik, sehingga berpotensi memicu kenaikan harga pangan impor di dalam negeri. El Nino juga sudah mulai menerpa, sehingga berisiko menyusutkan produksi pangan. Ketiganya menjadi ujian krusial bagi kekokohan benteng pangan Indonesia.

Sejak 4 Juni 2026, nilai tukar rupiah tembus Rp 18.000 per dolar AS atau berada di titik terendahnya sepanjang sejarah. Secara tahun kalender berjalan, depresiasi rupiah itu tercatat hampir mencapai 8 persen.

Beriringan dengan itu, harga sejumlah pangan dunia cenderung merangkak naik. Data Harga Komoditas Bank Dunia (The Pink Sheet) yang dirilis pada 2 Juni 2026 menunjukkan, pada Mei 2026, harga gandum dunia sudah tembus 303 dolar AS per ton, gula 0,34 dolar AS per ton, dan kedelai 474 dolar AS per ton.

Padahal, selama ini, Indonesia sangat bergantung pada impor ketiga komoditas itu. Pada 2025, misalnya, Indonesia mengimpor gula sebanyak 3,93 juta ton, gandum 11,76 juta ton, dan kedelai 2,56 juta ton.

Di tengah kondisi itu, El Nino lemah sudah mulai melanda. Dalam beberapa bulan ke depan, El Nino tersebut berpotensi bergerak menuju moderat dan kuat. Bahkan, sebelum intensitas El Nino itu berkambang menjadi moderat dan kuat produksi beras nasional diramal turun.

Saat ini, El Nino lemah itu tengah bergerak menjadi El Nino moderat dan berpotensi menjadi El Nino kuat dengan peluang intensitas masing-masing sebesar 98 persen dan 62 persen.

Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indra Gustari, Rabu (10/6/2026), mengatakan, pada akhir Mei 2026, anomali suhu hangat di bawah permukaan Samudera Pasifik bagian barat hingga tengah terus menguat dan bergerak menuju Pasifik Timur. Ini menjadi tanda bahwa El Nino sudah terbentuk atau terjadi.

Artinya, sejak akhir Mei 2026, Indonesia sudah memasuki El Nino dengan intensitas lemah. Saat ini, El Nino lemah itu tengah bergerak menjadi El Nino moderat dan berpotensi menjadi El Nino kuat dengan peluang intensitas masing-masing sebesar 98 persen dan 62 persen.

“Pergerakan atau perkembangan EL Nino tersebut diperkirakan berlangsung pada Juni 2026 hingga awal Januari 2027,” katanya dalam webinar “Menjaga Produksi Pangan Saat El Nino Datang” yang digelar SINTA TV di Jakarta.

Kala El Nino lemah mulai melanda, produksi beras nasional justru diramal turun. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Padi Amatan April 2026, BPS memperkirakan produksi beras nasional pada Januari-Juli 2026 sebesar 21,95 juta ton atau turun 0,35 persen dibandingkan dengan Januari-Juli 2025 yang sebanyak 22,03 juta ton.

Baca JugaPangan dalam Cengkeraman Perang dan Cuaca Ekstrem

Penurunan produksi beras itu berpotensi mengerek harga beras. Ingat, pada Mei 2026, inflasi bulanan dan tahunan beras di tingkat eceran masing-masing sebesar 0,39 persen dan 4,55 persen. Per 9 Juni 2026, harga rerata beras medium nasional senilai Rp 13.766 per kilogram (kg), naik 0,23 persen secara bulanan.

Harga kedelai impor, tepung terigu, dan gula rafinasi di dalam negeri juga merangkak naik. Merujuk data Sistem Pemantuan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, per 9 Juni 2026, harga rerata nasional kedelai impor senilai Rp 13.710 per kg, naik 0,88 persen secara bulanan.

Dalam perbandingan yang sama, harga rerata nasional tepung terigu juga naik sebesar 0,31 persen menjadi Rp 12.525 per kg. Sementara harga gula rafinasi sudah naik sekitar 10 persen atau bergerak di kisaran Rp 11.000-Rp 12.500 per kg (Kompas, 5/6/2026).

Memperkokoh benteng pangan

Pemerintah telah menggulirkan sejumlah kebijakan dan strategi untuk mengatasi dan mengantisipasi sejumlah tantangan tersebut. Hal itu mulai dari pemberian subsidi kedelai impor, menambah bantuan pangan berupa beras, hingga pompanisasi, mengonservasi air, dan memberantas hama.

Pemerintah bakal menggulirkan subsidi untuk 250.000 ton kedelai impor yang menjadi bahan baku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tahu dan tempe. Besaran subsidi itu senilai Rp 2.000 per kg.

Baca JugaIndonesia Tertekan Kenaikan Harga Pangan Dunia dan Depresiasi Rupiah

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan yang kerap disapa sebagai Zulhas, Selasa (9/6/2026), mengatakan, pemerintah bakal menggulirkan subsidi untuk 250.000 ton kedelai impor yang menjadi bahan baku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tahu dan tempe. Besaran subsidi itu senilai Rp 2.000 per kg.

Kebijakan itu telah diputuskan dalam Rapat Koordinasi Pangan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Kebijakan tersebut guna menjaga stabilisasi harga kedelai bahan baku UMKM, serta harga tempe dan tahu di tingkat konsumen.

“Mekanisme pemberian subsidi akan diatur lebih lanjut bersama kementerian terkait dan Bulog," ujar menteri yang kerap disapa sebagai Zulhas melalui siaran pers.

Baca JugaSana-sini Inflasi

Zulhas mengungkapkan, pemerintah juga memutuskan menambah bantuan pangan berupa beras selama tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September 2026. Bantuan pangan itu ditujukan bagi 33,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM).

Setiap KPM akan menerima 10 kg beras per bulan mulai Juli 2026. Program tersebut diproyeksikan menyerap sekitar 1 juta ton cadangan beras pemerintah yang berfungsi sebagai bantalan sosial untuk melindungi kelompok masyarakat paling rentan dari dampak fluktuasi harga pangan.

"Indonesia sudah mulai memasuki musim kemarau. Untuk itu, bantuan beras itu diberikan sebagai bantalan sosial sekaligus langkah antisipasi menghadapi musim kemarau dan potensi gejolak harga," katanya.

Sementara itu, di tengah ancaman EL Nino, Kementerian Pertanian (Kementan) bakal menambah target produksi beras nasional pada 2026 sebesar 1 juta ton. Kementan juga telah menggulirkan sejumlah startegi untuk memitigasi dampak kemarau panjang akibat El Nino.

Sementara Sekretaris Jenderal Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan Dhani Gartina menuturkan, produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,69 juta ton atau naik 13,29 persen secara tahunan. Pada 2026, produksi beras ditargetkan meningkat 1 juta ton untuk memenuhi tambahan stok untuk ekspor.

“Tahun ini, kami menargetkan produksi beras nasional dapat meningkat minimal menjadi 35,69 juta ton. Kami ingin mempertahankan dan bahkan meningkatkan capaian apik produksi beras tahun lalu,” tuturnya.

Baca JugaEl Nino Belum Datang, Produksi Beras Sudah Berkurang

Menurut Dhani, untuk mengantisipasi dampak musim kemarau, Kementan menggulirkan sejumlah strategi khusus di sektor pengairan atau irigasi. Pertama, pengembangan irigasi perpompaan dengan sumur-sumur bor berbasis listrik, termasuk tenaga surya.

Kedua, irigasi perpipaan. Salah satunya dengan memanfaatkan sumber-sumber air pegunungan yang dialirkan ke lahan pertanian melalui pipa-pipa berbasis tenaga gravitasi bumi.

Ketiga, lanjut Dhani, mendirikan dan memperbaiki bangunan-bangunan konservasi antisipasi anomali iklim. Beberapa upayanya adalah membangun bangunan irigasi bertekanan, embung, dan dam parit, serta menormalisasi saluran irigasi.

Keempat, Kementan juga menyediakan pompa portable. Pompa tersebut mudah digerakkan atau dipindah-pindahkan ke titik-titik yang memerlukan pengairan.

“Pada 2026, kami akan menambah distribusi irigasi perpompaan menjadi 15.000 unit, irigasi perpipaan 3.000 unit, dan bangunan konservasi 3.000 unit,” katanya.

Baca JugaKemarau Kering Ancam Lumbung Pangan Jatim, Mitigasi Air Jadi Penentu

Sementara terkait dengan hama dan penyakit, Kementan menyebutkan sejumlah hama utama yang sangat berpotensi menyerang tanaman pada musim kemarau. Beberapa hama dan penyakit itu adalah wereng batang cokelat (WBC), penggerek batang padi, ulat grayak, tikus, layu fusarium, hawar daun bakteri, dan busuk akar.

Untuk mengendalikan hama dan penyakit itu, Kementan menerapkan tiga strategi, yakni pengelolaan hama terpadu, sistem monitoring organisme pengganggu tanaman (OPT) skala luas, dan pemodelan peramalan OPT. Konkretnya mencakup penerapan sanitasi lahan, pengaturan pengairan, pengendalian hayati dan fisik, pemupukan berimbang, dan peringatan dini serangan OPT.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Karyawan di Dairi Pakai Uang Perusahaan Rp297 Juta untuk Judol, Lapor Polisi Mengaku Dibegal
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Gagal Nyalip Bus, Pemotor Tewas Tertabrak Mobil di Ciampea Bogor
• 8 jam laludetik.com
thumb
Ketika Guru Berhenti Percaya pada Muridnya
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo: Gue Nongol di Washington, Gue Nggak Nongol di Moskow? Nggak Bisa
• 2 jam laludetik.com
thumb
Kapolri Respons Rencana Demo Besar Mahasiswa, Aksi Tetap Kondusif
• 42 menit laluliputan6.com
Berhasil disimpan.