Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto meninjau program bantuan sosial bedah rumah di Desa Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (10/6).
Dalam tinjauannya, Agus menjelaskan bahwa material rumah yang digunakan merupakan hasil produksi warga binaan Lapas Kelas I Tangerang. Sementara proses pembangunan rumah di Sukabumi juga melibatkan warga binaan Lapas Kelas IIA Warungkiara dengan pendampingan tukang.
“Bahan ini, bahannya buatan dari warga binaan di Lapas Kelas I Tangerang,” kata Agus kepada wartawan.
Saat memastikan keterlibatan warga binaan dalam pembangunan rumah, Agus bertanya kepada Kepala Lapas Kelas IIA Warungkiara Kurnia Panji Pamekas.
“Apakah warga binaan?” tanya Agus.
“Warga binaan Pak, dibantu sama tukang,” jawab Kurnia.
Agus kemudian memastikan bahwa warga binaan yang terlibat dalam pembangunan tersebut mendapatkan premi atau upah atas pekerjaan yang mereka lakukan.
“Pak Kalapas melibatkan warga binaan. Dapat premi kan?” ujar Agus.
“Dapat Pak, dapat Pak,” jawab Kurnia.
Dalam kesempatan itu, Agus juga mengapresiasi kecepatan pembangunan rumah yang dinilai efisien. Lima unit rumah dapat diselesaikan hanya dalam waktu 19 hari.
“19 hari sudah bisa selesaikan 5 unit rumah. Ini artinya kan kecepatan waktunya, kemudian bahan yang mungkin relatif terjangkau, ini bisa menghasilkan rumah yang layak untuk masyarakat,” ucap Agus.
Menurut Agus, program bedah rumah tersebut merupakan bentuk kontribusi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan terhadap berbagai program pemerintah, sekaligus upaya memanfaatkan hasil pembinaan kemandirian warga binaan agar memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Lebih lanjut Agus menjelaskan, pembangunan rumah di Sukabumi dibiayai dari sisa dana hasil program ketahanan pangan yang dijalankan jajaran pemasyarakatan di seluruh Indonesia. Dana tersebut sebelumnya dialokasikan untuk kegiatan sosial setelah panen raya yang digelar pada 15 Januari 2026.
“Hasil daripada ketahanan pangan yang kita laksanakan di seluruh Indonesia, kemudian kesepakatannya waktu itu hasilnya untuk bakti sosial,” kata Agus.
Dalam kesempatan yang sama, Agus berharap program tersebut dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.
“Mudah-mudahan (bisa menjangkau), mohon doa restu,” ujarnya.
Selain menjadi bantuan bagi warga kurang mampu, Agus menilai keterlibatan warga binaan dalam pembangunan rumah juga menjadi bagian dari proses pembinaan yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian sosial.
“Kalau mereka kita perlakukan sebagai manusia, saya rasa mereka akan menerima juga pelayanan-pelayanan,” ucapnya.





