Jakarta: Perguruan tinggi dinilai dapat menjadi aktor utama dalam mengubah perilaku masyarakat. Khususnya terkait pengelolaan sampah berkelanjutan.
"Kami ingin membangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari kampus dan dijalankan bersama pelaku industri serta komunitas,” kata Kepala Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Bakrie, Aqil Azizi, melalui keterangan tertulis, dikutip dari Media Indonesia, Rabu, 10 Juni 2026.
Menurut dia, kampus bertanggung jawab mengubah kesadaran lingkungan menjadi aksi nyata yang konsisten. Ini menjadi langkah konkret bagi gerakan positif institusi pendidikan.
“Sebagai institusi pendidikan, kami percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten," ucap Aqil.
Aqil mengatakan untuk mendukung kegiatan ini, Universitas Bakrie meluncurkan kampanye kolaboratif bertajuk “Waste Wise Campus: Dari Kampus untuk Bumi”. Kampanye ini hasil kolaborasi bersama Green Movement Indonesia dan sejumlah mitra industri, seperti Indofood, Nutrifood, Tetra Pak, serta Sido Muncul.
Baca Juga: Bangun Kultur Baru, DLH DKI Genjot Gerakan Pilah Sampah dari Hulu
Kepala Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Bakrie, Aqil Azizi (tengah). Dok. Istimewa
Sebagai aksi nyata, kampus menyediakan Dropbox Sampah Kemasan (DSK) untuk mempermudah digitalisasi pemilahan sampah daur ulang. Selain itu, mahasiswa dilibatkan aktif lewat program Waste Wise Podcast, kompetisi konten kreatif, hingga permainan edukatif berbasis ekonomi sirkular.
"Kampus tidak hanya menjadi tempat lahirnya gagasan, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan kebiasaan yang dapat memberikan dampak positif,” ujar Head of Corporate Public Relations PT Indofood Sukses Makmur, Andrew Ferdinand Hallatu.
Founder Green Movement Indonesia, Tasya Kamila, meyakini kekuatan mahasiswa mampu menjadi motor penggerak perubahan yang berdampak luas, khususnya hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
"Memilah sampah mungkin terlihat sebagai tindakan sederhana, tetapi dari kebiasaan sederhana itulah perubahan besar dimulai. Ketika generasi muda, kampus, industri, dan komunitas bergerak bersama, kita menciptakan budaya peduli lingkungan yang dapat bertahan dalam jangka panjang,” ucap Tasya.




