Menyoal Kesiapan Bahasa Perancis dan Portugis Wajib di Sekolah

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

DALAM lawatan ke Perancis, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kepada Presiden Emmanuel Macron bahwa dirinya telah menginstruksikan pengajaran bahasa Perancis di semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia.

Sebelumnya, Presiden juga pernah menyampaikan gagasan serupa terkait bahasa Portugis sebagai mata pelajaran prioritas.

Pernyataan tersebut segera memunculkan beragam respons publik. Sebagian melihatnya sebagai langkah diplomasi untuk memperkuat hubungan internasional Indonesia.

Sebagian lainnya mempertanyakan urgensi dan kesiapan implementasinya.

Anggota DPR, akademisi, dan pengamat pendidikan pun mulai mengingatkan bahwa kebijakan bahasa tidak dapat dirancang hanya berdasarkan pertimbangan diplomatik, tetapi juga harus mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, kapasitas sekolah, dan kesiapan sistem pendidikan secara keseluruhan.

Lagi pula keberhasilan kebijakan bahasa asing tidak ditentukan oleh keputusan politik semata.

Baca juga: John Herdman dan Seni Meruntuhkan Kutukan Tiga Dekade

Hal ini sangat bisa dipahami bahwa efektivitas pembelajaran bahasa asing sangat bergantung pada kualitas kurikulum, kompetensi guru, ketersediaan sumber belajar, dan relevansi bahasa tersebut dengan kebutuhan peserta didik.

Tanpa dukungan faktor-faktor tersebut, penambahan mata pelajaran baru berisiko hanya menjadi beban administratif yang tidak menghasilkan kompetensi berbahasa yang nyata.

Karena itu, jika pemerintah benar-benar ingin mengimplementasikan kebijakan tersebut, setidaknya terdapat beberapa prasyarat mendasar yang harus dipenuhi.

Beberapa Prasyarat

Pertama, penyusunan kurikulum yang matang dan berbasis riset.

Setidaknya butuh waktu satu hingga dua tahun persiapan penyusunan kurikulum bahasa Perancis dan Portugis sampai benar-benar siap diterapkan.

Dalam waktu tersebut diperlukan riset mendalam terkait misalnya tujuan pembelajaran dan materi ajar yang benar-benar dibutuhkan untuk tujuan komunikasi.

Hal ini dapat dipahami karena tujuan pembelajaran bahasa asing tidak hanya mengajarkan tata bahasa dan kosakata.

Sejak lama, kajian pendidikan bahasa telah bergerak melampaui pendekatan struktural yang hanya menekankan hafalan aturan bahasa.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Canale dan Swain (1980) dalam Theoretical bases of communicative approaches to second language teaching and testing menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran bahasa harus mengembangkan kompetensi komunikatif yang mencakup empat aspek utama: kompetensi gramatikal, kompetensi sosiolinguistik, kompetensi wacana, dan kompetensi strategis.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tangis Lansia dan Rencana Rusun Prajurit di Balik Eksekusi Rumah Dinas di Lenteng Agung
• 9 jam lalukompas.com
thumb
43 Tahun Suara Surabaya, Khataman Al-Qur’an Jadi Wujud Syukur dan Doa Bersama
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Harga Terbaru BBM Pertamina 10 Juni 2026, Pertamax dan Pertamax Green Jadi Segini
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BI Siapkan 5 Langkah Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Gejolak Global
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
PLN Ungkap Penyebab Listrik di Depok dan Sekitarnya Padam: Gangguan PLTGU Jawa 1
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.