JAKARTA, KOMPAS – Pasar keuangan Indonesia menunjukkan tren positif menyusul pengumuman kenaikan suku bunga acuan. Di sisi lain, pasar turut mencermati rencana pembelian kembali atau buyback dari emiten-eminten perbankan. Namun, tren penguatan ini diperkirakan bertahan dalam jangka pendek.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama, Rabu (10/6/2026), ditutup menguat 2,39 persen ke level 5.884,07. Pergerakan ini terutama ditopang oleh saham-saham di sektor teknologi, transportasi, dan keuangan.
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menguat pada pergadangan hari. Mengutip data Bloomberg, rupiah menguat 0,52 persen dibanding penutupan sebelumnya ke level Rp 17.964 per dolar AS.
Analis pasar saham MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan, penguatan IHSG pada sesi pertama ini didorong oleh emiten-emiten berkapitalisasi besar, seperti perbankan dan emiten konglomerasi.
“Untuk sentimen, kami perkirakan didukung oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat menguat,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Adapun penguatan nilai tukar rupiah ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen pada Selasa (9/6/2026). Kebijakan ini diambil lantaran pelemahan rupiah terus terjadi hingga di luar perkiraan.
Herditya menambahkan, katalis positif juga datang dari rencana pembelian kembali alias buyback saham oleh emiten-emiten perbankan pelat merah. Rencana tersebut mencuat saat para direktur Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) bertemu dengan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad pada Selasa.
“Dari sisi teknikal, kami mencermati penguatannya (IHSG) akan cenderung terbatas untuk 6.256 dan best case 6.545. Jadi, perkiraan (penguatannya) akan bersifat jangka pendek,” ujarnya.
Kenaikan suku bunga BI yang tidak terduga menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar masih menjadi perhatian utama, yang dapat terus memberikan tekanan pada aset berisiko dan biaya pendanaan.
Sementara itu, Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi, dalam analisisnya, berpendapat, sentimen pasar Indonesia membaik utamanya didukung oleh tren pembalikan (rebound) dari saham-saham bank BUMN dan fundamental perbankan yang tetap solid.
Menurut dia, sentimen pasar berpotensi tetap positif dalam jangka pendek, apabila penguatan IHSG terus berlanjut dan mampu menarik kembali kepercyaaan investor. Penguatan ini terutama pada saham-saham perbankan yang berkapitalisasi besar serta aktivitas penawaran umum perdana (IPO).
“Namun, kenaikan suku bunga BI yang tidak terduga menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar masih menjadi perhatian utama, yang dapat terus memberikan tekanan pada aset berisiko dan biaya pendanaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, investor turut akan mencermati laporan keuangan Danantara Indonesia yang dijadwalkan terbit setelah rangkaian Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BUMN selesai. Hal ini akan menjadi ujian penting terhadap transparansi dan tata kelola perusahaan.
Di sisi lain, industri perbankan menyambut baik keputusan BI yang kembali mengerek naik suku bunga acuannya. Dalam hal ini, bank juga akan teurs mencermati kondisi pasar dan likuiditas dalam melakukan penyesuaian suku bunga.
Direktur Finance & Strategy PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Novita Widya Anggraini mengatakan, kenaikan suku bunga sebesar 25 bps mencerminkan ketegasan bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan dinamika eksternal.
“Stabilitas yang terjaga merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan aktivitas ekonomi, kepercayaan pelaku usaha dan masyarakat, serta penciptaan ruang pertumbuhan yang sehat dalam jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Lebih lanjut, Bank Mandiri akan terus memperkuat ekosistem rantai pasok dan meningkatkan kapabilitas digital guna mendukung kebutuhan masyarakat serta aktivitas usaha. Setiap penyesuaian suku bunga, baik simpanan maupun kredit akan dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasar, likuiditas, serta pengelolaan risiko.
Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn menambahkan, BCA akan terus mencermati perkembangan suku bunga acuan ke depan, parameter makroekonomi lainnya, potensi risiko, kondisi likuiditas sektor perbankan dan pasar yang dipengaruhi faktor permintaan dan penawaran.
“Seiring dengan itu, BCA senantiasa mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan ekspansi kredit yang sehat,” katanya.
Di sisi lain, BCA akan terus memperhatikan tingkat suku bunga kredit pada level yang dapat diterima pasar dan memperhatikan daya beli masyarakat. Ke depan, penyaluran kredit juga mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko yang disiplin.





