AI dan Skill Gap Jadi Ujian Baru Dunia Usaha

wartaekonomi.co.id
3 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Bandung -

Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) menyoroti tantangan besar yang dihadapi dunia kerja Indonesia, mulai dari kesenjangan keterampilan (skill gap), percepatan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga tuntutan menghadirkan kepemimpinan yang mampu beradaptasi di tengah perubahan yang berlangsung cepat.

Isu tersebut mengemuka dalam HCM Talks Series ke-6 bertajuk "Navigating Talent, Technology and Future of Work through Human Capital" yang diselenggarakan SBM ITB bekerja sama dengan Perkumpulan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM) Indonesia dan Asosiasi Perusahaan Recruitment dan Executive Search Indonesia (APRESI) di Kampus SBM ITB.

Forum tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, serta asosiasi profesi untuk membahas peluang dan tantangan pengelolaan sumber daya manusia dalam menghadapi masa depan dunia kerja.

Wakil Dekan Bidang Sumber Daya SBM ITB, Prof. Donald Crestofel Lantu, menegaskan bahwa kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem talenta nasional yang berdaya saing.

Menurutnya, perguruan tinggi berperan mencetak talenta melalui pendidikan, APRESI menjembatani kebutuhan pasar tenaga kerja, sedangkan PMSM menjadi wadah pengembangan para praktisi sumber daya manusia di berbagai organisasi.

"Jangan pernah menghilangkan faktor manusia. Gunakan teknologi sebagai pendukung dan teruslah menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu menavigasi perubahan dengan nilai dan tujuan yang jelas," ujar Donald, Selasa (9/6/2026) 

Ketua PMSM Indonesia sekaligus Chief People Officer Tiket.com, Dudi Arisandi, menyatakan PMSM terus memperkuat pengembangan Human Capital melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan dunia pendidikan, industri, dan asosiasi profesi.

Sebagai organisasi yang telah berdiri lebih dari 46 tahun, PMSM terus mendorong peningkatan kompetensi talenta Indonesia melalui berbagai program pengembangan dan jejaring profesional.

Sementara itu, Chairman APRESI sekaligus CEO Recruit Asia, Ricky Mulani, menilai teknologi belum mampu menggantikan seluruh aspek penilaian manusia dalam proses rekrutmen.

Menurutnya, pemahaman terhadap karakter, potensi, dan kecocokan kandidat dengan budaya organisasi tetap membutuhkan sentuhan manusia.

Pada sesi keynote speech, Ketua Senat SBM ITB sekaligus Chair of the People and Knowledge Management Interest Group SBM ITB, Prof. Dr. Henndy Ginting, memaparkan tiga dinamika utama yang saat ini membentuk masa depan dunia kerja.

Ketiga dinamika tersebut meliputi akselerasi digital dan AI, perubahan ekspektasi tenaga kerja, serta transformasi fungsi Human Capital dari peran administratif menjadi mitra strategis organisasi. Ia menegaskan bahwa masa depan dunia kerja bukan tentang menggantikan manusia dengan teknologi.

MeNurutnya, organisasi justru perlu mengintegrasikan kemampuan manusia dan teknologi agar saling melengkapi melalui konsep Kepemimpinan Paripurna atau Omni-Leadership.

Diskusi kemudian berlanjut pada tiga sesi panel yang mengupas pasar talenta Indonesia, masa depan dunia kerja, hingga pemanfaatan teknologi Human Capital.

Dalam sesi bertajuk "Indonesia Talent Market 2026: From Hiring to Strategic Talent Management in a Competitive Market", Director of the Center for Policy and Public Management SBM ITB, Yudo Anggoro, mengingatkan bahwa pengelolaan talenta tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekonomi nasional.

Perlambatan ekonomi, melemahnya kelas menengah, serta tantangan pada sektor manufaktur dinilai memengaruhi dinamika pasar tenaga kerja Indonesia.

Dari sisi industri rekrutmen, Founder dan Managing Director Talent Hunts Indonesia sekaligus General Treasurer dan Head of Learning Development APRESI, Bagus Hendrayono, menilai kesenjangan keterampilan masih menjadi persoalan mendasar.

Ia mengatakan jumlah tenaga kerja yang besar belum otomatis memenuhi kebutuhan perusahaan.

"Masalah terbesar kita bukan soal jumlah talenta. Yang menjadi tantangan adalah apakah keterampilan yang dimiliki kandidat benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan," jelas Bagus.

Pada sesi kedua bertema "Future of Work: Redesigning Work, Workforce, and Workplace", Assistant Professor SBM ITB, Muhammad Yorga Permana, menyebut perkembangan AI membawa manfaat sekaligus tantangan baru bagi organisasi.

AI mampu meningkatkan produktivitas, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai masa depan pekerjaan, model kepemimpinan, serta kompetensi yang harus dimiliki tenaga kerja.

Chief of Human Resources & Corporate Services PT Asuransi Jiwa Sequis Life sekaligus Treasury PMSM Indonesia, Agustina Samara, menambahkan bahwa daya adaptasi manusia menjadi kunci menghadapi perubahan.

"Future of work bukan lagi soal teknologi semata, tetapi bagaimana kita sebagai manusia memiliki relevansi dan growth mindset untuk menghadapi perubahan," ungkap Agustina.

Adapun sesi ketiga bertajuk "Human Capital Technology: Leveraging HR Tech for Organizational Transformation" menyoroti pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sumber daya manusia.

Associate Professor SBM ITB, Achmad Ghazali, menekankan pentingnya penggunaan teknologi untuk memperkuat pengambilan keputusan berbasis data, bukan sekadar meningkatkan efisiensi administratif.

Sementara itu, Assistant Professor SBM ITB, Dr. rer. pol. Fajar Hendarman, menilai digital mindset dan kemauan belajar secara berkelanjutan menjadi fondasi penting dalam transformasi digital.

Executive Vice President Human Capital Strategy & Talent Management PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sekaligus Head of Learning & Development Department PMSM Indonesia, Suryo Sasono, mengingatkan perusahaan agar tidak terburu-buru mengadopsi teknologi tanpa memahami akar persoalan yang ingin diselesaikan.

"Kadang-kadang kita terlalu cepat ingin menggunakan teknologi. Padahal yang perlu kita lakukan terlebih dahulu adalah memahami masalah yang ingin diselesaikan," ujarnya.

Melalui HCM Talks Series #6, SBM ITB, PMSM Indonesia, dan APRESI menegaskan bahwa tantangan Human Capital tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi. Organisasi juga harus menyiapkan talenta yang relevan, menghadirkan kepemimpinan adaptif, serta memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan asosiasi profesi untuk menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang lebih kompetitif di tengah perubahan dunia kerja.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rupiah Menguat ke Rp17.900 per Dolar AS, Didukung Kenaikan BBM dan BI-Rate
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pasutri di Bekasi Nekat Edarkan Sabu, Begini Nasibnya
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Serangan Pakistan Tewaskan 13 Orang di Afghanistan, Termasuk 11 Anak-anak
• 32 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Dedi Mulyadi Soal Pesta Gay di Karawang, Minta Bupati Ambil Tindakan & Pembinaan
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Pramono Buka Suara Soal Subsidi Transjabodetabek, Persilakan Daerah Penyangga Ikut Patungan
• 6 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.