Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Prof. dr. Taruna Ikrar, M. Biomed., MD., Ph.D., meresmikan Laboratorium Farmakologi PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) di Semarang, Selasa (9/6).
Peresmian dilakukan dengan penandatanganan prasasti oleh Kepala BPOM dan dilanjutkan pengguntingan pita bersama Direktur Utama Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr. Zulfachmi Wahab, Sp.PD, Subsp. H.Onk.M. (K), FINASIM, serta Wakil Bupati Kabupaten Semarang, Dra. Hj. Nur Arifah.
Dengan adanya laboratorium ini, kata Irwan, masyarakat tidak perlu risau lagi soal keamanan produk-produk Sido Muncul karena semuanya telah diproses secara terstandarisasi dan berbasis penelitian.
Dalam sambutannya, Irwan menyebut bahwa latar belakang pendirian laboratorium farmakologi Sido Muncul salah satunya didasari oleh berita hoaks yang beredar di media sosial, terutama seputar minuman berenergi. Padahal, bila dikonsumsi sesuai anjuran, minuman energi seperti Kuku Bima dapat membantu meningkatkan performa tubuh.
"Energy drink itu juga pasti aman lah. Kalau enggak aman kan enggak dapat izin dari BPOM. Makanya saya membuat ini (uji di laboratorium farmakologi) supaya masyarakat itu percaya, semua yang dikeluarkan dari Badan POM itu pasti aman dan tidak mungkin Badan POM mengeluarkan tidak aman," kata Irwan.
"Kami melakukan banyak sekali kegiatan penelitian. Salah satu yang membuat kami itu risau yaitu produk-produk yang baik yang mendapat izin dari BPOM tapi kadang-kadang kalah sama media sosial. Jadi kayak tolak angin, sudah dapat dapat obat-obatan terstandar. Kami melakukan uji toksisitas, uji khasiat. Masih saja kena. Dibuat TikTok, dimasukin di X, nanti apa lagi gitu," tambahnya.
Keberadaan laboratorium farmakologi menjadi bentuk nyata komitmen Sido Muncul untuk memberikan produk-produk yang aman di masyarakat. Irwan menjelaskan, setiap produk Sido Muncul telah melalui uji quality control sesuai dengan aturan BPOM.
Mulai dari tes aflatoksin, tes cemaran mikroba, tes logam berat, tes pupuk dan pestisida, dan tes DNA (bebas bahan haram) untuk memastikan bahwa produk aman digunakan. Selain itu, produk Sido Muncul juga telah mendapatkan sertifikasi halal MUI, HACCP, GMP, dan ISO.
"Yang penting itu bukti. Kami bisa melakukannya dengan tidak melanggar peraturan, kami dapat bukti produk kami itu baik atau tidak baik, yang penting kami tahu. Maka itu laboratorium ini ya saya buat untuk kami bisa membuktikan kalau terjadi sesuatu kami bisa membantah," tegas Irwan.
Pada 2002, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang dipimpin oleh Apt. Ipang Djunarko, M.Sc., juga telah melakukan penelitian terkait manfaat Tolak Angin. Hasilnya menunjukkan bahwa Tolak Angin terbukti aman dikonsumsi selama 8,4 tahun, selama sesuai dengan dosis yang ditentukan.
Tak hanya itu, Sido Muncul terus melakukan terobosan pada produknya. Pada 2007, Sido Muncul melakukan uji khasiat Tolak Angin Cair bersama Lembaga Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang di bawah pimpinan Prof. dr. Edi Dharmana, M.Sc., Ph.D. Hasilnya, Tolak Angin dapat meningkatkan fungsi fagositosis makrofag dan jumlah sel T.
Selain itu, laboratorium ini merupakan langkah awal bagi Sido Muncul untuk menciptakan ide-ide baru di industri herbal dan jamu modern. Apalagi laboratorium ini digawangi oleh ahli farmasi, dokter, serta menggandeng beberapa institusi pendidikan ternama seperti Universitas Diponegoro dan Universitas Sanata Dharma.
"Saya sudah punya ide banyak. Saya juga nanti sudah janji mau kerja sama sama BPOM untuk kemajuan jamu di Indonesia," kata Irwan.
Pada sambutannya, Taruna pun memuji keberadaan laboratorium farmakologi milik Sido Muncul. Ia mengatakan, laboratorium ini merupakan lompatan besar di industri jamu modern.
"Hanya sedikit perusahaan atau industri herbal di dunia yang memiliki laboratorium farmakologi. Namun di antara yang sedikit itu Sido Muncul memilikinya. Tentu ini menjadi kebanggaan kita semua sebagai ikon produk Indonesia di dunia internasional," ujar Taruna.
Ia pun angkat bicara terkait banyaknya hoaks mengenai minuman energi yang beredar di masyarakat. Taruna menegaskan, sepanjang produk makanan, minuman, herbal dan obat obatan sudah memiliki izin edar maka produknya aman, termasuk Kuku Bima dan produk-produk lain Sido Muncul.
"Jadi kami BPOM memastikan bahwa semua produk yang dikeluarkan oleh Sido Muncul ataupun yang sudah terdistribusi pasti memiliki cek klik. Pertama cek kemasannya, kemudian cek labelnya, izin edarnya dan masa kadaluarsanya. Jika semuanya itu sudah dipenuhi, maka produk-produk itu dipastikan aman karena sudah ada jaminan dari lembaga negara untuk itu," jelasnya.
Setiap pengujian produk, kata Taruna, pasti dilakukan dengan serangkaian proses bertingkat dan Sido Muncul telah melakukan proses tersebut dengan tertib. Ia mengimbau agar masyarakat tidak mudah termakan berita hoaks yang beredar di media sosial belakangan ini.
"Ya, tentu apa yang sudah memiliki izin edar dari BPOM aman, karena di BPOM kan melalui proses bertingkat mulai dari unit pelaksana teknis kita di daerah, kemudian masuk ke deputian terkait, terus sebelumnya itu masuk ke tim kerja, direktorat akhirnya dievaluasi, akhirnya disahkan. Jadi semua yang telah memiliki nomor izin edar tentu adalah aman," tegas dia.
"Jadi partisipasi masyarakat kita perlu arahkan karena kita tidak bisa pungkiri ada banyak hoaks. Oleh karena itu, ada peraturan Peraturan Badan POM untuk partisipasi masyarakat. Peraturan itu mempertegas jika ada sesuatu yang bertentangan dengan undang ITE, maka dia akan mendapat tuntutan. Jadi tidak bebas sebebas-bebas melainkan bebas bertanggung jawab," lanjutnya.
Taruna berharap, keberadaan laboratorium farmakologi Sido Muncul dapat jadi tempat untuk melahirkan riset, inovasi dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan tentang herbal di Indonesia.
"Kami menyambut dengan bahagia dan mendukung secara maksimal agar ini menjadi Center of Excellence di dunia. Bisa bekerja sama dengan kampus seperti Unpad, UGM karena ada 31 ribu jenis tumbuhan herbal yang memiliki potensi dengan yang nilai ekonominya 350 triliun ini bisa dimaksimalkan," jelas Taruna.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr. Zulfachmi Wahab, menegaskan pemerintah provinsi Jawa Tengah menyambut baik laboratorium farmakologi pertama di Jawa Tengah.
"Kehadiran laboratorium ini akan mempercepat proses hilirisasi riset obat tradisional. Kita ingin melihat lebih banyak produk herbal asli Jawa Tengah naik kelas, dari jamu empiris menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT), dan puncaknya menjadi Fitofarmaka yang diakui serta diresepkan oleh dunia kedokteran formal," ucap Zulfachmi.
Ia berpesan agar laboratorium ini juga terbuka untuk mahasiswa, dosen dan para peneliti. Sehingga, ada kolaborasi antara akademisi, industri dan pemerintah dapat terjalin dan menciptakan dampak positif.
"Sinergi Triple Helix antara akademisi (riset dasar), industri (pengembangan dan hilirisasi), serta pemerintah (regulasi dan fasilitasi) adalah kunci utama utama untuk mencapai kemandirian bahan baku obat nasional dan mengurangi ketergantungan impor farmasi," pungkasnya.





