Kenaikan harga BBM Pertamax bagi sopir mobil rental seperti Agus (43) seperti ombak yang tak bisa dilawan. Sopir di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, itu mau tak mau menaikkan tarif kepada pelanggan.
“Tetep saja ngikut apa maunya pemerintah soal harga BBM. Kita teriak-teriak gak ada fungsinya juga sih,” keluhnya, dihubungi dari Balikpapan, Rabu (10/6/2026).
Agus menyediakan jasa rental mobil sekaligus mengemudikannya di sekitar Kalimantan Timur. Pengguna jasanya mulai dari perusahaan, pemerintah, peneliti, jurnalis, turis, sampai keluarga.
Untuk jasa perjalanan sehari penuh berkeliling ke berbagai tempat di Ibu Kota Nusantara, misalnya, ia mematok harga Rp 1,5 juta. Harga itu sudah termasuk bensin. Ia rata-rata mengeluarkan biaya Rp 300.000-Rp 500.000 belanja BBM Pertalite dalam sehari.
Namun, jika melayani peneliti yang berkeliling ke banyak tempat, ia kerap kehabisan kuota pengisian BBM bersubsidi 50 liter per hari. Jika demikian, ia mau tak mau mengisi BBM nonsubsidi jenis Pertamax.
Sebelumnya, harga Pertamax 92 di Kalimantan Timur Rp 12.600 per liter. Mulai 10 Juni 2026, Pertamina Patra Niaga mengumumkan harga Pertamax 92 di Kaltim naik Rp 4.050 menjadi Rp 16.650 per liter.
Dengan harga sebelumnya, Agus masih bisa menyiasati dengan mengisi Pertamax maksimal Rp 200.000 saja. Keesokan harinya, ia bangun lebih awal untuk mengisi BBM subsidi sampai tangki penuh sebelum melanjutkan pelayanan.
“Kalau sekarang, saya masih mikir, apakah mungkin nanti kalau kuota BBM subsidi habis, pelanggan yang menanggung Pertamax-nya? Bingung,” ujar Agus, yang cemas antrean panjang bakal terjadi di pompa bensin Pertalite.
Dari lima provinsi di Kalimantan, harga Pertamax paling tinggi tercatat di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara. Pertamax 92 di sana tembus Rp 17.000 per liter.
Marlia (69), pemilik warung kelontong di Balikpapan, khawatir kenaikan BBM jenis Pertamax ini bikin seluruh harga pokok melambung. Baru-baru ini, ia sudah mengeluarkan uang lebih untuk berbelanja barang dagangan.
Harga satu kardus mi instan yang sebelumnya Rp 115.000 naik menjadi Rp 120.000. Ia berencana untuk belanja stok barang dagangan lusa.
“Kalau semuanya naik, kami jadi mengeluarkan uang lebih untuk belanja. Harga jual jadi naik. Takutnya pelanggan malah beli ke supermarket yang lebih murah,” kata nenek yang kerap dipanggil Oma Marlia itu.
Aldy (27), sopir ojek daring di Balikpapan, sesekali mengisi BBM jenis Pertamax untuk menjaga kesehatan mesin motornya. Naiknya harga BBM ini membuatnya akan sepenuhnya menggunakan Pertalite.
“Tapi khawatir juga nanti antrian jadi panjang di pom bensin atau stok cepat habis. Pasti banyak yang pindah ke Pertalite,” kata pria asal Toraja, Sulawesi Selatan itu.
Dari pantauan Kompas di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jalan MT Haryono dan kawasan Gunung Guntur, Balikpapan, belum ada antrian panjang.
Manajer SPBU 64.761.17 Gunung Guntur Balikpapan Randy Faisal menyebut pesanan stok BBM subsidi dan non-subsidi masih sesuai dengan belanja harian sebelumnya. “Antrian pun masih terlihat normal,” katanya.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Al Izzati dan tim dari SMERU Research Institute pernah menganalisis dampak kenaikan BBM pada 2022 di Indonesia. Analisis itu terbit dengan judul Estimating the Effect of a Fuel Price Increase on Poverty and Inequality: Evidence from a Fuel Subsidy Reduction in Indonesia.
Seperti halnya kenaikan harga BBM sebelumnya, penyesuaian harga BBM pada tahun tersebut dapat memicu kenaikan inflasi tahunan. Terutama pada sektor transportasi, harga barang, dan jasa.
Sementara itu Sekretaris Eksekutif Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Rio Priambodo berpendapat pengumuman kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan secara mendadak.
Menurutnya, perubahan harga seharusnya disampaikan lebih transparan. Konsumen, lanjut dia, perlu diberi waktu yang cukup untuk menyesuaikan keputusan ekonominya.
"YLKI mendorong adanya standar pemberitahuan yang lebih transparan dan terukur untuk setiap penyesuaian harga yang berdampak luas terhadap masyarakat, sehingga hak konsumen atas informasi dapat terlindungi dengan lebih baik," ucapnya (Kompas, 10/6/2026).
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan, penyesuaian harga dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah. Ia memastikan seluruh prosedur sudah sesuai dengan regulasi dan tata kelola energi dalam negeri.
“Dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian," kata Roberth dalam keterangan tertulis.
Kekhawatiran Agus bisa jadi dirasakan banyak warga lain di Indonesia. Kebingungan, meski pada akhirnya pasrah melihat harga BBM yang sudah terlanjur naik.





