Emiten jasa perawatan pesawat PT Garuda Maintenance Facility Aero Tbk (GMFI) mengandalkan bisnis perawatan berat atau heavy maintenance dan sektor pertahanan demi menjaga pertumbuhan pendapatan di tengah gejolak geopolitik. Hal itu dilakukan seiring potensi konflik global meningkatkan harga avtur dan menekan kinerja maskapai pesawat yang berimbas pada bisnis GMFI.
Adapun GMFI adalah anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang berfokus pada bisnis jasa perawatan, reparasi dan overhaul MRO (maintenance, repair and overhaul) pesawat.
Direktur Utama GMFI, Andi Fahrurrozi mengatakan, kenaikan harga avtur akan berdampak langsung kepada maskapai sebagai pelanggan utama perusahaan. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi sejumlah segmen bisnis maintenance yang bergantung pada frekuensi penerbangan.
Sebelumnya, harga avtur sempat mengalami lonjakan signifikan akibat ketegangan geopolitik. Namun harga avtur telah resmi diturunkan oleh Pertamina di seluruh bandara Indonesia.
“Avtur akan berhubungan langsung dengan airlines, di mana airlines itu merupakan pelanggan kami. Jadi strategi yang dilakukan oleh airlines untuk menghadapi kenaikan avtur ini pasti akan berimbas kepada MRO,” kata Andi dalam paparan publik GMFI secara virtual, Rabu (10/6).
Menurut dia, dampak paling langsung akan dirasakan pada segmen line maintenance. Ketika maskapai mengurangi frekuensi penerbangan untuk menekan biaya operasional, pendapatan dari layanan tersebut juga berpotensi tertekan.
“Kalau line maintenance ketika frekuensi turun, otomatis memang akan berdampak pada pendapatan. Itu akan terpengaruh langsung memang tadi efek avtur,” ujarnya.
Namun, Andi menilai kenaikan harga avtur tidak akan terlalu memengaruhi bisnis perawatan berat seperti engine shop, component shop maupun airframe maintenance. Sebab, pekerjaan perawatan tersebut umumnya telah direncanakan pelanggan satu hingga dua tahun sebelumnya.
Dia menjelaskan, kontrak-kontrak perawatan mesin, komponen dan airframe yang saat ini dikerjakan GMFI merupakan hasil perencanaan pelanggan sejak tahun lalu. Selain itu, jadwal perawatan dan slot pengerjaan di fasilitas MRO juga telah ditetapkan jauh hari.
“Kontrak-kontrak yang kita dapatkan untuk airframe dan komponen engine maintenance tetap berjalan. Karena itu sudah mereka planning dari tahun lalu dan schedule-nya mendapatkan slot di MRO adalah tahun ini,” kata Andi.
Menurut dia, apabila pelanggan tidak memanfaatkan slot perawatan yang telah tersedia, GMFI masih memiliki pelanggan lain yang siap menggunakan kapasitas tersebut.
Karena itu, perseroan akan terus memperkuat fokus pada segmen base maintenance atau airframe, komponen, engine maintenance, serta bisnis MRO untuk sektor pemerintah dan pertahanan.
Ia menilai kebutuhan perawatan pesawat sektor pertahanan relatif lebih stabil dibandingkan penerbangan komersial, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global saat ini.
Untuk memperkuat bisnis ke depan, GMFI menyiapkan lima inisiatif strategis utama. Pertama, ekspansi fasilitas Pondok Cabe yang telah mulai beroperasi pada Juni 2026 untuk meningkatkan kapasitas perawatan pesawat narrow body dan turboprop guna memenuhi permintaan pasar domestik.
Kedua, ekspansi ke Timur Tengah melalui fasilitas hanggar yang dioperasikan bersama mitra lokal. Perseroan memperkirakan inisiatif tersebut dapat menghasilkan pendapatan sekitar US$ 16 juta tahun ini dengan potensi pertumbuhan 2,5 hingga 3,5 kali dalam tiga tahun ke depan.
Ketiga, pengembangan Aerospace Park bersama Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang akan difokuskan sebagai pusat ekosistem bisnis defense dan MRO terbesar di Indonesia. Ke depan, bisnis government dan defense MRO GMFI akan beroperasi di kawasan tersebut.
Keempat, pengembangan proyek aerostructure sebagai langkah diversifikasi menuju industri manufaktur kedirgantaraan yang mendukung ekosistem industri nasional maupun industri penerbangan global.
Adapun yang kelima yaitu ekspansi hanggar di Cengkareng untuk memperkuat kapasitas perusahaan dalam menangkap pertumbuhan permintaan MRO regional.
Direktur Keuangan GMFI, Tri Hartono mengatakan, seluruh inisiatif tersebut dirancang untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang.
Menurut dia, GMFI saat ini berada dalam posisi yang kuat untuk memanfaatkan pertumbuhan industri penerbangan dan MRO yang terus berkembang. Perseroan juga terus memperkuat diversifikasi bisnis, ekspansi yang terukur, serta pengelolaan risiko yang disiplin.
“Kami akan terus fokus pada peningkatan profitabilitas, penguatan portofolio bisnis, serta penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham,” ujar Tri.
GMFI juga optimistis dapat mencapai target pendapatan tahun ini. Perseroan menilai prospek industri MRO masih sangat menjanjikan seiring fenomena MRO supercycle global yang didorong oleh tingginya utilisasi armada dan penuaan pesawat di berbagai negara.
Upaya Menaikkan Free Float mencapai 15%Terkait pemenuhan ketentuan peningkatan porsi saham publik (free float) menjadi 15%, Andi menyatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah opsi strategis. Hingga Rabu (10/6), porsi saham publik GMFI tercatat sebesar 6,52% dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 6,24 triliun.
Andi mengatakan perseroan telah mengkaji dua skema utama untuk memenuhi ketentuan tersebut. Opsi pertama adalah pelepasan sebagian saham oleh pemegang saham eksisting kepada publik. Adapun opsi kedua dilakukan melalui penerbitan saham baru atau rights issue.
Menurut Andi, perseroan akan terus berkoordinasi dengan para pemegang saham utama, termasuk GIAA dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk menentukan langkah yang paling tepat.
“Kami akan intens berdiskusi dengan pemegang saham kami, baik dengan Garuda maupun dengan Danantara terkait langkah apa yang akan kami lakukan,” ujar Andi.
Ia mengatakan, perseroan telah menyiapkan rencana untuk mengantisipasi tenggat waktu pemenuhan aturan free float yang berlaku mulai Maret 2027. Salah satu opsi yang paling memungkinkan adalah rights issue untuk meningkatkan porsi kepemilikan publik sesuai ketentuan regulator.




