Pekerja migran asal Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sri Titik Azizah (41), sempat hilang ingatan atau amnesia. Dia hanya mengetahui rumahnya berada di Kabupaten Jepara. Namun, tak mengetahui lokasi persis kediamannya.
"Bu Sri lupa lokasi rumahnya. Dia hanya ingat Kabupaten Jepara saja. Beliau tidak tahu nama desa dan kecamatannya," kata Kepala Desa Kepuk, Sawi, kepada kumparan, Rabu (10/6).
Sri lalu mendapatkan terapi dari psikolog untuk memulihkan kembali kondisi psikisnya.
"Selama di Yordania, Bu Sri diterapi dengan psikolog sampai berangsur pulih," terang Sawi.
Sri setibanya di rumah di Jepara pada Minggu (7/6) mengalami kelelahan. Selain itu, menurut Sawi, Sri masih bingung lantaran tidak dapat membawa hak-haknya selama bekerja sebagai pekerja migran.
Sawi menyampaikan, Sri saat ini sudah bisa diajak berkomunikasi. Sementara itu, terkait kabar adanya penyiksaan dari majikannya selama bekerja di luar negeri, Sawi tidak mengetahui secara pasti.
"Beliau masih bingung karena haknya tidak bisa dibawa karena surat-surat resmi beliau seperti paspor dan yang lainnya sudah tidak ada," ucapnya.
17 Tahun Hilang Kontak
Selama 17 tahun lamanya Sri hilang kontak. Proses kepulangannya ke Tanah Air begitu panjang.
Sri merupakan warga RT 3, RW 6, Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara.D ia tiba di kampung halamannya pada Minggu (7/6).
Sri Titik Azizah awalnya berangkat ke Arab Saudi pada 2009. Ia berangkat secara resmi lengkap dengan beragam persyaratan sebagai pekerja migran.
Selama bekerja di negara tujuan pertamanya, ia mengaku kerap mengalami kekerasan verbal dari majikannya. Setiap ada pekerjaan yang tidak beres, ia langsung dimarahi.
Tidak kuat menghadapi perlakuan majikannya, ia akhirnya memutuskan kabur. Dalam masa pelarian, ia bertemu dengan sesama PMI yang kemudian membantunya mendapatkan pekerjaan baru di Yordania pada 2011.
Akan tetapi, harapannya mendapatkan perlakuan yang lebih baik saat bekerja di Yordania hingga 2025 tidak terwujud. Sri mengaku mengalami perlakuan yang lebih buruk. Ia beberapa kali dikurung di kamar saat mencoba melarikan diri.
Hingga akhirnya ada kesempatan kabur, Sri langsung pergi ke KBRI Amman.
Sri berada di bawah perlindungan KBRI Amman sejak 2025. Selama berada di sana, Sri mendapatkan pendampingan hingga akhirnya bisa kembali ke Indonesia.





