JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan harga BBM jenis Pertamax dan Pertamax Green yang mulai diterapkan mulai Rabu (10/6/2026) membuat para karyawan di Jabodetabek mulai memikirkan opsi naik kendaraan umum untuk menghemat ongkos sehari-hari.
Opsi tersebut dipikirkan karyawan yang tidak ingin beralih menggunakan BBM jenis lain.
Adi (28), karyawan swasta yang tinggal di Depok dan bekerja di Jakarta, sedang menimbang untuk naik transportasi umum setelah harga Pertamax naik.
Baca juga: Pertamax Tembus Rp 16.250, Warga Beralih atau Bertahan?
"Saya mempertimbangkan menggunakan transportasi umum kalau memang ternyata masih terjangkau pakai transportasi umum," ujar Adi kepada Kompas.com pada Rabu.
Sehari-hari, ia berangkat ke kantor naik motor matic dengan kapasitas 110 cc yang memakai BBM jenis Pertamax.
Adi sebenarnya dia tidak kaget dengan kenaikan harga BBM yang tiba-tiba karena harga minyak dunia semakin tinggi.
Namun, ia menyayangkan kenaikan harga BBM jenis Pertamax nominalnya cukup besar dan memberatkan.
"Tentunya cukup merasa terbebani buat saya yang sehari-hari ke tempat kerja menggunakan motor," tutur Adi.
"Biasanya kalau isi bensin Rp 30.000 bisa dapat dua liter lebih, tapi kini mungkin isi kalau mau isi Rp 30.000 hanya dua liter kurang," jelas dia.
Meski begitu, Adi tidak akan beralih menggunakan BBM jenis Pertalite dalam waktu dekat ini.
Baca juga: Dilema Warga Usai Harga Pertamax Naik: Ogah Pakai BBM Subsidi, tapi Budget Pas-pasan
Adi tetap akan menggunakan Pertamax untuk menjaga mesin motornya lebih sehat.
Menurutnya, lebih baik berhemat untuk pengeluaran lain dan tetap memakai Pertamax daripada berganti ke Pertalite.
"Daripada motornya nanti harus sering servis ke bengkel. Kecuali dalam kondisi darurat saya kehabisan bensin dan adanya hanya Pertalite ya," tutur Adi.
Ia juga akan memangkas jatah uang saku untuk membeli kopi harian dan menghemat anggaran untuk hobi.