HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Diplomasi parlementer kini menjadi instrumen vital dalam memperkuat hubungan internasional di tengah kompleksitas global yang melibatkan perdagangan, teknologi, energi, migrasi, dan keamanan. Pendekatan ini menonjol karena mampu membangun kepercayaan dan legitimasi demokrasi yang berkelanjutan antarnegara, tidak hanya melalui diplomasi tradisional pemerintah.
Antoine Ripoll, Minister Counsellor for Parliamentary Affairs Delegasi Uni Eropa untuk ASEAN, menegaskan bahwa Parlemen Eropa merupakan institusi utama yang dipilih langsung oleh warga negara anggota setiap lima tahun. Parlemen ini memiliki peran sentral dalam legislasi, pengawasan, dan pengelolaan anggaran, sehingga menjadi pilar penting tata kelola demokrasi Uni Eropa.
“Dalam dunia yang semakin kompleks, diplomasi parlementer memiliki keunggulan karena mampu menjembatani komunikasi antara para wakil rakyat, akademisi, masyarakat sipil, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Pendekatan ini sering kali lebih fleksibel dibandingkan diplomasi formal pemerintah sehingga efektif dalam membangun hubungan jangka panjang dan memperkuat rasa saling percaya antarnegara,” jelas Ripoll.
Ripoll memaparkan bahwa hubungan Uni Eropa dengan ASEAN menjadi contoh nyata implementasi diplomasi parlementer yang terus berkembang. Melalui keberadaan ASEAN Antenna di Jakarta dan program kerja sama di bidang perdagangan, keamanan, transformasi digital, serta pembangunan berkelanjutan, kedua kawasan memperkuat kemitraan strategis yang saling menguntungkan.
Parlemen Eropa juga berperan aktif sebagai aktor diplomasi melalui persetujuan perjanjian internasional, dialog antarparlemen, observasi pemilu, dan forum kerja sama lainnya yang berbasis nilai demokrasi, supremasi hukum, hak asasi manusia, inklusivitas, dan pembangunan berkelanjutan.
Kuliah umum bertajuk “Parliamentary Diplomacy as Practiced by the European Parliament and Its Implementation in Indonesia and Southeast Asia” digelar di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada Rabu (10/06). Acara ini menghadirkan Antoine Ripoll sebagai narasumber utama dan diselenggarakan oleh Kantor Urusan Internasional Unhas.
Prof. dr. Muh. Nasrum Massi, Ph.D., Sp.MK(K)., Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Unhas, mewakili Rektor Unhas menyampaikan bahwa diplomasi parlementer penting dipahami oleh sivitas akademika sebagai bagian dari persiapan generasi masa depan yang mampu menjawab tantangan global.
“Pemahaman mengenai diplomasi dan kerja sama global menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan masa depan. Melalui forum akademik seperti ini, kita tidak hanya belajar tentang hubungan internasional, tetapi juga tentang bagaimana memperkuat demokrasi dan berkontribusi bagi perdamaian dunia,” beber Prof Nasrum. (*/)





