JAKARTA - Penghulu memiliki posisi penting dalam ekosistem pelayanan umat. Oleh karena itu, penguatan kapasitas penghulu tidak dapat dilepaskan dari transformasi KUA sebagai simpul layanan keagamaan dan pembangunan masyarakat.
“Kenapa kita berkumpul dan mengumpulkan penghulu dalam pelatihan ini? Karena jabatan kita ditugaskan sebagai mitra strategis, sebagai pelayan umat sekaligus mitra strategis umat,” ujar Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, saat short course penguatan kapasitas penghulu, dikutip, Rabu (10/6/2026).
Kegiatan ini kata dia, menjadi ruang penyegaran kapasitas penghulu agar lebih siap menghadapi dinamika layanan umat. Peserta dibekali materi kepenghuluan, bahasa asing, fikih munakahat klasik-kontemporer, komunikasi lintas budaya, dan literasi digital.
“Umat yang kita layani terus berubah. Karena itu, penghulu harus memperbarui pengetahuan dan keterampilan agar layanan KUA semakin relevan,” jelasnya.
“KUA hari ini tidak lagi dipahami sebagai kantor urusan asmara. KUA bertransformasi menjadi simpul ekosistem pembangunan,” imbuhnya.
Menurutnya, KUA memiliki posisi strategis karena hadir langsung di tengah masyarakat melalui penghulu, penyuluh, dan petugas layanan lainnya. Kedekatan itu membuat KUA dapat menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata masyarakat.
“KUA menjadi melting pot, tempat semua urusan bertemu. Melalui aktor pelayanan yang dimilikinya, KUA berhubungan langsung dengan masyarakat,” ungkapnya.
Zayadi menilai penghulu menjadi salah satu aktor penting dalam mendukung agenda pembangunan keluarga. Hal ini karena penghulu berinteraksi langsung dengan calon pengantin, keluarga, dan komunitas masyarakat sejak hulu.
“Isu KB tidak akan sesukses ini jika tidak melibatkan penghulu. Pak Menteri Agama menyampaikan, Kepala KUA sejatinya adalah menteri tingkat wilayah,” ujarnya.




