Ringkasan Berita
- Harga kedelai impor naik dari sekitar Rp10.500 menjadi Rp12.000 per kilogram.
- Pengrajin tempe di Kota Kediri mulai menaikkan harga jual produk.
- Kenaikan harga dinilai belum berdampak besar bagi produsen skala besar.
- Pengrajin berharap harga kedelai kembali turun untuk menjaga keuntungan usaha.
Kediri (beritajatim.com) – Harga kedelai impor naik dalam dua hari terakhir dan mulai dirasakan para pengrajin tempe di Kota Kediri. Kenaikan harga bahan baku dari sekitar Rp10.500 menjadi Rp12.000 per kilogram membuat sebagian pelaku usaha menyesuaikan harga jual tempe demi menjaga kelangsungan produksi.
Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Mahmudi (39), pengrajin tempe asal Desa Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, yang telah menjalankan usaha tempe sejak 2012.
Harga Tempe Ikut Naik
Mahmudi mengaku terpaksa menaikkan harga jual tempe setelah harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama mengalami kenaikan.
Untuk tempe bungkus daun, harga kini dipatok Rp13.000 per kilogram. Sedangkan tempe kemasan plastik dijual Rp15.000 per kilogram.
“Harga kemarin pertama masuk 12.000 itu harga kedelai di bawah 10.000, sekarang di atas, saya naikkan jadi Rp13.000,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Penyesuaian harga tersebut dilakukan agar usaha tetap berjalan di tengah meningkatnya biaya produksi.
Produksi Skala Besar Dinilai Lebih Tahan
Meski harga bahan baku naik, Mahmudi mengaku dampaknya belum terlalu signifikan terhadap volume produksi yang dijalankannya.
Menurutnya, pengrajin dengan kapasitas produksi besar relatif lebih mampu menyerap kenaikan biaya dibanding usaha berskala kecil.
“Kalau dari dampak, produksi yang kecil itu terasa. Kalau saya kan produksinya banyak, jadinya enggak begitu ngaruh,” katanya.
Saat ini, selain memasok kebutuhan pasar tradisional, Mahmudi juga menjadi pemasok bahan baku untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pernah Menghadapi Harga Kedelai Lebih Tinggi
Mahmudi menilai kenaikan harga kedelai saat ini masih tergolong wajar jika dibandingkan kondisi beberapa tahun lalu.
Ia mengingat kembali periode ketika harga kedelai sempat menyentuh Rp15.000 per kilogram. Saat itu, pelaku usaha juga melakukan penyesuaian harga jual dan masyarakat pada akhirnya dapat menerima kondisi tersebut.
“Harga kedelai naik-naik sampai 15.000, terus saya naikin jadi Rp4.000, masyarakat sudah menikmati biasa. Dan berjalannya waktu saya kira itu biasa. Cuma awalan aja,” katanya.
Menurutnya, konsumen biasanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap perubahan harga sebelum kembali melakukan pembelian secara normal.
Keuntungan Tetap Terpengaruh
Kendati produksi masih berjalan stabil, Mahmudi tidak menampik bahwa fluktuasi harga kedelai berpengaruh langsung terhadap margin keuntungan usaha.
Semakin tinggi harga bahan baku, semakin kecil keuntungan yang diperoleh pengrajin apabila harga jual tidak dapat dinaikkan secara proporsional.
Karena itu, ia berharap harga kedelai impor dapat kembali turun dalam waktu dekat sehingga pelaku usaha memperoleh ruang keuntungan yang lebih baik.
“Jadi kalau misalnya harga kedelai turun, keuntungannya lebih besar. Harapannya kedelai turun lah. Kalau harga kedelai Rp8.000 bisa buat ngjioli sing kemarin,” ucapnya.
Tantangan Industri Tempe di Tengah Fluktuasi Harga
Kenaikan harga kedelai impor menjadi perhatian pelaku usaha tempe karena bahan baku tersebut masih menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi.
Perubahan harga di pasar internasional maupun faktor pasokan sering kali berdampak langsung pada industri tempe dan tahu di berbagai daerah, termasuk Kota Kediri.
Meski demikian, para pengrajin berharap stabilitas harga dapat kembali terjaga agar usaha tetap berkembang, pasokan kebutuhan masyarakat terpenuhi, dan kemitraan dengan berbagai sektor, termasuk program pemenuhan gizi masyarakat, dapat terus berjalan dengan baik. [nm/kun]




