Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan AS akan menyerang Iran dengan sangat keras jika kesepakatan damai tidak tercapai.
IDXChannel - Harga minyak ditutup naik pada Rabu (11/6/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan AS akan menyerang Iran dengan sangat keras jika kesepakatan damai tidak tercapai.
Minyak mentah Brent ditutup pada USD93,10 per barel, menguat 1,8 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir di USD90,03 per barel, meningkat 2 persen.
Kedua kontrak sempat melonjak sekitar USD3 pada perdagangan sore setelah Trump kembali menegaskan Iran akan diserang lagi menyusul aksi saling serang semalam, yang menjadi salah satu bentrokan paling signifikan sejak gencatan senjata pada April.
Namun, harga memangkas sebagian kenaikan menjelang penutupan perdagangan setelah Trump mengatakan militer AS diam-diam mengawal kapal-kapal yang membawa lebih dari 100 juta barel minyak melewati Selat Hormuz.
Konsumsi minyak global saat ini mencapai sekitar 100 juta barel per hari. Trump mengklaim operasi tersebut membantu menahan kenaikan harga minyak.
Kepada wartawan di Gedung Putih, ia mengatakan harga minyak mentah seharusnya bisa mencapai USD250 per barel, bukan berada di kisaran USD85 hingga USD90 per barel saat ini.
Pernyataan itu disampaikan setelah Trump menulis di Truth Social bahwa Teheran harus “membayar harganya” karena dianggap memperlambat proses negosiasi menuju kesepakatan damai.
“Harga minyak telah beralih dari kecemasan ke sikap acuh tak acuh, lalu kembali lagi ke kecemasan seiring memanasnya kembali bentrokan antara AS dan Iran,” kata Analis Senior di Price Futures Group Phil Flynn, dikutip Reuters.
Harga minyak juga mendapat dukungan dari data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang menunjukkan persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam turun tajam pekan lalu karena kilang berupaya menutup kekurangan pasokan akibat perang.
EIA melaporkan stok minyak mentah AS turun 7,2 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni, jauh lebih besar dibandingkan penurunan 4 juta barel yang diperkirakan analis dalam jajak pendapat Reuters.
Data tersebut juga menunjukkan cadangan minyak dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS berada pada level terendah sejak Agustus 2023.
Secara terpisah, Departemen Energi AS pada Rabu menyatakan tengah menyiapkan pinjaman hingga 40 juta barel minyak mentah dari SPR kepada perusahaan energi guna membantu menekan harga bahan bakar.
Militer AS sebelumnya menyerang target-target Iran setelah Trump pada Selasa berjanji akan membalas penembakan jatuh helikopter serang Apache milik AS.
Militer AS juga melancarkan serangan “presisi” terhadap sebuah kapal di Teluk Oman pada Rabu setelah kapal tersebut disebut mengabaikan instruksi militer AS dan mengangkut minyak dari Iran. Di sisi lain, India melaporkan tiga awak kapalnya hilang setelah serangan tersebut.
“Meski upaya diplomatik masih berlangsung, aksi militer terbaru kembali menghadirkan premi risiko geopolitik ke pasar minyak,” ujar Analis Pasar Senior di Phillip Nova Priyanka Sachdeva. (Aldo Fernando)





