Dengan menempatkan masyarakat sebagai pusat perubahan yang menyeimbangkan aspek ekonomi dan ekologi secara bersamaan, Program Sustainable Living Village (SLV) hadir sebagai model baru pembangunan desa berkelanjutan.
SLV mencoba menjawab tantangan klasik di sektor sawit dimana peningkatan kesejahteraan petani tidak selamanya berarti perluasan lahan yang berpotensi merusak lingkungan.
SLV merupakan bagian komitmen keberlanjutan rantai pasok yang dijalankan oleh Apical Group melalui prinsip NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation). Pendekatan ini tidak hanya menitikberatkan pada produksi di hilir, tetapi juga memastikan praktik berkelanjutan terjadi sejak di hulu, tidak terkecuali petani swadaya yang menjadi bagian ekosistem pasokan.
"Apical berada di industri pengolahan minyak nabati dimana rantai pasok merupakan elemen krusial operasi yang perlu dijaga aspek keberlanjutannya.," ujar Manager Corporate Social Responsibility Apical Sugiantoro, kepada detikcom Rabu (15/4/2026).
Menurut Sugiantoro, model SLV juga dikembangkan dengan pendekatan komoditas yang disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah. Selain di Aceh Singkil, program serupa juga dijalankan di Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim), melalui pengembangan kakao sebagai alternatif penghidupan masyarakat berbasis potensi lokal.
Di Aceh Singkil, SLV diwujudkan melalui budidaya madu trigona sebagai alternatif penghidupan masyarakat di sekitar kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Leuser, khususnya di kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.
"Produksi madu ini tidak membutuhkan pembukaan lahan baru, proses budidaya dilakukan dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang ada. Lebah trigona juga aman karena tidak menyengat dan sebagaimana lebah umumnya, Lebah Trigona juga membantu proses penyerbukan tanaman sekitar," jelas Sugiantoro.
Merasakan perbaikan pendapatan melalui budidaya ini, masyarakat tampak mulai mengurangi ketergantungan dari hasil sawit dan mulai meninggalkan kebiasaan lama berburu madu alam.
Dalam enam bulan terakhir, enam kelompok binaan tercatat menghasilkan sekitar 279 liter madu trigona dengan nilai penjualan lebih dari Rp 80 juta yang dibagikan kepada 61 penerima manfaat sesuai hasil produksi masing-masing. Pendekatan ini turut mendorong praktik ekonomi yang lebih tertata sekaligus mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan.
"Budidaya madu dipilih karena masyarakat sudah terbiasa dengan aktivitas mencari madu yang selama ini dilakukan di dalam hutan. Madu Trigona kami perkenalkan agar mereka bisa budidayakan di sekitar tempat tinggal tanpa harus masuk hutan," ungkap Sugiantoro.
Kolaborasi Multipihak
Program SLV dijalankan melalui kolaborasi multipihak antara Apical Group, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Forum Konservasi Leuser (FKL), serta Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil.
Kolaborasi multipihak ini menjadi fondasi tata kelola lanskap yang lebih baik dan inklusif, khususnya bagi petani swadaya, melalui pelatihan praktik perkebunan sawit berkelanjutan, penguatan kelompok tani, hingga pendampingan untuk mendorong legalitas lahan dan penerbitan Surat Tanda Daftar Budidaya (S-TDB).
Hingga kini, sekitar 1.000 petani telah mendapatkan pelatihan praktik perkebunan yang baik (Good Agricultural Practices) dan lebih dari 800 STDB telah diterbitkan bagi petani swadaya. Program ini juga mendorong petani menuju sertifikasi keberlanjutan agar rantai pasok memenuhi standar pasar global.
Program Manager IDH Anne Fadilla Rachmi menjelaskan bahwa IDH tidak hanya berperan sebagai penghubung antar pemangku kepentingan, tetapi juga sebagai mitra yang memastikan desain program berjalan secara strategis, terukur, dan berorientasi pada dampak jangka panjang.
"Di tingkat program, kami membantu Apical dalam merancang dan memberikan dukungan pembiayaan agar SLV dapat dijalankan dengan semangat kolaboratif. Perbaikan lanskap tidak bisa dilakukan per proyek, tetapi harus dilihat sebagai tata kelola secara utuh," kata Anne.
"IDH mendorong para pihak untuk bersama-sama mencapai tujuan tersebut," sambungnya.
Sejalan dengan pendekatan tersebut, SLV merupakan bagian dari kerangka program National Initiatives for Sustainable & Climate Smart Oil Palm Smallholders (NISCOPS) yang didukung oleh pemerintah Belanda dan Inggris, yang penerapannya juga dilakukan di berbagai negara lain seperti Malaysia, India, Nigeria, serta Kolombia.
Dampak Nyata di Lapangan
Program SLV di Aceh Singkil melibatkan 6 kelompok dari 6 desa yang terdiri dari 61 petani. Salah satunya adalah Khaidir (30), warga Desa Teluk Rumbia yang juga Ketua Kelompok Madu Rumbia di Kecamatan Singkil. Ia bergabung dalam program budidaya madu trigona sejak 2023.
Meski diawali dengan perasaan ragu, Khaidir tekun mendalami budidaya madu yang hingga saat ini, kelompoknya telah mengelola 267 stup lebah dengan produksi sekitar 47 liter madu yang memberikan penghasilan tambahan sekitar Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu per bulan untuk setiap anggota kelompok.
Dari hasil itu, Khaidir memanfaatkannya sebagai tambahan pemasukan untuk biaya sekolah anak dan memperbaiki rumahnya secara bertahap. Khaidir juga merasakan kebanggaan tersendiri di kala mendapatkan kesempatan bertemu dengan banyak kalangan untuk memasarkan produknya.
"Alhamdulillah bisa juga sekolahkan anak, bisa juga bikin rumah sikit-sikit (sedikit-sedikit). Bisa pergi ke satu tempat, suatu kebanggaan lah. Bisa jumpa dengan orang penting, pejabat, masarkan (memasarkan))madunya," tuturnya.
Selain keterampilan teknis, Khaidir dan kelompoknya juga dibekali pembelajaran teknik budidaya madu trigona dan strategi pemasaran melalui program studi banding ke Danau Sentarum, Kalimantan Barat (Kalbar).
Keterlibatan berbagai pihak dalam program SLV didasari oleh kesamaan visi antara penguatan ekonomi masyarakat dan upaya konservasi di Aceh Singkil yang merupakan salah satu habitat penting orangutan Sumatera.
"Alasan YEL bersedia menjadi mitra pelaksana SLV di Singkil adalah kesamaan visi menjaga ekosistem. Terutama di Singkil dimana terdapat Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang merupakan konservasi kritikal untuk orangutan," ujar Direktur Konservasi YEL M Yakob Ishadamy.
Yakob mengungkapkan desain SLV memiliki irisan dengan tujuan konservasi yang selama ini dijalankan oleh YEL. Program ini dinilai mampu membuka peluang partisipasi ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan tanpa merusak habitat penting.
Kolaborasi YEL dengan Apical bermula dari pengalaman kerja sama sebelumnya di Aceh Tamiang terkait responsible sourcing.Perluasan kerjasama ke wilayah Aceh Singkil untuk memperkuat praktik kelapa sawit berkelanjutan melalui program SLV.
"Program ini penting karena industri sawit diharuskan untuk memenuhi berbagai standar kepatuhan di tingkat global terutama dalam aspek kepatuhan rantai pasok," ujar Yakob.
Menjembatani Industri, Konservasi, dan Komunitas
Dinamika kepentingan antara industri, konservasi, dan komunitas merupakan hal lumrah dalam perjalanan program. Menurut Yakob, semua pihak perlu mencari titik temu dimana di situlah kolaborasi multipihak memainkan peran.
Pendekatan tersebut kemudian menjadi model bagi industri dalam memastikan rantai pasok berkelanjutan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Bagi petani kecil, hak atas ruang, kepastian lahan, dan kepastian pasar merupakan persoalan yang paling sering muncul. SLV memberikan pendampingan untuk mendorong masyarakat untuk lebih paham terkait legalitas lahan sehingga dapat memperkuat posisi mereka di masa depan.
Bagi industri, seperti Apical, peningkatan legalitas dan sertifikasi tersebut menjadi jaminan bahwa rantai pasok memenuhi salah satu aspek kepatuhan pasar global.
"Model seperti ini bisa menjadi best practice karena tidak hanya pada compliance dan regulasi, tetapi juga memastikan masyarakat menjadi bagian yang inklusif dalam kolaborasi yang terintegrasi," ujarnya.
Yakob tidak menampik bahwa pada masa lalu banyak lembaga konservasi memandang sawit sebagai ancaman bagi lingkungan. Namun, setelah dipelajari lebih jauh, persoalan utama bukan pada komoditas sawit, melainkan pada tata kelola di tingkat lanskap yang belum memenuhi standar.
Ke depan, program SLV diharapkan dapat terus diperluas ke wilayah lain dengan pendekatan komunitas lokal yang berbeda. Model kolaborasi multipihak ini diyakini dapat menciptakan keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan masyarakat, keberlanjutan industri sawit, dan perlindungan lingkungan.
(prf/ega)





