Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika sebuah gedung runtuh akibat bom, mata kita biasanya tertuju pada ledakan itu. Kita melihat api, asap, dan puing-puing. Kita melihat korban berlarian. Kita melihat ambulans datang dan pergi.
- Dunia Mengutuk, Dunia Memasok
- Rel Pertama, Palang Terakhir
- Atlas Baru Kerajaan Hormon
Tetapi ledakan hanyalah bab terakhir dari sebuah cerita yang jauh lebih panjang. Sebelum sebuah bom meledak di Gaza, ada orang yang merancangnya. Ada pabrik yang membuat komponennya. Ada perusahaan yang mengirimkannya. Ada negara yang mengizinkan ekspornya. Ada kapal yang mengangkutnya. Ada pelabuhan yang menerimanya.
Dengan kata lain, setiap ledakan memiliki riwayat hidup. Itulah yang dicoba ditelusuri oleh investigasi panjang Al-Jazeera.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Setelah membongkar jutaan data impor militer Israel, mereka tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak senjata yang masuk. Mereka melangkah lebih jauh. Mereka mencoba melihat dari mana senjata itu berasal, siapa yang memasoknya, dan bagaimana rantai pasokan itu tetap bekerja ketika dunia sedang menyaksikan kehancuran Gaza.
Hasilnya mencengangkan. Perang ternyata tidak hanya berlangsung di Gaza. Perang juga berlangsung di ruang rapat perusahaan, di kawasan industri, di kantor bea cukai, dan di jalur perdagangan internasional.
Data yang dianalisis Al-Jazeera menunjukkan bahwa Amerika Serikat merupakan pemasok terbesar barang terkait militer ke Israel selama perang Gaza. Nilainya mencapai lebih dari 42 persen dari seluruh impor militer yang tercatat.
Di posisi kedua terdapat India dengan sekitar 26 persen. Setelah itu menyusul Romania sekitar 8 persen, Taiwan sekitar 4 persen, dan Republik Ceko sekitar 3 persen. Lima negara ini saja menyumbang lebih dari dua pertiga seluruh nilai impor militer yang masuk ke Israel.
Namun kisahnya tidak berhenti pada lima negara itu. Investigasi Al-Jazeera menemukan sedikitnya 51 negara dan wilayah otonom yang terhubung dengan rantai pasokan militer ke Israel selama perang berlangsung.
Besarannya memang berbeda-beda. Ada yang menyumbang dalam jumlah sangat besar. Ada pula yang nilainya relatif kecil. Namun semuanya tercatat sebagai bagian dari jaringan yang sama.
Amerika Serikat, India, Romania, Taiwan, dan Republik Ceko hanyalah nama-nama teratas dalam daftar itu. Di bawah mereka muncul nama-nama lain yang mungkin mengejutkan banyak orang.
Ada China yang selama perang tercatat memiliki impor terkait militer ke Israel senilai sekitar 71,1 juta shekel atau lebih dari Rp320 miliar.
Yang menarik, sekitar 83 persen dari nilai tersebut terjadi setelah Mahkamah Internasional (ICJ) pada 26 Januari 2024 memperingatkan adanya risiko genosida di Gaza.
Ada Singapura dengan nilai sekitar 20,2 juta shekel atau sekitar Rp91 miliar. Sekitar 88 persen dari jumlah itu juga tercatat setelah putusan ICJ.
Ada Swiss dengan nilai sekitar 9 juta shekel atau sekitar Rp40 miliar. Hampir seluruhnya, sekitar 98 persen, terjadi setelah putusan ICJ.
Ada Turki, yang dikenal rakyatnya sering berdemo anti-Israel. Namun data impor Israel menunjukkan barang terkait militer yang berasal dari Turki tetap tercatat senilai sekitar 7,5 juta shekel atau sekitar Rp34 miliar.
Sekitar 79 persen impor terjadi setelah putusan ICJ. Tapi, Presiden Recep Tayyip Erdogan yang dikenal sebagai pemimpin paling keras mengkritik Israel mengakui sudah dihentikan total segala impor senjata ke Israel setelah tahun 2023.
Ada pula Brasil dengan nilai sekitar 8,7 juta shekel atau hampir Rp40 miliar. Sekitar 80 persen juga terjadi setelah peringatan dari Mahkamah Internasional.
Selain itu terdapat Belanda, Bulgaria, Korea Selatan, Vietnam, Kanada, Prancis, Italia, Jerman, Inggris, Spanyol, Azerbaijan, dan puluhan negara lainnya yang namanya muncul dalam data impor Israel yang dianalisis Al-Jazeera.
Daftar ini tidak otomatis berarti bahwa semua negara tersebut memiliki tingkat keterlibatan yang sama.
Ada yang memasok dalam jumlah sangat besar. Ada yang sangat kecil. Ada yang mengaku tidak memberikan izin baru. Ada yang menjelaskan bahwa sebagian pengiriman berasal dari kontrak lama. Ada pula yang menyatakan bahwa barang-barang tertentu tidak termasuk kategori yang mereka larang.
Namun satu hal sulit dibantah. Nama mereka ada dalam data.
Angka-angka itu penting karena menunjukkan bahwa perang modern bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia lebih mirip pohon besar yang akarnya menjalar ke banyak tempat. Ketika sebuah cabang patah di Gaza, akarnya bisa berada ribuan kilometer jauhnya.
Salah satu temuan yang paling menarik datang dari India. Al-Jazeera memperoleh dokumen kepabeanan yang memperlihatkan hubungan perdagangan antara sejumlah perusahaan India dan perusahaan pertahanan Israel. Dokumen itu membuka sesuatu yang jarang terlihat oleh publik, yaitu perjalanan berbagai komponen militer sebelum berubah menjadi bagian dari sistem persenjataan.




