Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menanggapi soal isu terkait pembelian saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Menurutnya, hal itu tidak menjadi persoalan selama seluruh proses transaksi dilakukan sesuai mekanisme pasar yang berlaku.
Dasco menilai, transaksi pembelian saham merupakan hal yang wajar dalam aktivitas pasar modal.
“Saya pikir kalau bank BCA sepanjang dilakukan dengan mekanisme pasar, ya apalagi saat ini kan sahamnya sedang lumayan agak murah ya dibeli aja,” kata Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6).
Ia menilai kondisi harga saham yang mengalami penyesuaian justru dapat menjadi pertimbangan bagi investor untuk melakukan pembelian.
Dasco menekankan BCA merupakan salah satu perusahaan swasta nasional yang memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional. Karena itu, menurutnya tidak ada persoalan apabila terdapat pihak yang melakukan pembelian saham perusahaan tersebut.
“Karena apa namanya, dengan termasuk swasta nasional yang strategis, sepanjang itu melalui mekanisme pasar pembeliannya, itu enggak ada masalah menurut saya. Silakan aja dibeli,” ujarnya.
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat sejak sesi pembukaan hingga penutupan perdagangan Rabu (10/6), melanjutkan tren penguatan di pasar modal domestik. Berdasarkan data dari Stockbit, indeks berhasil ditutup di zona hijau.
IHSG ditutup naik 155,73 poin atau setara 2,71 persen ke level 5.902,38. Sejalan dengan itu, indeks saham unggulan LQ45 juga melesat 3,55 persen ke posisi 589,48.
Total nilai transaksi mencapai Rp 30,90 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 46,01 miliar lembar saham. Adapun frekuensi transaksi tercatat sebanyak 3,09 juta kali.
Adapun BBCA (Bank Central Asia) masuk ke dalam daftar top value atau daftar saham yang memiliki nilai transaksi paling besar pada hari perdagangan tersebut senilai Rp 4,03 triliun.
Top Value
BBCA (Bank Central Asia) senilai Rp 4,03 triliun
TPIA (Chandra Asri Pacific) senilai Rp 3,25 triliun
BBRI (Bank Rakyat Indonesia (Persero) senilai Rp 2 triliun
BMRI (Bank Mandiri (Persero)) senilai Rp 1,50 triliun
DSSA (Dian Swastatika Sentosa) senilai Rp 1,42 triliun





