REPUBLIKA.CO.ID, BULELENG -- Perjalanan Desa Pemuteran di Kabupaten Buleleng, Bali Utara, menjadi salah satu contoh keberhasilan pemulihan lingkungan berbasis masyarakat. Desa yang pada era 1980-an dikenal sebagai salah satu wilayah termiskin tersebut kini berubah menjadi destinasi wisata bahari yang dikenal hingga mancanegara setelah masyarakat berhasil memulihkan ekosistem terumbu karang yang sebelumnya rusak parah.
Peraih penghargaan Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan 2026 sekaligus pionir penerapan teknologi biorock di Desa Pemuteran, Komang Astika, mengatakan kerusakan lingkungan laut di wilayah tersebut terjadi akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari pemanasan global hingga aktivitas penangkapan ikan yang merusak.
- Maknai Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Bank Mandiri Lanjutkan Akselerasi Keberlanjutan
- PNM Tanam 27 Ribu Pohon untuk Dukung Lingkungan yang Lebih Sehat
- Hari Lingkungan Hidup Sedunia, ITDC dan Warga Gelar KolaborAksi Jaga Pesisir Golo Mori
“Desa Pemuteran awalnya merupakan salah satu desa termiskin. Kemudian terjadi kerusakan alam yang sangat parah akibat pemanasan global. Selain itu, ada illegal fishing. Masyarakat mengambil ikan menggunakan potassium dan juga dengan cara pengeboman,” kata Komang usai menerima Kalpataru 2026, Kamis (11/6/2026).
Akibat praktik tersebut, terumbu karang di perairan Pemuteran mengalami kehancuran. Padahal, terumbu karang merupakan fondasi utama ekosistem laut yang menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Kerusakan terumbu karang juga berdampak langsung terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Nelayan semakin sulit mendapatkan hasil tangkapan karena habitat ikan mengalami degradasi. “Karena kehancuran terumbu karang tersebut, masyarakat tidak mendapatkan penghasilan yang lebih,” ujarnya.
Melihat kondisi itu, masyarakat Pemuteran mulai menjalankan program restorasi terumbu karang. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah teknologi biorock, sebuah metode pemulihan karang dengan memanfaatkan struktur logam dan listrik bertegangan rendah untuk mempercepat pertumbuhan karang.
Menurut Komang, teknologi tersebut membantu menyediakan media tempat karang tumbuh dan berkembang. Struktur besi yang dialiri listrik bertegangan rendah akan memicu reaksi elektrokimia di dalam air laut.
“Teknologi biorock ini memacu pertumbuhan karang menjadi lebih cepat daripada karang alami. Terumbu karang membutuhkan media untuk tumbuh dan berkembang. Media itu kami buat menggunakan teknologi biorock dengan listrik bertegangan rendah,” jelasnya.
Ia menjelaskan, arus listrik tersebut menyebabkan mineral berupa kalsium karbonat yang terdapat dalam air laut mengendap pada struktur besi. Proses tersebut menyerupai mekanisme pelapisan logam, tetapi material yang terkumpul adalah mineral alami dari laut.
“Listrik tersebut memicu reaksi kimia yang menyebabkan kalsium karbonat yang ada di air laut mengendap di struktur besi. Istilahnya seperti penyepuhan. Ada yang kehilangan dan ada yang mengambil. Yang diambil adalah kalsium karbonat yang ada di air laut,” katanya.
Dengan adanya struktur tersebut, bibit terumbu karang dapat menempel dan tumbuh lebih kuat. Pertumbuhan karang yang sehat kemudian menciptakan kembali habitat bagi ikan dan berbagai organisme laut.
“Ketika kalsium karbonat sudah menyatu dengan bibit terumbu karang, apabila kita menanam karang atau karang bisa menempel di struktur besi itu, pertumbuhannya akan lebih sehat dan lebih cepat daripada karang alami,” ujarnya.
Pemulihan terumbu karang tersebut tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga mengubah perekonomian masyarakat. Karang yang sehat membuat ikan kembali berkembang biak dan menarik wisatawan untuk datang menikmati keindahan bawah laut Pemuteran.
“Dengan kesehatan karang, alamnya juga terjaga. Wisatawan bisa berkunjung dan datang ke desa kami. Itu memberikan manfaat yang lebih, menjaga lingkungan, dan masyarakat juga mendapatkan dampak ekonomi yang sangat penting,” kata Komang.
Ia mengatakan ancaman terhadap terumbu karang tidak hanya berasal dari pemanasan global yang dapat menyebabkan coral bleaching atau pemutihan karang, tetapi juga dari aktivitas manusia. “Bleaching ataupun dirusak oleh manusia. Salah satunya pemanasan global dan potassium. Potassium itu dari nelayan,” ujarnya.



