JAKARTA, DISWAY.ID - Pengamat kebijakan energi Sofyano Zakaria menilai penyesuaian harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax dan Pertamax Green, merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari mekanisme pasar energi yang berlaku saat ini. Meski demikian, ia menegaskan bahwa setiap kebijakan terkait harga energi harus tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat agar tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap daya beli publik.
Menurut Sofyano, produk BBM nonsubsidi pada dasarnya mengikuti formula harga yang telah ditetapkan pemerintah melalui regulasi sektor energi. Karena itu, berbagai faktor eksternal seperti pergerakan harga minyak mentah dunia, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga biaya distribusi memiliki pengaruh langsung terhadap harga jual BBM kepada konsumen.
"Harga Pertamax maupun Pertamax Green memang mengikuti dinamika pasar. Situasi geopolitik global yang masih belum stabil turut memengaruhi rantai pasok energi internasional dan meningkatkan biaya pengadaan minyak maupun bahan bakar yang sebagian masih bergantung pada impor," ujarnya.
Geopolitik Global Berpengaruh pada Harga EnergiSofyano menjelaskan, ketidakpastian yang terjadi di sejumlah kawasan dunia telah memberikan dampak besar terhadap industri energi global. Gangguan pasokan, biaya logistik yang meningkat, hingga risiko distribusi menjadi faktor yang mendorong kenaikan biaya operasional sektor minyak dan gas.
Kondisi tersebut pada akhirnya harus diperhitungkan oleh badan usaha penyedia energi agar keberlangsungan pasokan tetap terjaga dalam jangka panjang.
Menurutnya, tekanan biaya yang muncul tidak hanya terjadi pada sektor hilir, tetapi juga merambat ke seluruh rantai bisnis energi mulai dari eksplorasi, produksi, pengolahan, hingga distribusi kepada konsumen akhir.
Harga Pertamax Dinilai Belum Sepenuhnya Mencerminkan Harga PasarMeski terjadi penyesuaian, Sofyano berpandangan bahwa harga Pertamax dan Pertamax Green saat ini masih berada di bawah harga keekonomian yang semestinya jika sepenuhnya mengikuti kondisi pasar internasional.
Ia menilai pemerintah bersama Pertamina masih berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan bisnis energi dan perlindungan terhadap masyarakat.
"Apabila mengikuti harga pasar global secara penuh, kemungkinan harga BBM nonsubsidi bisa berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan saat ini. Fakta bahwa harga masih berada di bawah nilai keekonomian menunjukkan adanya upaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi nasional," jelasnya.
Keberlanjutan Sektor Energi Harus Menjadi PerhatianLebih lanjut, Sofyano mengingatkan bahwa kebijakan harga energi tidak hanya berbicara mengenai keterjangkauan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan sektor energi nasional.
Jika harga energi terus dipertahankan jauh di bawah kondisi pasar dalam waktu lama, maka badan usaha energi berpotensi menghadapi tekanan keuangan yang dapat memengaruhi kemampuan investasi dan pengembangan infrastruktur energi di masa depan.
Menurutnya, investasi yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk menjamin keamanan pasokan energi nasional di tengah kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.
BBM Subsidi Tetap DipertahankanDi sisi lain, Sofyano menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir karena pemerintah masih mempertahankan kebijakan subsidi dan kompensasi energi bagi kelompok yang berhak menerimanya.
BBM bersubsidi tetap tersedia sesuai peruntukan dan hingga kini tidak mengalami perubahan harga, sehingga perlindungan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah tetap terjaga.
"Komitmen pemerintah dalam menjaga akses energi bagi masyarakat masih terlihat jelas. Program subsidi energi tetap berjalan dan BBM subsidi tidak mengalami penyesuaian harga," katanya.
Harga Energi Indonesia Masih Kompetitif- 1
- 2
- »





