JAKARTA, KOMPAS—Kecewa dengan kondisi bangsa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia sepakat menggelar demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (12/6/2026). Bersama BEM dari sejumlah perguruan tinggi lain, mereka akan menyuarakan lima tuntutan, termasuk mendesak pemerintah menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Hal itu disampaikan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, saat dihubungi, Kamis (11/6/2026).
Menurut Rumi, kondisi bangsa saat ini dinilai memprihatinkan. Pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) dinilai semakin membebani kehidupan masyarakat.
"Memang rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat, tetapi tidak sebanding dengan kenaikan harga bensin yang sangat tinggi," ujarnya.
Saat ini nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 17.984 per dollar AS. Sementara itu, harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter atau meningkat Rp 3.950 per liter sejak Rabu (10/6/2026).
Berangkat dari situasi tersebut, BEM se-UI melakukan konsolidasi dengan BEM dari berbagai perguruan tinggi untuk membahas persoalan yang dihadapi masyarakat. Konsolidasi dilakukan melalui forum diskusi yang menghasilkan lima tuntutan yang akan disampaikan dalam aksi unjuk rasa.
Kelima tuntutan tersebut adalah menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), menghentikan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, menghentikan militerisme di ranah sipil, serta mendesak Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah dan tidak menghindari kritik publik.
"Ini bukan permasalahan yang berdiri sendiri, melainkan persoalan yang bersifat sistemik karena sistemnya memang bermasalah," ujar Rumi.
Rumi menuturkan, aksi demonstrasi rencananya akan dipusatkan di Bundaran Hotel Indonesia. Adapun kemungkinan aksi meluas ke lokasi lain akan bergantung pada perkembangan situasi di lapangan.
"Saat ini peserta masih dalam pendataan dan kami terus melihat perkembangan di lapangan. Namun, ini akan menjadi aksi yang cukup besar," katanya.
Rumi juga mengajak masyarakat untuk turut menyuarakan aspirasi mereka. "Kami mendorong masyarakat untuk ikut serta. Semua orang memiliki hak untuk bersuara. Kami yakin masyarakat juga peduli terhadap persoalan-persoalan ini," ujarnya.
Ketua Front Mahasiswa Nasional (FMN) Sympati Dimas Rafi'i mengatakan, aksi tersebut merupakan hasil konsolidasi sejumlah organisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat.
Pertemuan konsolidasi itu diikuti oleh seluruh BEM fakultas se-UI, BEM IPB University, Universitas Gunadarma, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri Jakarta, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Universitas Pancasila, Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), serta Front Mahasiswa Nasional (FMN).
"Besok kami berkumpul sebelum shalat Jumat. Rencananya shalat Jumat di kawasan HI sebelum aksi dimulai," kata Dimas.
Menurut Dimas, mahasiswa menilai Indonesia tengah menghadapi persoalan ekonomi yang serius. Di sisi lain, pemerintah dianggap belum mampu memberikan jawaban atas berbagai keluhan masyarakat.
"Indonesia adalah negara yang kaya, tetapi rakyatnya belum sejahtera. Indonesia negara besar, tetapi masih banyak rakyat yang belum terbebas dari rasa lapar," ujarnya.
Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa menyoroti kondisi ekonomi nasional yang dinilai memburuk. Mereka juga mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Menurut Dimas, pemerintah dinilai cenderung mengabaikan kritik yang berkembang di tengah masyarakat. Mahasiswa juga menyoroti dugaan penggunaan aparat negara untuk membungkam suara-suara yang berseberangan dengan pemerintah.
Aksi di Bundaran Hotel Indonesia diperkirakan akan melibatkan mahasiswa dari sejumlah kampus dan elemen masyarakat yang telah mengikuti konsolidasi dalam beberapa hari terakhir.





