PERINGATAN Hari Lahir Pancasila 1 Juni lalu diadakan di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) Megawati Soekarnoputri.
Hari Lahir Pancasila mestinya tidak hanya dimaknai sebagai ritual seremonial dan pengulangan retorika kebangsaan semata.
Momentum itu perlu menjadi ruang kontemplasi untuk mempertanyakan relevansi Pancasila di tengah perubahan dunia yang terbelah karena perbedaan ideologi.
Pertanyaan itu penting karena Daniel Bell, seorang sosiolog Universitas Harvard, Amerika Serikat, melalui bukunya The End of Ideology (1960) pernah mengatakan “ideologi sudah mati”.
Ia berkata modernisasi setelah Perang Dunia II membuat manusia semakin pragmatis dan meninggalkan fanatisme ideologis.
Jalan pikiran Bell ini diikuti oleh Francis Fukuyama dalam karya fenomenalnya The End of History (1992) yang mengatakan kemenangan demokrasi liberal Barat sebagai “akhir sejarah”.
Artinya, tidak ada lagi persaingan ideologis karena ideologi Barat (baca Liberal-Kapitalis) akhirnya muncul sebagai pemenang dalam rivalitas ideologi.
Setelah Perang Dingin berakhir, banyak ilmuwan politik Barat percaya bahwa rivalitas ideologi telah selesai. Namun, betulkah ideologi sudah mati?
Sejarah bergerak ke arah berbeda. Alih-alih berpusar secara konvergensi pada satu titik temu ideologi, sejarah dunia malah berputar secara divergensi ke berbagai kutub ideologi.
Dunia saat ini justru kembali diwarnai oleh pertarungan ideologi lintas batas negara, dikenal dengan istilah “ideologi transnasional”.
Liberal-kapitalisme, sosialisme berbasis state capitalism, dan fundamentalisme-teokratik kini saling berebut pengaruh.
Sekadar contoh: rivalitas AS dan China bukan sekadar konflik geopolitik atau perang dagang, tapi juga pertarungan model peradaban dan tata kelola negara.
Di saat yang sama, berbagai gerakan fundamentalisme agama terus berkembang melalui ruang digital, memanfaatkan krisis identitas dan kegalauan kaum muda.
Dalam situasi seperti itu, Indonesia sesungguhnya sedang menghadapi ujian ideologis yang tidak ringan.
Namun, Indonesia memiliki imunitas dalam menghadapi tantangan ideologis. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa ini berkali-kali berada di persimpangan ideologi.





