Pantau - China memanfaatkan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), analisis DNA, drone, dan jaringan kamera inframerah untuk memperkuat konservasi panda raksasa serta melindungi habitat alaminya di berbagai kawasan Taman Nasional Panda Raksasa.
Sistem Cerdas Permudah Pemantauan Panda LiarDirektur pusat penyelamatan dan pengembangbiakan satwa liar di Wenxian, Provinsi Gansu, Liu Zhi, mengatakan teknologi telah mengubah metode pemantauan panda yang sebelumnya mengandalkan patroli manual di kawasan pegunungan.
“Banyak satwa liar, termasuk panda raksasa, sebenarnya agak pemalu. Salah satu tugas kami adalah melindungi satwa liar dan habitatnya sembari meminimalkan dampak aktivitas manusia terhadap alam,” ungkap Liu.
Saat ini kawasan tersebut didukung sistem pemantauan cerdas yang menggabungkan penginderaan jauh satelit, fotografi udara, sensor darat, lebih dari 1.500 kamera inframerah, serta lebih dari 20 drone yang terhubung dengan platform big data berbasis kecerdasan.
“Teknologi baru memberi kami pemahaman yang lebih akurat mengenai perubahan populasi,” ujarnya.
Selain itu, wilayah Chengdu telah memasang lebih dari 600 kamera inframerah yang mampu merekam ratusan citra panda liar setiap tahun dan mendukung terbentuknya sistem pemantauan ekologi terpadu.
AI dan Analisis DNA Tingkatkan Akurasi Identifikasi PandaDi kawasan Tangjiahe, para peneliti memanfaatkan sampel feses panda liar untuk analisis DNA sehingga dapat mengidentifikasi jenis kelamin, usia, kondisi kesehatan, dan pola aktivitas setiap individu secara lebih akurat.
Terobosan lain dilakukan melalui penerapan teknologi pengenalan wajah panda berbasis AI yang dikembangkan menggunakan kumpulan besar data gambar lapangan.
“Kami telah sepenuhnya meluncurkan teknologi ‘pengenalan wajah panda’ berbasis kecerdasan buatan (AI),” ujar pejabat Kantor Administrasi Cagar Alam Nasional Tangjiahe, Xiao Mei.
Pada 2025, sistem gabungan analisis DNA dan AI tersebut berhasil mendeteksi 44 ekor panda raksasa serta menyediakan data ilmiah untuk mendukung konservasi dan pemulihan ekosistem.
Para peneliti menyebut penggunaan AI mampu meningkatkan efisiensi pemantauan populasi panda liar lebih dari 40 persen, sementara model DeepPanda yang dikembangkan di China bahkan mencapai tingkat akurasi 98,8 persen dalam mengenali perilaku dasar panda di penangkaran.
China juga memperluas kerja sama internasional dengan meluncurkan platform bersama big data ekologis panda raksasa yang menyediakan berbagai data pemantauan bagi lembaga penelitian di seluruh dunia.




