Perjuangan Komuter Kota Penyangga Tempuh Jarak Jauh Demi Bekerja di Jakarta

metrotvnews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Setiap pagi, jutaan pekerja dari kota penyangga seperti Bogor, Bekasi, hingga Tangerang bergerak serentak menuju Ibu Kota Jakarta. Mengandalkan transportasi umum, para pejuang nafkah ini harus berhadapan dengan perjalanan panjang, kepadatan penumpang di jam sibuk, hingga pengeluaran tambahan yang tidak sedikit demi sampai di tempat kerja.

Salah satu kisah datang dari Tannya Lulani, seorang pekerja yang sudah menjadi komuter selama lima tahun sejak masa kuliahnya. Baginya, perjalanan dari Bogor ke Jakarta bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah perjuangan fisik dan finansial yang dimulai bahkan sebelum ia menginjakkan kaki di peron stasiun.

Perjalanan Tannya dimulai dari rumah menuju Stasiun Bogor. Karena belum tersedianya transportasi umum yang menjangkau langsung kawasan tempat tinggalnya, ia terpaksa merogoh kocek pertama untuk jasa ojek.

"Dari rumah aku tuh harus menaiki ojek online ke stasiun. Karena sampai saat ini belum ada transportasi yang langsung memadai dari rumah aku ke Stasiun Bogor," ujar Tannya yang dikutip Metro Siang pada Kamis, 11 Juni 2026.

Setibanya di Stasiun Bogor, ia harus bergabung dengan ribuan penumpang lain di dalam KRL Commuter Line. Perjalanan ini pun tidak langsung sampai; Tania harus melakukan beberapa kali perpindahan jalur atau transit sebelum akhirnya turun di stasiun tujuan, yakni Stasiun Taman Kota. 

Namun, perjalanan tidak berhenti di situ. Untuk mencapai kantor, ia kembali harus menggunakan ojek online karena lokasi stasiun yang masih cukup jauh dari tempat kerjanya.
  Baca juga: Pemprov DKI Gratiskan MRT dan TransJakarta Sambut HUT Jakarta, Catat Tanggalnya
Meskipun menggunakan transportasi umum sering dianggap lebih hemat, kenyataannya para komuter masih dibebani biaya tambahan akibat kurangnya integrasi moda dari titik keberangkatan ke titik tujuan.

Tannya mengungkapkan bahwa ia menghabiskan rata-rata Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari untuk biaya transportasi saja. Angka ini fluktuatif bergantung pada kondisi cuaca; jika hujan dan ia terpaksa menggunakan taksi daring, yang otomatis biayanya akan membengkak lebih tinggi.

Meski pengeluaran transportasi cukup besar, Tannya memilih tetap tinggal di Bogor karena biaya hidup di Jakarta, seperti biaya sewa tempat tinggal, listrik, dan makan, dinilai masih jauh lebih mahal. "Setelah aku hitung-hitung dan aku rinci, memang biaya hidup di Bogor itu tetap jauh relatif lebih murah dibanding aku harus berpindah tempat untuk tinggal di Jakarta," jelasnya.

Transportasi umum tetap menjadi andalan utama karena dinilai lebih cepat dan mampu menghindarkan pekerja dari kemacetan parah di jalan raya menuju Jakarta. Namun, tantangan integrasi antar moda masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Kondisi ini membuat pengeluaran transportasi bertambah di luar biaya utama yang dikeluarkan untuk menggunakan transportasi umum.

Tannya berharap agar ke depannya pemerintah tidak hanya memfokuskan integrasi layanan transportasi di pusat Jakarta saja, tetapi juga menyentuh wilayah penyangga secara merata.

Di balik ramainya KRL dan bus setiap harinya, tersimpan jutaan cerita dari para pekerja yang bergerak dari daerah penyangga Jakarta menuju ke Ibu Kota. Meski berbagai rintangan dan perjuangan harus mereka lalui, transportasi umum masih menjadi andalan utama karena selain lebih cepat, hemat, transportasi umum juga bisa menghindari kemacetan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prakiraan Cuaca Kamis 11 Juni 2026: Sumut hingga Maluku Berpotensi Diguyur Hujan Ekstrem
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Inflasi AS Capai 4,2 Persen pada Mei 2026, Trump Sebut Angkanya Sangat Bagus
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
PT Timah Kaji Impor Bijih dari Myanmar dan Amerika Latin
• 8 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
China Keluarkan KTP Khusus, Bukan Buat Warga Asli
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Zimbabwe Pelajari Konsep Investasi dan Hilirisasi di IMIP
• 1 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.