Kisah Risti Anak Buruh Proyek dan ART Lulus Kuliah Gratis di UGM

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Wajah Ristiana Artanti (19) tampak bahagia ketika berfoto bersama kedua orang tuanya, Rubikan (47) dan Winarni (47).

Gadis asal Karangsari, Kabupaten Kulon Progo, itu telah meraih salah satu mimpinya, yakni berkuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ristiana merupakan anak dari seorang buruh proyek. Sementara itu, sang ibu membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Kota Yogyakarta.

Kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu sempat menjadi kekhawatiran Ristiana. Karena itu, kesempatan berkuliah gratis di UGM menjadi sesuatu yang sangat melegakan baginya.

Risti, sapaan akrabnya, memilih Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan di Sekolah Vokasi UGM. Ia selama ini tertarik pada bidang kesehatan.

Risti diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Ia lulus tanpa tes dan mendapatkan beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol, sehingga bisa berkuliah gratis di salah satu kampus terbaik di Yogyakarta tersebut.

"Soal perasaan, jujur saya bingung dan masih belum percaya Tuhan memberi kesempatan yang benar-benar saya enggak bakal kira, bakal bisa masuk Universitas Gadjah Mada," kata Risti dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Kamis (11/6).

Tak hanya berprestasi secara akademik, Risti juga aktif dalam berbagai kegiatan. Salah satunya adalah ekstrakurikuler marching band di SMA Negeri 1 Wates. Ia beberapa kali memenangkan berbagai perlombaan, seperti dua kali menjadi juara umum tingkat kabupaten dan juara satu tingkat provinsi.

Meski memiliki kegiatan yang padat, Risti tetap mampu berprestasi secara akademik karena pandai membuat skala prioritas.

Risti mengutamakan akademiknya sebelum berlatih dan mengembangkan diri di bidang nonakademik.

"Saya selalu disiplin membagikan waktu agar kegiatan ekstra tidak mengganggu akademik," ujarnya.

Dalam waktu dekat, Risti akan mengenakan jas almamater saat upacara penerimaan mahasiswa baru UGM dimulai.

Risti bercita-cita, kelak setelah lulus, dapat membantu banyak orang dan meningkatkan pelayanan kesehatan di berbagai daerah.

"Saya sudah membayangkan bahwa setelah lulus itu saya akan bekerja di puskesmas dan juga di rumah sakit yang mungkin di daerah pelosok-pelosok, untuk meningkatkan kualitas pelayanan di masyarakat," katanya.

Dukungan Orang Tua

Winarni mengatakan, dirinya dan sang suami selalu mendukung setiap hal positif yang dilakukan anak semata wayang mereka, termasuk keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Dengan keterbatasan yang ada, setiap hari Winarni dan suaminya senantiasa berusaha mendukung pendidikan Risti.

"Pas dia utarakan pengin kuliah itu, saya mikirnya gini, apa bisa mendanai soalnya ekonomi kita susah kayak gini, kadang-kadang ada, kadang-kadang nggak. Bisa makan tiga kali sehari itu sudah bersyukur," kata Winarni.

Di tengah keraguan itu, Winarni berkomitmen tidak akan menolak keinginan Risti untuk berkuliah. Apalagi, ia tahu putrinya memiliki kemampuan dan prestasi yang baik.

"Nilai-nilainya juga bagus. Kalau enggak didukung, kan kayaknya saya teringat saya dulu. Saya dulu tuh pengin meneruskan sekolah selanjutnya, enggak mampu. Orang tua saya benar-benar enggak mampu. Makanya, kalau bisa, anak saya jangan seperti saya, biar bisa lebih baik lagi," katanya.

Sementara itu, sang ayah, Rubikan, bercerita telah menjadi buruh proyek sejak 1995. Ia bekerja dari pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Penghasilannya sekitar Rp 90 ribu per hari.

Jika tidak ada proyek, Rubikan menggali batu putih di depan rumah untuk dijual. Dalam satu minggu, ia biasanya mampu mengumpulkan batu hingga memenuhi satu truk. Dari pekerjaan itu, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp 450 ribu.

Winarni bercerita bahwa ia tetap bekerja sebagai ART bahkan saat mengandung Risti. Setelah Risti lahir, ia sempat berhenti bekerja. Namun, ketika Risti menginjak usia dua tahun, Winarni kembali bekerja.

"Sampai Risti umur dua tahun, saya kerja lagi. Saya ajak dia sambil ikut kerja, gitu," cerita Winarni.

"Saya enggak mengira kalau anak saya bisa masuk UGM. Padahal orang tuanya enggak sekolah, tapi anaknya bisa sekolah," tambah Rubikan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Pengusaha Indonesia Banyak Dosanya!
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Emiten Bahan Konstruksi Superior Prima (BLES) Cetak Laba Rp84,11 Miliar
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Munas XVIII HIPMI Berlangsung Sukses, Akbar Himawan Buchari Tegaskan HIPMI Tetap Solid Dukung Program Prioritas Pemerintah
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Cak Imin Tunjuk Najmi Mumtaza Jadi Ketua Harian PKB, Persiapan Menuju 2029
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Sengketa Harta Gono-gini, Rumah 2 Lantai Dirobohkan Pengadilan Negeri Pati | BERUT
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.