Kesepian di Masa Tua, Oma Neni Temukan Teman Sebaya di Rumah Lansia

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di usia 87 tahun, Angraeni atau yang akrab disapa Oma Neni tidak lagi mengejar banyak hal.

Setelah ditinggal wafat suaminya dan sempat tinggal bersama anaknya di Jakarta, ia hanya menginginkan teman sebaya untuk diajak berbincang agar tidak merasa kesepian.

Keinginan sederhana itu yang akhirnya membawanya tinggal di Rumah Lansia Sasana Tresna Werdha (STW) Ria Pembangunan, Cibubur, Jakarta Timur, sekitar empat setengah tahun lalu.

"Anak saya baik, menantu saya baik, semuanya baik, tetapi saya tidak betah karena kesepian," ujar Angraeni saat berbincang dengan Kompas.com di STW Ria Pembangunan, Cibubur, Selasa (9/6/2026).

Baca juga: Berdamai dengan Usia: Kisah Andreas Temukan Ketenangan Masa Tua di Rumah Lansia

Menurut Neni, rasa sepi yang ia rasakan bukan karena kurangnya perhatian dari keluarga. Anak dan menantunya selalu memperlakukannya dengan baik.

Namun, perbedaan usia dan pengalaman hidup membuat dirinya merasa tidak memiliki teman sebaya yang bisa diajak berbincang dan berbagi cerita sehari-hari.

Berangkat dari kondisi tersebut, Neni mulai mempertimbangkan tinggal di rumah lansia. Keputusan itu diambil setelah berdiskusi dengan keluarga dan mendapat persetujuan dari anak-anaknya.

Mencari teman sebaya

Awalnya, Neni hanya berharap menemukan lingkungan baru yang dihuni orang-orang seusianya.

Ia ingin memiliki teman mengobrol dan mengisi hari-hari dengan aktivitas yang lebih dekat dengan kehidupan para lansia.

Baca juga: Saya Tinggal di Hunian Lansia Bukan Berarti Anak-anak Tidak Sayang...

Namun, setelah tinggal di STW Ria Pembangunan, ia merasa mendapatkan sesuatu yang jauh melampaui harapannya.

"Selama tinggal di sini, hal yang paling saya syukuri adalah sesuatu yang sebenarnya tidak saya cari, tetapi justru saya dapatkan, yaitu kedamaian dan ketenteraman," kata Neni.

Menurut dia, salah satu hal yang membuatnya nyaman adalah suasana kehidupan yang harmonis di antara para penghuni.

Padahal, mereka datang dari latar belakang dan karakter yang berbeda-beda.

"Padahal setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Tetapi di sini semuanya bisa hidup rukun," ujarnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Menjalani hari dengan nyaman

Di rumah lansia tersebut, para penghuni memiliki kebebasan menentukan aktivitas yang ingin diikuti.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IPCC Siap Bagikan Dividen Final Rp86,69 per Saham
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
IHSG Diproyeksi Menguat ke 6.058, Simak Rekomendasi Saham Ini
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Prasetyo Hadi: Penataan SPPG Tidak Berdasarkan Nama Pemilik, Tapi Kepatuhan Aturan
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
KAI Susun Peta Jalan Dekarbonisasi, Emisi Karbon Turun 100 Persen pada 2060
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Legislator DKI: Penghentian "open dumping" momentum tata kelola sampah
• 10 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.