Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 50 SMA di wilayah Jabodetabek ditantang mengumpulkan hingga lima ton sampah elektronik (e-waste) melalui program "Sayang Bumi 2026" yang diresmikan di SMAN 82 Jakarta Selatan.
"Sepuluh tahun lalu saat saya masih SD, saya melihat sampah elektronik hanya ditumpuk di laci karena tidak ada tempat pembuangan yang tepat. Hari ini keresahan itu berubah menjadi sistem nyata yang hadir di 50 sekolah," kata Founder dan CEO EwasteRJ, Rafa Jafar di Jakarta, Kamis.
Rafa mengatakan program ini merupakan hasil kolaborasi perusahaan pengelola sampah elektronik EwasteRJ dan Acer Indonesia. Tujuannya, untuk menjadi salah satu upaya mengurangi ancaman limbah elektronik yang terus meningkat di Indonesia.
Oleh karena itu, program Sayang Bumi 2026 hadir pada momentum yang tepat, menjelang penerapan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan memperketat aturan pemilahan sampah dan menghentikan praktik tempat pembuangan terbuka (open dumping) mulai 1 Agustus 2026.
Rafa menilai limbah elektronik termasuk kategori berbahaya karena mengandung bahan beracun yang dapat mencemari lingkungan dan air tanah apabila tidak dikelola dengan benar.
"Dalam program ini, sekolah-sekolah peserta akan berkompetisi mengumpulkan sampah elektronik hingga November 2026. Seluruh proses pengumpulan dilakukan tanpa biaya bagi sekolah," kata dia.
Baca juga: Acer ajak masyarakat kelola e-waste lewat kampanye #SayangBumi
Selain menyediakan dropbox permanen untuk penampungan limbah elektronik, program ini juga mencakup edukasi ekonomi sirkular, pembentukan agen perubahan lingkungan di sekolah, layanan pengangkutan sampah elektronik, hingga penerbitan sertifikat daur ulang resmi.
Sementara itu, President Director Acer Indonesia, Leny Ng, mengatakan pihaknya ingin mendorong generasi muda menjadi pelopor perubahan dalam menjaga lingkungan.
"Selama enam tahun, Sayang Bumi membuktikan bahwa perubahan nyata dimulai dari langkah kolektif yang konsisten. Kami percaya generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan masa depan bumi," kata Leny.
Dia menambahkan, keterlibatan siswa dalam pengelolaan limbah elektronik diharapkan dapat meningkatkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Berdasarkan data Global E-Waste Monitor 2024, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil sampah elektronik terbesar di Asia Tenggara dengan timbunan mencapai 1,9 juta ton pada 2022.
Sementara secara global, jumlah sampah elektronik mencapai 62 juta ton per tahun dan sebagian besar belum didaur ulang secara benar.
Untuk menjamin pengelolaan yang aman, seluruh sampah elektronik yang terkumpul dari sekolah akan ditimbang, dicatat, dan dikirim ke fasilitas daur ulang berizin yang bekerja sama dengan EwasteRJ.
Melalui program ini, para pelajar diharapkan tidak hanya menjadi peserta kompetisi, tetapi juga agen perubahan yang mendorong budaya pengelolaan sampah elektronik secara bertanggung jawab di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Baca juga: Erajaya kumpulkan sampah elektronik tekan emisi karbon
Baca juga: Pemprov DKI kelola sampah elektronik rumah tangga secara gratis
"Sepuluh tahun lalu saat saya masih SD, saya melihat sampah elektronik hanya ditumpuk di laci karena tidak ada tempat pembuangan yang tepat. Hari ini keresahan itu berubah menjadi sistem nyata yang hadir di 50 sekolah," kata Founder dan CEO EwasteRJ, Rafa Jafar di Jakarta, Kamis.
Rafa mengatakan program ini merupakan hasil kolaborasi perusahaan pengelola sampah elektronik EwasteRJ dan Acer Indonesia. Tujuannya, untuk menjadi salah satu upaya mengurangi ancaman limbah elektronik yang terus meningkat di Indonesia.
Oleh karena itu, program Sayang Bumi 2026 hadir pada momentum yang tepat, menjelang penerapan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan memperketat aturan pemilahan sampah dan menghentikan praktik tempat pembuangan terbuka (open dumping) mulai 1 Agustus 2026.
Rafa menilai limbah elektronik termasuk kategori berbahaya karena mengandung bahan beracun yang dapat mencemari lingkungan dan air tanah apabila tidak dikelola dengan benar.
"Dalam program ini, sekolah-sekolah peserta akan berkompetisi mengumpulkan sampah elektronik hingga November 2026. Seluruh proses pengumpulan dilakukan tanpa biaya bagi sekolah," kata dia.
Baca juga: Acer ajak masyarakat kelola e-waste lewat kampanye #SayangBumi
Selain menyediakan dropbox permanen untuk penampungan limbah elektronik, program ini juga mencakup edukasi ekonomi sirkular, pembentukan agen perubahan lingkungan di sekolah, layanan pengangkutan sampah elektronik, hingga penerbitan sertifikat daur ulang resmi.
Sementara itu, President Director Acer Indonesia, Leny Ng, mengatakan pihaknya ingin mendorong generasi muda menjadi pelopor perubahan dalam menjaga lingkungan.
"Selama enam tahun, Sayang Bumi membuktikan bahwa perubahan nyata dimulai dari langkah kolektif yang konsisten. Kami percaya generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan masa depan bumi," kata Leny.
Dia menambahkan, keterlibatan siswa dalam pengelolaan limbah elektronik diharapkan dapat meningkatkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Berdasarkan data Global E-Waste Monitor 2024, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil sampah elektronik terbesar di Asia Tenggara dengan timbunan mencapai 1,9 juta ton pada 2022.
Sementara secara global, jumlah sampah elektronik mencapai 62 juta ton per tahun dan sebagian besar belum didaur ulang secara benar.
Untuk menjamin pengelolaan yang aman, seluruh sampah elektronik yang terkumpul dari sekolah akan ditimbang, dicatat, dan dikirim ke fasilitas daur ulang berizin yang bekerja sama dengan EwasteRJ.
Melalui program ini, para pelajar diharapkan tidak hanya menjadi peserta kompetisi, tetapi juga agen perubahan yang mendorong budaya pengelolaan sampah elektronik secara bertanggung jawab di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Baca juga: Erajaya kumpulkan sampah elektronik tekan emisi karbon
Baca juga: Pemprov DKI kelola sampah elektronik rumah tangga secara gratis





