Anggota Komisi II DPR Jazuli Juwaini menyoroti kinerja Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di sejumlah daerah yang dinilai masih kerap bertindak arogan dalam melakukan penertiban di lapangan. Ia meminta pendekatan penegakan aturan dilakukan secara lebih humanis dan tidak merugikan masyarakat kecil.
Hal itu disampaikan Jazuli dalam rapat kerja Komisi II DPR dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6).
Ia mengaku masih menemukan praktik penertiban yang dinilai berlebihan, terutama dalam penanganan pedagang kecil.
“Kemudian berikutnya Pak Mendagri, disinggung tadi juga tentang Satpol PP anggarannya, meskipun itu kan ada di daerah-daerah. Saya cuma menyoroti perlu juga dibina. Saya masih melihat di era digital sekarang, sosmed yang terbuka ini, Satpol PP yang masih arogan menangani dan menertibkan rakyatnya sendiri,” ujar Jazuli.
Jazuli juga menyinggung adanya tindakan yang dinilainya tidak sejalan dengan prinsip penegakan aturan yang berkeadilan, terutama terhadap pedagang kecil di ruang publik.
“Macam penjajah Belanda dan Jepang aja, Pak. Dia tendang itu nenek-nenek, mohon maaf ibu-ibu tua renta yang lagi jualan, dia tendang, dibanting itu gerobak, bayarnya kan minimal 5 juta sampai 7 juta, bikinnya susah, dia tendang dia balikan dia hancurkan. Ini penjajah atau Satpol PP? Masih-masih ada yang begini,” tuturnya.
Ia menegaskan Satpol PP merupakan aparatur negara yang digaji dari pajak rakyat, sehingga seharusnya menjalankan tugas penertiban dengan cara yang lebih beradab dan proporsional.
“Mereka kan digaji oleh negara dari pajak negara. Tertibkan ya harus ditertibkan. Atau jangan-jangan ada oknum lagi tadi di situ Pak. Kan banyak orang juga yang diem-diem nerima setoran oknumnya itu, dia merasa aman, tiba-tiba datang malaikat zabaniyah baru langsung dihabisi orang-orang itu,” tuturnya.
Meski demikian, Jazuli menegaskan dirinya tidak menolak penegakan aturan. Namun, ia mendorong agar pendekatan yang digunakan lebih mengedepankan sisi kemanusiaan.
“Saya tidak mendukung bahwa tidak tertib itu dibiar, tidak tidak. Saya cuma ingin coba humanis mendekati rakyat sendiri dalam melakukan penertiban ini,” jelas dia.
Juga Soroti SampahSelain persoalan Satpol PP, Jazuli juga menyoroti permasalahan sampah yang dinilainya masih menjadi isu serius di berbagai daerah, termasuk di Tangerang Selatan.
“Tentang sampah, ada juga tadi disinggung tentang masalah sampah. Sampah ini juga jadi masalah besar di Republik ini nih, terutama di kota-kota, termasuk di kota saya tinggal namanya Kota Tangerang Selatan, Pak. Itu enggak pernah selesai,” ujarnya.
Ia mempertanyakan arah penggunaan anggaran Kementerian Dalam Negeri dalam mendukung pengelolaan sampah di daerah, serta mendorong adanya pendekatan teknologi dalam pengelolaan sampah agar lebih produktif dan bernilai ekonomi.
“Tadi ada anggaran dari Kemendagri itu poinnya irisannya di mana? Saya ingin sebagai Mendagri atau Kemendagri, mungkin nggak mereka ini difasilitasi bagaimana cara mengelola sampah yang produktif, yang menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat dengan teknologi yang sekarang sudah berkembang di dunia ini luar biasa, yang harusnya sampah itu bukan jadi beban di era sekarang ini,” jelas Jazuli.
“Tetapi sampah itu harus menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan yang dahsyat untuk pembangunan daerah,” lanjutnya.
Jazuli juga menyoroti kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak serius dalam menyelesaikan persoalan sampah di daerah, baik di tingkat aparatur maupun pemerintah daerah.
“Coba diperhatikan Pak Mendagri, jangan-jangan ada oknum PNS rendahan, middle atau sampai kepala daerahnya yang juga terlibat untuk tidak mentuntaskan persoalan sampah ini. Jadi ini juga agak serius,” ungkapnya.
Ia menekankan persoalan sampah harus menjadi perhatian serius mengingat kebersihan merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
“Negara yang penduduknya mayoritas muslim, kebersihan itu adalah prioritas utama, tetapi sampahnya tuh nggak pernah beres gitu yang ada di kota-kota besar. Jadi bagaimana sampah ini bisa dikelola bukan menjadi beban, tetapi menjadi sesuatu yang menghasilkan manfaat besar,” pungkasnya.





