Rupiah Loyo & Bunga Tinggi, SMRA Lirik Opsi Refinancing Utang

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten properti PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) menyiapkan sejumlah strategi dalam membayar surat utang jatuh tempo perseroan pada tahun ini. Di tengah lesunya rupiah dan tingginya suku bunga, SMRA tidak menutup kemungkinan bakal melakukan refinancing.

Melansir laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), SMRA pada Oktober 2026 mesti melakukan pembayaran atas Obligasi Berkelanjutan IV Summarecon Agung Tahap II Tahun 2023 seri A senilai Rp468 miliar.

Saat penerbitan surat utang tersebut, SMRA menawarkan imbal hasil senilai 7,35% terhadap seri A. Kini, yield SBN acuan telah bertengger di level 7,51% dan akan sulit bagi SMRA menerbitkan obligasi dengan spread tenor yang tipis dengan yield acuan pada tahun ini.

Direktur Summarecon Agung Lydia Tjio, menilai di tengah kondisi ini, skema refinancing yang paling murah adalah melalui arus kas perusahaan. Pasalnya, kenaikan suku bunga acuan bakal turut mengerek naiknya suku bunga kredit perbankan, sehingga berisiko memberikan biaya pendanaan yang lebih mahal.

”Memang kalau kami lihat untuk tingkat suku bunga yang paling murah, itu berasal dari dana sendiri tentunya. Dan untuk setiap pembiayaan pun, kami juga akan berusaha dan berupaya memang meningkatkan sales, untuk memberikan dana sendiri yang dapat kami peroleh untuk pembiayaan apapun,” katanya dalam paparan publik SMRA, Kamis (11/6/2026).

Di tengah kondisi suku bunga tinggi dan rupiah yang lesu, SMRA kini berharap keberlanjutan insentif PPN properti Ditanggung Pemerintah (DTP). Hal itu dinilai penting untuk membantu meningkatkan marketing sales.

Baca Juga

  • Summarecon (SMRA) Berharap PPN DTP Properti Dilanjutkan
  • Suku Bunga Naik dan Rupiah Lesu, Summarecon (SMRA) Genjot Efisiensi
  • Summarecon Agung (SMRA) Putuskan Bagi Dividen Rp82,54 Miliar

Meskipun begitu, Lydia menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan melakukan kombinasi pembiayaan atas surat utang jatuh tempo. Bahkan, tidak menutup kemungkinan SMRA kembali menerbitkan surat utang, dengan tenor tertentu sebagai strategi lanjutannya.

”Tetapi untuk ada kombinasi daripada pembiayaan yang selain dari modal sendiri, tidak menutup kemungkinan untuk kami cari refinancing dari bank lain yang bisa memberikan penawaran yang lebih rendah dari yang ada, dan juga untuk obligasi. Itu juga yang akan kami pertimbangkan tentunya,” katanya.

Adapun sepanjang Januari—Mei 2026, SMRA mencatatkan penjualan melalui PPNDTP mencapai Rp874 miliar. Sementara target yang ditetapkan perseroan pada tahun ini mencapai Rp1,6 triliun melalui insentif ini.

Di satu sisi, Presiden Direktur Summarecon Agung Adrianto Pitojo Adi, berharap kebijakan PPN DTP masih dapat dilanjutkan pada tahun ini. Selain memang insentif itu dibutuhkan perseroan, PPN DTP juga dinilai memberikan kemudahan bagi konsumen.

”Saya katakan PPN DTP ini memang ini satu kebijakan yang sangat bagus. Dan rasanya kami masih butuh. Bahwa memang ada satu upaya dari kami, kita harus mengakselerasi konstruksi supaya syarat itu terpenuhi,” katanya pada kesempatan yang sama.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dirgakkum Korlantas Polri Berganti, Optimalisasi E-TLE Tetap Diprioritaskan
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
DKI kemarin, tarif Transjabodetabek hingga Festival Jakarta Great Sale
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Indonesia Sesalkan Kontak Senjata AS-Iran, Minta Kembali ke Meja Perundingan
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Tito Minta Rp 1 T untuk Daerah Berprestasi: Reward-Punishment Harus Imbang
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Minuman Sehat untuk Menjaga Tubuh Tetap Terhidrasi di Musim Kemarau
• 7 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.