PT Pertamina (Persero) menjelaskan alasan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax naik jadi Rp 16.250 per liter. Mereka mengatakan, kenaikan harga Pertamax karena pengaruh kondisi global.
Harga Pertamax naik 32,11% dibandingkan awal bulan Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter per Rabu (10/6). Pertamina Patra Niaga juga menaikkan harga BBM atau bahan bakar minyak jenis Pertamax Green 95 dari Rp. 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
“Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional, dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat,” kata Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri melalui instagram resmi Pertamina, Kamis (11/6).
Simon mengatakan kenaikan harga BBM non-subsidi ini selain dilakukan di titik-titik SPBU Pertamina, juga dilakukan oleh SPBU Badan Usaha Swasta.
Meski harga Pertamax naik, dia memastikan harga BBM subsidi, yaitu Pertalite dan Biosolar, tidak mengalami perubahan. Harga Pertalite masih tetap di Rp 10.000 per liter dan BioSolar di harga Rp 6.800 per liter sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
Pertamina sebelumnya mengatakan, penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green diputuskan setelah dikoordinasikan dengan pemerintah, dan dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia.
Berikut daftar harga BBM di SPBU Pertamina per 10 Juni 2026:
- Pertamax (RON 92): Rp 16.250 per liter, sebelumnya Rp 12.300 per liter
- Pertamax Green 95 (RON 95): Rp 17.000 per liter, naik dari harga Rp. 12.900 per liter
- Pertamax Turbo (RON 98): Rp 20.750 per liter (tetap)
- Dexlite (CN 51): Rp 23.000 per liter (tetap)
- Pertamina Dex (CN 53): Rp 24.800 per liter (tetap)
Alasan serupa juga diungkapkan Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia. Dia mengatakan, harga minyak dunia saat ini bergerak sesuai kondisi geopolitik yang pada ujungnya berdampak pada harga minyak di tanah air.
“Kalau BBM non-subsidi seperti pertamax memang mekanisme harganya dilepaskan ke pasar. Jadi ketika harga minyak naik, mau tidak mau ada penyesuaian,” kata Anggia saat ditemui di Kementerian ESDM, Kamis (11/6).
Selain kondisi minyak dunia, penetapan harga Pertamax juga mempertimbangkan biaya distribusi, biaya penyimpanan, hingga pajak. Menurutnya dalam kondisi sekarang sudah seharusnya harga Pertamax mengalami penyesuaian. Meski terjadi kenaikan harga mencapai 32%, namun dia mengatakan perubahan ini masih dalam angka keekonomian.
“Bicara BBM, di negara tetangga RON 92 itu harganya Rp 20-21 ribu (per liter). Jadi kenaikan harga saat ini masih berada di bawah keekonomian, ini adalah jalan tengah terbaik,” ujarnya.
Anggia mengatakan imbas kenaikan harga ini, terjadi perpindahan jumlah konsumen yang mengonsumsi Pertamax karena harga BBM Pertamax Turbo sudah naik terlebih dahulu.
“Tidak bisa dipungkiri ada kemungkinan besar pergeseran, kami sudah diskusi dengan Pertamina. Dalam dua hari ini Alhamdulillah perpindahan konsumen tidak terlalu besar dari Pertamax (ke BBM non-subsidi lainnya),” ujarnya.




