Jakarta (ANTARA) - BUMN farmasi anak usaha PT Kimia Farma Tbk, PT Phapros Tbk, melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk menekan dampak tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kepada biaya bahan baku impor dan operasional perusahaan.
“Mengingat fluktuasi kurs rupiah sebagai faktor eksternal maka Phapros akan lebih fokus ke internal karena kita tidak bisa kendalikan itu. Jadi yang kita upayakan kendalikan adalah mitigasi untuk meminimalkan dampak negatifnya,” kata Direktur Produksi Phapros Ida Rahmi Kurniasih dalam Public Expose perseroan usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 di Jakarta, Kamis.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.989 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.944 per dolar AS.
Ida mengatakan tren pelemahan rupiah telah berdampak terhadap kenaikan biaya bahan baku dan biaya pengiriman industri farmasi yang masih bergantung pada impor.
Menurut dia, perseroan telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, antara lain penyusunan skenario pelemahan rupiah terhadap dolar AS, renegosiasi harga dengan pemasok luar negeri, hingga diversifikasi sumber bahan baku.
Baca juga: Phapros bukukan laba Rp27,44 miliar pada 2025
Baca juga: RUPSLB Phapros setujui perubahan susunan komisaris dan direksi
Selain itu, perseroan juga mempertimbangkan penggunaan mata uang selain dolar AS dalam transaksi impor bahan baku.
“Kami terus mencari alternatif bahan baku agar dapat harga yang lebih baik, termasuk kemungkinan melakukan transaksi selain dolar AS. Misalnya sekarang sebagian sudah membeli dalam renminbi (yuan China) dan euro,” ujar Ida.
Ia mengatakan perseroan juga menyiapkan kontrak pengadaan bahan baku lebih awal dengan jangka waktu lebih panjang untuk menjaga stabilitas harga dan kontinuitas pasokan.
Selain melakukan efisiensi lintas divisi, Phapros juga menyiapkan langkah lindung nilai (hedging) untuk meminimalkan dampak fluktuasi kurs terhadap operasional perusahaan.
Direktur Utama Phapros Intan Abdams Katoppo mengatakan industri farmasi nasional masih menghadapi tantangan tingginya ketergantungan impor bahan baku yang mencapai lebih dari 90 persen.
Namun, menurut dia, pertumbuhan kebutuhan layanan kesehatan dan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tetap membuka peluang pertumbuhan industri farmasi dalam negeri.
Pada 2026, perseroan juga menyiapkan ekspansi pasar ekspor ke Timor Leste, Kamboja, Filipina, Myanmar, Papua Nugini dan Peru untuk memperluas pasar internasional.
Intan mengatakan ekspansi pasar luar negeri dilakukan untuk memperluas pasar sekaligus memanfaatkan penguatan dolar AS terhadap rupiah.
“Untuk bisa memanfaatkan momentum penguatan dolar ini, kami mendorong penjualan ke pasar luar negeri seperti Timor Leste, Kamboja, Filipina, Myanmar, Papua Nugini dan Peru,” ungkap Intan.
Selain memperluas pasar ekspor, perseroan juga menyiapkan empat produk baru pada 2026, antara lain multivitamin anak Vicom Grow dan Vicom Star serta antibiotik Pehafosh. Produk multivitamin anak tersebut juga disiapkan untuk mendukung program penurunan stunting pemerintah.
Baca juga: Phapros cetak pertumbuhan laba bersih 113 persen pada kuartal I 2026
Baca juga: Phapros berbalik dari rugi jadi cetak laba Rp27,44 miliar di 2025
“Mengingat fluktuasi kurs rupiah sebagai faktor eksternal maka Phapros akan lebih fokus ke internal karena kita tidak bisa kendalikan itu. Jadi yang kita upayakan kendalikan adalah mitigasi untuk meminimalkan dampak negatifnya,” kata Direktur Produksi Phapros Ida Rahmi Kurniasih dalam Public Expose perseroan usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 di Jakarta, Kamis.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.989 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.944 per dolar AS.
Ida mengatakan tren pelemahan rupiah telah berdampak terhadap kenaikan biaya bahan baku dan biaya pengiriman industri farmasi yang masih bergantung pada impor.
Menurut dia, perseroan telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, antara lain penyusunan skenario pelemahan rupiah terhadap dolar AS, renegosiasi harga dengan pemasok luar negeri, hingga diversifikasi sumber bahan baku.
Baca juga: Phapros bukukan laba Rp27,44 miliar pada 2025
Baca juga: RUPSLB Phapros setujui perubahan susunan komisaris dan direksi
Selain itu, perseroan juga mempertimbangkan penggunaan mata uang selain dolar AS dalam transaksi impor bahan baku.
“Kami terus mencari alternatif bahan baku agar dapat harga yang lebih baik, termasuk kemungkinan melakukan transaksi selain dolar AS. Misalnya sekarang sebagian sudah membeli dalam renminbi (yuan China) dan euro,” ujar Ida.
Ia mengatakan perseroan juga menyiapkan kontrak pengadaan bahan baku lebih awal dengan jangka waktu lebih panjang untuk menjaga stabilitas harga dan kontinuitas pasokan.
Selain melakukan efisiensi lintas divisi, Phapros juga menyiapkan langkah lindung nilai (hedging) untuk meminimalkan dampak fluktuasi kurs terhadap operasional perusahaan.
Direktur Utama Phapros Intan Abdams Katoppo mengatakan industri farmasi nasional masih menghadapi tantangan tingginya ketergantungan impor bahan baku yang mencapai lebih dari 90 persen.
Namun, menurut dia, pertumbuhan kebutuhan layanan kesehatan dan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tetap membuka peluang pertumbuhan industri farmasi dalam negeri.
Pada 2026, perseroan juga menyiapkan ekspansi pasar ekspor ke Timor Leste, Kamboja, Filipina, Myanmar, Papua Nugini dan Peru untuk memperluas pasar internasional.
Intan mengatakan ekspansi pasar luar negeri dilakukan untuk memperluas pasar sekaligus memanfaatkan penguatan dolar AS terhadap rupiah.
“Untuk bisa memanfaatkan momentum penguatan dolar ini, kami mendorong penjualan ke pasar luar negeri seperti Timor Leste, Kamboja, Filipina, Myanmar, Papua Nugini dan Peru,” ungkap Intan.
Selain memperluas pasar ekspor, perseroan juga menyiapkan empat produk baru pada 2026, antara lain multivitamin anak Vicom Grow dan Vicom Star serta antibiotik Pehafosh. Produk multivitamin anak tersebut juga disiapkan untuk mendukung program penurunan stunting pemerintah.
Baca juga: Phapros cetak pertumbuhan laba bersih 113 persen pada kuartal I 2026
Baca juga: Phapros berbalik dari rugi jadi cetak laba Rp27,44 miliar di 2025





