jpnn.com, JAKARTA - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut kelas menengah menjadi pihak yang terpukul dari kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax.
"Sebagaimana diungkapkan salah satu media, ini, kan, mengguncangkan kelas menengah," kata dia ditemui di Aula Ir Soekarno, Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, Kamis (11/6).
BACA JUGA: Harga Pertamax Naik, Politikus PKS: Kelas Menengah Kelompok Paling Terpukul
Dia menyebut pemerintah harus membuat insentif bagi pergerakan sektor riil menyikapi terdampaknya kelas menengah dari kenaikan harga Pertamax.
"Hal-hal yang harus dilakukan adalah suatu insentif bagi pergerakan sektor riil," kata Hasto.
BACA JUGA: Penjelasan Lengkap Pertamina soal Kenaikan Harga Pertamax
Hasto sendiri beranggapan kebijakan menaikkan harga BBM seharusnya menjadi opsi terakhir dipilih pemerintah.
Sebab, kenaikan harga BBM berimbas ke kehidupan.
BACA JUGA: Hasto Anggap Geopolitik Bung Karno Bisa Jadi Rujukan Prabowo Tuntaskan Konflik Timteng
"Ini akan menggerus kemampuan kelas menengah kita yang implikasinya itu juga kepada rakyat bawah," katanya.
Hasto menilai pemerintah seharusnya bisa melakukan dahulu konsolidasi fiskal hingga penghematan demi mencegah harga BBM tak naik.
"Pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu, kritik terhadap MBG yang ternyata juga banyak korupsi di dalam program populis tersebut, ini yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu oleh pemerintah," kata dia.
PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan kenaikan Pertamax dan Pertamax Green yang mulai berlaku 10 Juni 2026.
Pertamax atau RON 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 atau RON 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah," kata Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun, Rabu. (ast/jpnn)
Jangan Lewatkan Video Terbaru:
BACA ARTIKEL LAINNYA... Hasto Kristiyanto Jaga Stamina Demokrasi dengan Lari Pagi di Makati
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Aristo Setiawan




