Wall Street Dibuka Hijau, Investor Amati Data Inflasi Produsen AS

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

Inflasi produsen utama naik lebih tinggi dari ekspektasi, namun inflasi inti masih relatif lebih rendah dari perkiraan pasar.

Wall Street Dibuka Hijau, Investor Amati Data Inflasi Produsen AS (Foto: dok AP)

IDXChannel - Wall Street bergerak menguat pada perdagangan Kamis (12/6/2026) waktu setempat, meski pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Penguatan indeks saham terjadi setelah investor mencermati data inflasi produsen (Producer Price Index/PPI) AS yang menunjukkan gambaran beragam. 

Baca Juga:
Trump Ancam Terus Bombardir Iran Jika Kesepakatan Damai Tak Tercapai

Inflasi produsen utama naik lebih tinggi dari ekspektasi, namun inflasi inti masih relatif lebih rendah dari perkiraan pasar.

Melansir Investing, indeks S&P 500 menguat 0,7 persen ke level 7.315,21. Indeks teknologi Nasdaq Composite naik 1 persen menjadi 25.420,96, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 0,6 persen ke posisi 50.236,11.

Baca Juga:
Harga Emas Jatuh 4 Persen, Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi

Kinerja positif ini menjadi rebound setelah Wall Street tertekan pada sesi sebelumnya akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan belanja kecerdasan buatan (AI) dan prospek suku bunga yang lebih tinggi.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan inflasi produsen pada Mei 2026 naik 1,1 persen secara bulanan (month-to-month), lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar sebesar 0,7 persen dan sama dengan kenaikan pada April.

Secara tahunan, inflasi produsen utama melonjak 6,5 persen, tertinggi sejak November 2022 dan sedikit di atas ekspektasi pasar sebesar 6,4 persen.

Namun demikian, tekanan inflasi inti masih menunjukkan tanda-tanda moderasi. Inflasi produsen inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi hanya naik 0,4 persen secara bulanan dan 4,9 persen secara tahunan. 

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan analis yang masing-masing berada di level 0,5 persen dan 5,4 persen.

Ekonom sekaligus mantan CEO PIMCO, Mohamed El-Erian menilai, data tersebut memberikan sinyal bahwa lonjakan harga energi belum sepenuhnya menular ke komponen harga yang lebih luas.

Menurutnya, pola tersebut sejalan dengan data inflasi konsumen (CPI) AS yang dirilis sehari sebelumnya.

"Inflasi PPI AS pada Mei memang lebih panas dari perkiraan pada level utama, tetapi lebih rendah pada level inti. Ini menunjukkan dampak harga energi terhadap inflasi yang lebih luas masih relatif terbatas untuk saat ini," tulis El-Erian melalui akun media sosial X.

(DESI ANGRIANI)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Imigrasi Medan Deportasi 8 WNA China, Diduga Kerja Jadi Fotografer hingga MUA
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Mbak Wali Ajak Pemilik Toko Tolak Rokok Ilegal demi Jaga Iklim Usaha Sehat di Kota Kediri
• 2 jam laluberitajatim.com
thumb
Melihat Pesawat Berlabel Bouraq dan Camar yang Terbengkalai 20 Tahun di Bandung
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
FEB Unisma Gelar Entrepreneur Month 2026 Peringati Dies Natalis ke-45
• 17 jam laluberitajatim.com
thumb
Nasib Pertashop di Sumbar Terancam akibat Naiknya Harga Pertamax
• 12 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.