Pantau - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah belum menghitung potensi tambahan anggaran subsidi yang mungkin timbul akibat perpindahan konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi setelah kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter.
Purbaya menyampaikan pengakuan tersebut saat dikonfirmasi di Kompleks Parlemen, Jakarta, dengan menyebut kemungkinan pergeseran konsumsi memang dapat terjadi meski diperkirakan tidak berlangsung secara dominan.
Ia mengungkapkan, “belum melakukan perhitungan mengenai potensi tambahan anggaran subsidi yang mungkin timbul akibat perubahan pola konsumsi tersebut.”
Purbaya juga menyatakan belum memiliki rencana untuk menghitung tambahan kebutuhan anggaran subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mungkin muncul akibat penyesuaian harga BBM.
Menurutnya, tidak semua pengguna Pertamax akan beralih menggunakan Pertalite karena sebagian konsumen tetap memilih BBM yang sesuai dengan spesifikasi dan kebutuhan kendaraan mereka.
Ia menambahkan bahwa proyeksi mengenai besarnya perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite menjadi kewenangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Kementerian ESDM Sebut Pergeseran Konsumsi Belum MasifSecara terpisah, Kementerian ESDM menyampaikan bahwa hingga saat ini belum terjadi perpindahan konsumsi BBM secara besar-besaran dari Pertamax ke Pertalite.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengungkapkan, “tingkat pergeseran konsumsi masih relatif kecil.”
Berdasarkan pengamatan pemerintah, perpindahan yang paling terlihat saat ini justru berasal dari pengguna Pertamax Turbo yang beralih menggunakan Pertamax.
Kementerian ESDM menyatakan belum melihat adanya perpindahan masif dari Pertamax ke Pertalite meski pemerintah tetap menyiapkan langkah antisipasi terhadap kemungkinan peningkatan konsumsi BBM bersubsidi tersebut.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah penerapan penggunaan kode batang (QR code) dalam pembelian Pertalite serta meminta Pertamina meningkatkan pengawasan terhadap transaksi BBM bersubsidi.
Harga Pertalite dan Biosolar Dipertahankan hingga Akhir TahunDwi Anggia menegaskan bahwa pemerintah menjamin harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun.
Ia menyampaikan bahwa kebijakan tersebut mencakup Pertalite dan Biosolar sebagai bentuk keberpihakan kepada masyarakat kecil.
Menurut pemerintah, langkah mempertahankan harga BBM bersubsidi bertujuan melindungi kelompok rentan dari gejolak harga energi di tengah dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga mengumumkan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026.
Harga Pertamax dengan RON 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Di sisi lain, harga Pertalite tetap dipertahankan sebesar Rp10.000 per liter dan harga Biosolar bersubsidi tetap berada pada Rp6.800 per liter.




