KEKUATAN sebuah mata uang bukan sekadar persoalan angka di layar perdagangan. Mata uang merupakan cerminan kepercayaan terhadap perekonomian sebuah bangsa. Ketika pada 5 Juni lalu nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp18.171 per dolar AS, yang tertekan bukan hanya pasar keuangan, melainkan juga optimisme dunia usaha dan daya beli masyarakat.
Belakangan, pergerakan rupiah sudah kembali positif. Pada penutupan perdagangan kemarin (Kamis, 11/6), rupiah menguat ke level Rp17.989 per dolar AS, melanjutkan penguatan yang berlangsung sejak Selasa (9/6). Kendati demikian, perbaikan tersebut belum sepenuhnya layak kita rayakan. Nilai itu masih menunjukkan tekanan terhadap mata uang nasional belum benar-benar mereda. Apalagi dengan tantangan global yang masih tinggi.
Dalam situasi seperti ini, pemerintah memang menjadi garda terdepan untuk menjaga tegaknya rupiah. Sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan yang semakin solid patut diapresiasi lantaran mampu membangun kembali kepercayaan pasar. Akan tetapi, mempertahankan martabat rupiah bukanlah tugas pemerintah semata. Ini adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Baca Juga :
Dasco Imbau Masyarakat Jual Dolar, Pekan Depan Diprediksi Rupiah Lebih MenguatUsulan agar pemerintah melibatkan para pelaku usaha, utamanya eksportir nasional, dalam upaya memperkuat rupiah merupakan langkah yang layak didukung. Ekspor yang meningkat akan memperbesar pasokan devisa sehingga kebutuhan dolar di pasar domestik dapat terpenuhi dengan lebih baik. Ketika devisa bertambah, tekanan terhadap rupiah dapat berkurang dan stabilitas ekonomi lebih mudah dijaga.
Koordinasi yang terjalin di antara para pemangku kepentingan belakangan ini juga menjadi sinyal positif bahwa persoalan nilai tukar dipandang sebagai isu strategis nasional. Langkah sinergi otoritas fiskal, moneter, kementerian terkait, hingga pengelola badan usaha negara menunjukkan adanya kesadaran bahwa penyelesaian masalah ekonomi memerlukan kerja kolektif, bukan kebijakan yang jalan sendiri-sendiri.
Selanjutnya, yang mesti dilakukan pemerintah ialah mempercepat pengembangan sektor riil, terutama industri manufaktur, pangan, dan ekspor nonmigas. Sektor-sektor tersebut tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan memperkuat struktur ekonomi nasional yang lebih berdaya tahan.
Dunia usaha pun memiliki tanggung jawab moral sekaligus ekonomi. Dari sisi perusahaan berorientasi ekspor yang menikmati 'keuntungan' kurs dari pelemahan rupiah, semestinya mengimbanginya dengan kontribusi nyata dalam memperkuat perekonomian nasional melalui peningkatan ekspor, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.
Di sisi lain, industri yang masih bergantung pada bahan baku impor tak seberuntung perusahaan eksportir. Mereka akan menghadapi kenaikan biaya produksi yang dampaknya dapat menjalar ke kenaikan harga barang dan menekan daya beli masyarakat.
Ilustrasi mata uang rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI/Susanto.
Masyarakat juga dapat mengambil peran sederhana tapi penting. Menahan dolar untuk kepentingan spekulasi mungkin memberikan keuntungan sesaat, tetapi tidak membantu memperkuat ekonomi. Menambah pasokan valuta asing di pasar domestik akan memberikan ruang yang lebih besar bagi stabilitas nilai tukar dan mengurangi tekanan terhadap rupiah.
Sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa setiap masa memiliki bentuk perjuangannya sendiri. Jika para pendahulu mempertahankan kemerdekaan dengan pengorbanan jiwa dan raga, generasi sekarang dituntut menjaga kedaulatan ekonomi melalui tindakan nyata. Inilah saatnya untuk mengedepankan kepentingan nasional di atas keuntungan jangka pendek.
Rupiah sejatinya simbol kedaulatan dan martabat bangsa. Menjaganya tetap kuat berarti menjaga kepercayaan terhadap Indonesia. Karena itu, pemerintah, dunia usaha, pelaku pasar, dan masyarakat harus berjalan seiring, bahu-membahu menguatkan rupiah sehingga tak mudah tersungkur.




