Harga saham perbankan raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melonjak hingga 19% dalam tiga hari terakhir ke level Rp 5.825 pada perdagangan saham Kamis (11/6).
Dalam seminggu terakhir, BBCA kembali menguat 7,37% dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 718,08 triliun. Berdasarkan data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (11/6), investor asing mencatatkan pembelian bersih atau net buy saham BBCA senilai Rp 387,96 miliar. BBCA menjadi saham dengan net buy terbesar sepanjang perdagangan kemarin.
Selain mencatatkan pembelian bersih oleh pemodal asing dan kenaikan harga, BBCA menjadi sebagai saham dengan nilai transaksi terbesar mencapai Rp 3,12 triliun. Saham bank swasta terbesar di Indonesia ini berkontribusi hingga 14,25% terhadap nilai transaksi saham sepanjang perdagangan Kamis.
Meski harga sahamnya telah melonjak, analis menilai ruang kenaikan BBCA masih terbuka. Dalam riset terbarunya, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 10.900 per saham. Dengan harga Rp 5.650 pada perdagangan sebelumnya, target tersebut mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 92,92%.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan, menyebut BBCA tetap menjadi pilihan utama (top pick) di sektor perbankan. Menurutnya, valuasi saham BBCA saat ini masih berada pada level yang menarik dibandingkan rata-rata historisnya.
Saat ini, valuasi BBCA berada di kisaran mendekati minus dua standar deviasi (-2SD), dibandingkan rata-rata price to book value (P/BV) selama 10 tahun terakhir yang berada di level 2,1 kali.
“Selain itu, posisi BBCA sebagai bank dengan franchise yang kuat dan neraca keuangan yang dominan dinilai mampu memberikan bantalan terhadap pandangan pertumbuhan yang lebih moderat,” tulis Erindra dalam risetnya, dikutip Jumat (12/6).
BBCA kini juga berkomitmen untuk membagikan dividen sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini. Sebelumnya BBCA telah menetapkan pembagian dividen interim termin pertama pada kuartal kedua tahun buku 2026.
Pembagian dividen interim tersebut mempertimbangkan soliditas kinerja perusahaan periode 1 Januari 2026 sampai dengan 31 Maret 2026 dan komitmen perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada jajaran pemegang saham.
Pembagian dividen itu sesuai dengan keputusan direksi dan telah disetujui dewan komisaris BBCA, yaitu perseroan akan membagikan dividen interim termin pertama sebesar Rp 20 per saham yang akan ditebar pada 26 Juni 2026 mendatang.
Adapun cum dividen BBCA di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 15 Juni 2026. Pembagian dividen ini didasarkan raihan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 14,68 triliun, saldo laba ditahan Rp 239,07 triliun dan total ekuitas mencapai Rp 259,35 triliun hingga Maret 2026.
Perusahaan juga memiliki rencana untuk merealisasikan program pembelian kembali atau buyback saham. Program ini telah diputusan sesuai persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan (RUPST) Tahun Buku 2025.
mengungkapkan aksi korporasi itu merupakan lanjutan dari realisasi program buyback saham yang sebelumnya dilaksanakan pada April 2026 lalu. Hendra menegaskan aksi korporasi ini bagian dari kepercayaan BCA terhadap kondisi pasar modal Indonesia.
“Pelaksanaan Buyback merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia. Aksi korporasi ini juga sudah mempertimbangkan kondisi fundamental Perseroan,” ujar Hendra Lembong dalam keterangannya, Jumat (12/6).
Hendra menegaskan, perseroan senantiasa mematuhi prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan mematuhi segala peraturan dan ketentuan yang berlaku. Periode pelaksanaan buyback adalah 12 bulan, yaitu sejak tanggal 12 Maret 2026 sampai dengan 11 Maret 2027, kecuali diakhiri lebih cepat oleh BBCA dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan.
Dana yang disiapkan untuk pelaksanaan buyback mencapai maksimal Rp 5 triliun, termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya transaksi lainnya. Manajemen menilai aksi korporasi tersebut tidak akan memberikan dampak material terhadap kondisi keuangan maupun kegiatan operasional BBCA.
Menurut Hendra, pelaksanaan buyback akan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan perkembangan dan kondisi pasar.
“Kami mengungkapkan apresiasi sebesar-besarnya atas kepercayaan dan dukungan dari segenap pemegang saham. BCA senantiasa berfokus pada fundamental bisnis perseroan, serta melangkah dengan prudent pada tahun 2026,” ujar Hendra Lembong.
Seiring dengan itu BCA juga merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang secara mendadak menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% pada Selasa (9/6).
Manajemen BBCA terus mencermati perkembangan suku bunga acuan, indikator makroekonomi, potensi risiko, serta kondisi likuiditas perbankan dan pasar yang dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran.
Perusahaan mengatakan berbagai faktor tersebut menjadi pertimbangan dalam menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan pertumbuhan kredit yang sehat. Di saat yang sama, perseroan juga secara berkala meninjau tingkat suku bunga kredit agar tetap berada pada level yang dapat diterima pasar serta sejalan dengan daya beli masyarakat.
“Ke depan, kami akan terus mendorong penyaluran kredit yang berkualitas dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko yang disiplin,” ungkap manajemen BCA dalam keterangannya.




