Mengubah Mete Menjadi Tiket Menuju Pasar Ekspor

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

Edward AS
MAKASSAR

Di rak-rak pusat oleh-oleh hingga kabin pesawat, kacang mete asal Sulsel kini hadir dalam kemasan modern dengan beragam cita rasa. Di balik perjalanan itu, terdapat kisah seorang pelaku UMKM yang berhasil mengubah komoditas lokal menjadi produk ekspor bernilai tinggi.

Lily Nuryah masih mengingat betul alasan yang membuatnya beralih usaha beberapa tahun lalu. Perempuan asal Makassar itu awalnya merintis bisnis makanan siap saji pada 2017. Namun kecintaannya terhadap produk khas daerah mendorongnya mengambil langkah berbeda.

Ia melihat kacang mete, salah satu komoditas unggulan Sulawesi Selatan, memiliki potensi besar untuk berkembang jika diolah lebih jauh. Bukan hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dihadirkan sebagai produk premium yang mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.

Di rumah produksinya di Makassar, Lily mulai meracik berbagai inovasi produk berbahan dasar mete. Ia menghadirkan beragam varian rasa, mulai dari original, pedas, bawang putih, rumput laut, cokelat jahe hingga gula aren.

Setiap butir mete yang digunakan dipilih secara ketat. Bahan baku didatangkan langsung dari sentra perkebunan di Kabupaten Sidrap dan Pangkep melalui kerja sama dengan petani serta pengepul lokal.

Bagi Lily, kualitas menjadi modal utama untuk menembus pasar yang lebih luas. Karena itu, proses produksi dilakukan menggunakan metode perebusan khusus tanpa tambahan tepung maupun bahan pengawet sehingga menghasilkan camilan yang lebih sehat.

Dengan dukungan empat karyawan tetap, Bunly Mete kini mampu memproduksi hingga lima ton mete olahan setiap bulan. Produknya tidak hanya mengisi etalase pusat oleh-oleh dan ritel modern, tetapi juga masuk ke belasan hotel berbintang di Makassar, Jakarta, Malang hingga Bali.

Langkah berikutnya datang ketika produk mete kemasan 50 gram milik Bunly Mete dipercaya menjadi bagian dari layanan konsumsi maskapai Garuda Indonesia dan Lion Air.

Namun pencapaian terbesar justru hadir ketika produk asal Makassar itu berhasil menembus pasar internasional.

Mete olahan produksi Bunly Mete kini telah dipasarkan ke Singapura, Hong Kong dan Mesir. Bahkan dalam waktu dekat, ekspansi pasar akan semakin luas setelah perusahaan mengamankan kontrak dagang baru ke Malaysia senilai US$20.000 dan Inggris sebesar US$100.000.

Bagi Lily, perjalanan tersebut bukan sesuatu yang datang secara instan. Di balik keberhasilan menembus pasar ekspor, terdapat proses panjang membangun jaringan, menjaga kualitas produk, serta mencari peluang pasar yang tepat.

Sebagai salah satu UMKM binaan BRI, Bunly Mete mendapat kesempatan mengikuti berbagai program pemberdayaan dan business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari berbagai negara.

Melalui forum-forum tersebut, Lily mulai memperkenalkan produknya kepada pasar internasional dan membuka peluang kerja sama yang sebelumnya sulit dijangkau oleh pelaku usaha kecil.

“Sebagai UMKM binaan BRI, kami mendapat banyak peluang untuk bertemu buyer dan memperluas pasar. Itu yang membantu produk kami bisa masuk ke beberapa negara,” ujarnya.

Kini, fokus Bunly Mete semakin mengarah pada segmen business to business (B2B). Strategi tersebut dipilih karena dinilai mampu membuka pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan volume penjualan.

“Kita memang fokusnya pada penjualan business to business (B2B), jadi kemungkinan akan ada beberapa perjanjian kerja sama lagi ke depan,” kata Lily.

Salah satu pelanggan Bunly Mete, Andi Pratama, mengaku pertama kali mengenal produk tersebut saat berkunjung ke Makassar. Menurutnya, kualitas kacang mete yang renyah serta pilihan rasa yang beragam menjadi alasan dirinya kembali membeli produk tersebut.

“Yang saya suka kualitas metenya konsisten. Ukurannya besar dan rasanya berbeda dengan produk yang biasa saya temukan di pasaran. Sekarang kalau ada teman ke Makassar saya titip beli,” ujarnya.

Bagi Rina, seorang pelanggan asal Makassar, Bunly Mete menjadi pilihan camilan sekaligus buah tangan. Ia menilai kemasan produk yang rapi dan cita rasa premium membuatnya layak bersaing dengan produk makanan ringan dari daerah lain.

“Varian rasa gula aren dan bawang putih favorit saya. Kemasannya juga bagus sehingga cocok dijadikan oleh-oleh atau hadiah,” katanya.

Regional Chief Executive Officer BRI Regional 15 Makassar Argo Prabowo mengatakan pihaknya terus mendorong UMKM agar mampu berkembang dan naik kelas melalui berbagai program pemberdayaan.

Menurutnya, dukungan yang diberikan tidak hanya berupa akses pembiayaan, tetapi juga penguatan kapasitas usaha, pendampingan, hingga pembukaan akses pasar.

“Intinya, bahkan pada saat unbankable, BRI itu hadir. Kami mendampingi mereka mulai dari awal, ibaratnya sejak baru lahir menjadi pengusaha baru,” ujar Argo.

Kisah Bunly Mete menunjukkan bahwa hilirisasi mampu mengubah wajah komoditas lokal. Dari kebun-kebun mete di Sidrap dan Pangkep, produk tersebut kini menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju pasar dunia.

Apa yang dahulu hanya dikenal sebagai hasil perkebunan musiman, kini hadir sebagai produk premium yang membawa nama Sulawesi Selatan ke berbagai negara. Di tangan pelaku UMKM seperti Lily, kacang mete bukan sekadar camilan, melainkan duta kecil yang memperkenalkan potensi daerah ke panggung global. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
GEMS Raih Pinjaman Rp5,5 Triliun untuk Modal Kerja Anak Usaha
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
IRGC Kirim 12 Rudal Balistik ke Yordania, Klaim Hancurkan F-16, F-15, F35 Milik AS
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tak Cukup Hafal Aturan, Integrasi Ilmu Hukum dan Sosiologi Antar Mahasiswa Berbuah Prestasi Nasional
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemenag Dampingi Eks Napiter Kembali ke Masyarakat, Targetkan Hidup Normal Tanpa Stigma
• 11 jam laludisway.id
thumb
Hasto Anggap Geopolitik Bung Karno Bisa Jadi Rujukan Prabowo Tuntaskan Konflik Timteng
• 9 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.