Kasus Bullying Bocah 6 Tahun di Jakpus: Sempat Kritis, Keluarga Tolak Damai

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Seorang anak berinisial MWP (6 tahun) menjadi korban persekusi di Taman Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat pada Minggu (7/6) sore. Dalam rekaman pengawas, korban tersebut digotong lalu digesekkan ke tiang listrik dan tersetruk oleh dua orang anak di taman tersebut, yakni R (18) dan L (13).

Ibu korban, Vira (26), menjelaskan, perundungan kepada anaknya terjadi pada pukul 19.30 WIB. Akibatnya, anaknya dalam kondisi kritis dan sempat dilarikan ke rumah sakit.

“Langsung saya bawa lari ke RSCM jam 8 malam, saya bawa ambulans juga. Setelah di perjalanan anak saya udah enggak ada napas gitu, masih kritis dipakein alat itunya juga kan, enggak bisa, pakai oksigen juga enggak bisa. Setelah itu dikasih obat dalam sama dokter dan langsung masukin ke ruang ICU,” jelas Vira.

Kondisi itu membuat anaknya berada di ruang ICU hingga Rabu (10/6) sore.

“Kritis, kritis. Sempat enggak sadar. Enggak koma, kritis aja. Di ICU-nya itu dia dari hari Minggu. Jadi dia belum pindah ke ruang perawatan,” ujar Vira.

Vira juga menyebutkan kondisi sakit anaknya terletak di area kepala. Hal itu masih terjadi walaupun telah dirawat di rumah sakit.

“Dia dari nyeri kepala, nyeri kepala terus dibawanya efeknya panas gitu. Panas udah dikasih obat ya dari dokter RSCM, tapi enggak ada perubahan juga gitu,” ujar Vira.

“Tapi nanti kalau misalkan enggak ada perubahan juga setelah tiga hari pengin dibawa lagi ke RSCM gitu,” sambungnya.

Bahkan, kata Vira, kepala anaknya mengalami luka. Akibatnya, kini ada benjolan di kepala anaknya.

“Ada [benjol dan darah]. Itu katanya dibentur ke tiang listrik tersebut,” sebut Vira.

Saat ini anaknya telah sadar. Meski begitu korban masih mengalami trauma.

Vira mengungkapkan akan membawa anaknya untuk mendatangi psikolog. Namun hal tersebut akan dilakukan bila kondisi fisik anaknya telah pulih.

“Kalau itu sih rencana dokter sih minggu depannya pengin ke psikolog gitu, kejiwaan juga gitu. Kalau masih keadaan kayak gini belum bisa, soalnya masih keadaan sakit,” ungkap Vira.

Vira mengatakan saat ini kondisi anaknya masih mengalami sakit dan demam tinggi.

“Masih keadaan sakit, tadi kan panas ya saya bawa lagi tuh ke Puskesmas gitu. Tadi 40 derajat gitu. Hampir biru bibirnya sama kakinya biru,” tutur Vira.

Bukan yang Pertama

Vira mengungkapkan anaknya bukan kali pertama dirundung oleh kedua pelaku. Peristiwanya terjadi dua pekan sebelum kejadian di tiang listrik.

"Pernah (sebelumnya dirundung), sebelum kejadian ini anak saya pernah sendalnya diumpetin di pohon. Pelakunya juga sama,” kata Vira saat ditemui wartawan di Jalan Anyer, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/6).

Selain itu, Vira mengatakan anaknya juga dipalak sebelum perundungan terjadi. Hal itu diketahuinya dari anak lain di Taman Kramat Pulo dan tidak hanya terjadi kepada anaknya.

“Ini sih temennya, ‘dia abis ini, Bu dipalak minta uang sama temennya,’ gitu katanya sih. Nah sebelum W dipintain uangnya, sebelumnya ada lagi perempuan yang dipintain gitu, anak SD,” tutur Vira.

Vira menjelaskan, pemalakan itu sering terjadi kepada anaknya. Hal itu diketahui dari keterangan anaknya yang harus memberikan sejumlah uang agar bisa bermain di taman tersebut.

Kesaksian Korban

Saat sadar dari fase kritis, korban sempat mengaku kepada ibunya dipukul oleh para pelaku.

“Pas dia sadar besok harinya dia ngomong gini, ‘Mama aku kemarin habis digebuk sama teman-teman’,” kata Vira kepada wartawan di Jalan Anyer, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/6).

Vira pun menanyakan kepada anaknya alasan ia dipukul. Kata Vira, anaknya mengatakan karena dia tidak membawa uang.

“‘Kenapa?’, ‘Soalnya aku nggak dikasih uang, soalnya kan aku kalau main ke lapangan harus minta uang dulu’ katanya,” sebut Vira.

Vira mengatakan, pemalakan terhadap anaknya sudah seringkali terjadi. Korban harus memberikan uang agar mendapatkan teman.

“‘Kok gitu sih, Dek?’, ‘Iya kalau aku nggak dikasih uang aku nggak ditemenin sama mereka,’ gitu. ‘Maksudnya setoran uang?’, ‘Setoran uang ke mereka’ gitu,” ungkap Vira.

Anak Vira bukanlah satu-satunya korban yang dipalak. Diketahui bahwa uang palak tersebut digunakan pelaku untuk menjajani diri mereka sendiri.

“‘Emang Dede aja?’, ‘Enggak sih, anak perempuan juga waktu itu’, ‘Itu uangnya buat apa, Dek?’, ‘Buat dia jajan-jajan’ katanya,” ucap Vira.

Tolak Berdamai dengan Pelaku

Keluarga korban sudah bertekad untuk melanjutkan kasus ini ke ranah hukum. Tekad ini tidak goyah meskipun sempat ada mediasi antara keluarga korban dengan keluarga pelaku yang ditengahi pihak kepolisian pada Selasa (9/6).

“Kalau dari pihak polisi sih bilangnya gimana kelanjutannya (setelah mediasi). Terus kalau kata suami aku katanya ini aja, berproses lanjut aja gitu ke hukum,” kata Ibu korban, Vira (26) saat ditemui di wartawan di rumahnya, Kamis (11/6).

Vira menjelaskan, keluarga pelaku sempat meminta maaf kepada keluarga korban saat mediasi tersebut. Namun Vira sekeluarga tetap akan melanjutkan kasus ini di kepolisian.

“Dia (keluarga pelaku) minta maaf dan mohon-mohon sujud kepada bapaknya MWP dan keluarga saya. Keluarga saya pun enggak terima gitu,” sebut Vira.

Bukan Autis

Vira juga membantah informasi yang beredar bahwa anaknya merupakan penyandang disabilitas. Ia menyebut, anak lelakinya tersebut memiliki kondisi ADHD, bukan autis seperti yang beredar.

“Iya, ADHD,” kata Vira.

Vira mengaku sakit hati ada tuduhan bahwa anaknya merupakan seorang autis. Tidak hanya itu, anaknya juga dituduh hal lainnya.

“Kan saya sakit hatinya anak saya kok dikatain anak ini gitu, anak psiko, anak idiot, anak apa namanya, autis, anak stres gitu,” tutur Vira.

“Ini tuh anak saya normal-normal aja gitu,” imbuhnya.

Vira mengatakan tuduhan tersebut tidak terbatas dari anak-anak, tetapi datang juga dari warga sekitar Taman Kramat Pulo.

“Orang situ juga katanya gini, ‘anaknya emang autis ya? Kok dikeluarin dibiarin gitu aja sih?’ gitu,” sebut Vira.

Vira mengatakan, karena faktor ADHD, anaknya memiliki keaktifan berlebih dan terkadang usil. Namun, kata Vira, hal itu sudah tak terjadi lagi. Bahkan anaknya lebih sering diusilin.

“Kalau di sekolah sih dia masih suka usil ya, suka jahil, suka nangisin temennya juga, cuma nggak begitu parah sih maksudnya. Kalau misalkan di rumah, kalau di sini dia enggak pernah usil sih semenjak saya tinggal di sini gitu. Terus semenjak saya pindah ke sana (kawasan Senen) selalu begitu, diusilin gitu,” tutur Vira.

Tiang Listrik Menyetrum

Petugas Dinas Pertamanan dan Hutan Jakarta Pusat, Ilham, mengungkap penyebab tiang listrik di taman Kramat Pulo bisa mengeluarkan listrik hingga dijadikan alat untuk mempersekusi korban.

“Karena ini kan namanya kabel bawah tanah ya, itu kan sifatnya dinamis. Ada pergeseran. Padahal taman ini sudah berdiri sekian bulan. Kenapa dulu tidak, tapi sekarang kejadian begini? Padahal tidak diapa-apakan. Itu artinya kabel dinamis ya, bergerak,” tutur Ilham.

Mengenai pemicu pergerakan kabel tersebut, kata Ilham, dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti halnya tertarik oleh akar. Menurut Ilham, hal itu lumrah terjadi.

“Entah tertarik, ada akar, dan lain-lain. Nah itulah yang menyebabkan mungkin ada gesekan antara kabel dengan besi, misalnya. Itu menyebabkan induksi. Kejadian seperti itu normal, di mana-mana sering terjadi,” jelas Ilham.

Ilham menerangkan permasalahan itu telah selesai diperbaiki pada Senin (8/6). Meski begitu, penanganannya dilakukan tak lama setelah kejadian persekusi terhadap korban.

"Memang ada sedikit setrum tadi ya, sekitar 40 volt. Itu kan kemarin dites juga pakai alat itu, avometer. Nah sekarang posisinya sudah normal, tidak ada lagi,” ucap Ilham.

Polisi Periksa Ortu Pelaku-Rekaman CCTV

Kasus ini diselidiki polisi. Polres Metro Jakarta Pusat yang menangani kasus ini telah memeriksa sejumlah saksi, yaitu orang tua kedua pelaku dan saksi mata di lokasi kejadian.

“Hari ini Satres PPA-PPO melakukan pemeriksaan saksi-saksi di antaranya orang tua korban dan saksi kejadian,” ujar Kasat PPA PPO Jakarta Pusat, Kompol Rita Oktavia Shinta, saat dihubungi, Kamis (11/6).

Selain itu, polisi juga tengah memeriksa rekaman kamera CCTV di lokasi kejadian.

“Untuk rekaman CCTV sudah kita dapatkan dan sedang diperiksa,” kata Rita.

Rita mengatakan polisi tengah mendalami kejadian ini untuk menentukan sangkaan pasal terhadap para pelaku.

“Saat ini kami sedang kan melakukan penyidikan, menggali lagi, mau mendalami lagi kejadiannya untuk menentukan pasalnya,” sebut Rita.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dadan Cs Tersangka, Langkah Kejagung Jadi Kunci Benahi Tata Kelola MBG
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Kabar Bahagia untuk Nelayan Maluku Utara, Sherly Tjoanda Genjot Bantuan Mesin Kapal hingga Akses BBM Subsidi
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Dirut Pertamina Buka Suara soal Kenaikan Pertamax Sentuh Lebih dari Rp16.000
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Polisi Temukan Unsur Pelanggaran Kasus 11 Bayi di Rumah Bidan Sleman
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Bejat! Pelatih Senior Perbakin Surabaya Cabuli Atlet Menembak Berkali-Kali
• 16 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.