Reformasi Jilid II Tidak Relevan, Indonesia Dinilai Masih Jauh dari Krisis 1998

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Wacana yang mengaitkan pelemahan nilai tukar rupiah dengan kemungkinan terjadinya Reformasi Jilid II dinilai tidak relevan karena tidak memiliki dasar kuat. Analis Politik dari Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Kristian Widya Wicaksono menegaskan, kondisi Indonesia saat ini sangat berbeda dibandingkan situasi krisis multidimensi yang terjadi pada 1998.

"Secara ilmiah, kondisi tahun 2026 tidak bisa disamakan dengan krisis hebat tahun 1998," kata Kristian, Jumat, 12 Juni 2026.

Baca Juga :
Prabowo: Indonesia Akan Tetap Jadi Negara Demokrasi
Usai Kalah dari Australia, Nova Arianto Ambil Keputusan Tak Terduga untuk Timnas Indonesia U-19

Menurut Kristian, meskipun Indonesia tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat dinamika global, kondisi tersebut belum dapat disamakan dengan krisis yang memicu perubahan politik besar hampir tiga dekade lalu. Ia menilai berbagai indikator ekonomi dan stabilitas nasional masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.

“Indonesia saat ini sedang berada dalam fase stres ekonomi yang berat, tetapi belum masuk dalam fase kehancuran makro seperti 1998," jelasnya.

Krisis 1998 terjadi akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari runtuhnya sistem keuangan, lonjakan inflasi, gelombang pemutusan hubungan kerja, hingga menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara. 

"Pada 1998, Indonesia mengalami krisis sistemik dengan kontraksi ekonomi mencapai 10-15 persen dan inflasi melampaui 80 persen," ungkap Kristian.

Kristian menjelaskan, pemerintah saat ini masih memiliki instrumen kebijakan fiskal dan moneter yang relatif kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Kondisi makroekonomi saat ini menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Bank Indonesia masih melaporkan surplus perdagangan yang berkelanjutan dan inflasi yang relatif tetap terkendali dalam kisaran sasaran, meski di tengah tekanan yang meningkat," katanya.

Masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh narasi yang membandingkan kondisi saat ini dengan krisis 1998 secara langsung. Menurutnya, tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia perlu disikapi secara rasional dan berbasis data, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan di tengah masyarakat.

Secara keseluruhan, kondisi Indonesia saat ini masih berada dalam koridor yang terkendali meskipun menghadapi tekanan ekonomi global. 

Berbagai indikator menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap lebih kuat dibandingkan periode krisis 1998, sehingga narasi yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan peluang terjadinya Reformasi Jilid II dinilai belum memiliki landasan yang memadai dan berpotensi menyesatkan persepsi publik.

Baca Juga :
Raffi Ahmad Tempuh Jalur Hukum Soal Tuduhan Suap, Kumpulkan Akun Penyebar Fitnah
Pramono Targetkan Transaksi di Jakarta Fair 2026 Tembus Rp8 Triliun
Terpopuler: Motor yang Aman Minum Pertalite, BYD Jadi Sorotan, dan Aturan Knalpot Bising

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Setujui Investasi Pembangkit Rp70 Triliun Milik Jusuf Kalla!
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kelas Menengah Paling Menderita, Harga Pertamax Rp16.250 Bikin Beban Makin Berat
• 17 jam laludisway.id
thumb
Bahlil Beberkan Alasan Penyesuaian Tarif BBM Nonsubsidi
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menang Beruntun, Herdman Ingatkan Timnas Indonesia Tetap Rendah Hati
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
RI-Rusia Perluas Kerja Sama Rantai Pasok Industri hingga Investasi
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.