Houston: Harga minyak dunia ditutup melemah pada Kamis, 11 Juni 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan mengisyaratkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Teheran semakin dekat.
Dikutip dari Investing.com, Jumat, 12 Juni 2026, harga minyak mentah Brent kontrak Agustus turun 2,9 persen menjadi USD90,37 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juli melemah 2,7 persen menjadi USD87,61 per barel.
Pasar minyak bergerak sangat volatil sepanjang perdagangan seiring derasnya perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak sempat bergerak naik turun setelah Trump mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran dan menargetkan Pulau Kharg yang merupakan terminal ekspor minyak utama negara tersebut.
Namun, harga minyak berbalik turun tajam setelah Trump mengumumkan pembatalan serangan militer dan menyebut pembahasan mengenai kesepakatan dengan Iran telah mencapai tahap akhir.
"Berdasarkan fakta, diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya telah membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini," tulis Trump melalui platform Truth Social.
Trump juga menyatakan poin-poin utama kesepakatan telah memperoleh persetujuan dari berbagai pihak yang terlibat dan proses finalisasi dokumen tengah berlangsung.
Meski demikian, sejumlah laporan media internasional menyebut proses negosiasi masih berlangsung dan belum ada konfirmasi resmi dari Iran mengenai tercapainya kesepakatan final.
Baca Juga :
Danantara Pede Kontribusi BUMN ke Negara Bisa Naik Jadi Rp800 Triliun(Ilustrasi. Foto: Freepik) Pasar tetap mewaspadai Selat Hormuz Sebelum pengumuman tersebut, kekhawatiran pasar sempat meningkat setelah Trump menyatakan akan menargetkan Pulau Kharg dan infrastruktur energi Iran lainnya.
Pulau Kharg merupakan terminal utama yang menangani sebagian besar ekspor minyak mentah Iran. Gangguan terhadap fasilitas tersebut berpotensi mengurangi pasokan minyak global dan mendorong lonjakan harga energi.
Pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia yang menjadi lintasan sebagian besar pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia.
Analis ING menilai risiko terhadap rantai pasok energi global masih tinggi meskipun terdapat sinyal deeskalasi konflik.
"Meskipun Iran mungkin tidak dapat menutup Selat Hormuz secara resmi, situasi keamanan dapat membuat lalu lintas kapal menjadi lebih sulit dan meningkatkan risiko bagi pelayaran energi," tulis ING dalam catatannya.
Ketegangan terbaru terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan dalam beberapa pekan terakhir. Konflik tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Persediaan minyak AS Menyusut Selain perkembangan geopolitik, pasar juga mencermati data persediaan minyak Amerika Serikat yang menunjukkan penurunan cukup tajam.
Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah turun 7,2 juta barel pada pekan yang berakhir 5 Juni. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan analis yang memperkirakan penurunan sekitar 3 juta barel.
Penurunan stok terjadi di tengah tingginya ekspor minyak AS selama konflik Timur Tengah berlangsung.
Menurut penyedia data pengiriman Marhelm, Amerika Serikat menjadi eksportir minyak terbesar dunia selama tiga bulan berturut-turut dengan volume ekspor mencapai 10,5 juta barel per hari pada Mei.
Selain mengandalkan produksi domestik, pemerintah AS juga memanfaatkan Strategic Petroleum Reserve (SPR) atau cadangan minyak strategis untuk membantu menjaga stabilitas pasokan dan meredam gejolak harga selama konflik berlangsung.
Data terbaru menunjukkan cadangan minyak strategis AS kini berada pada level terendah sejak Agustus 2023.




