Dolar AS Melemah di Tengah Harapan Kesepakatan AS dan Iran

metrotvnews.com
4 jam lalu
Cover Berita

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Kamis, 11 Juni 2026, setelah muncul optimisme mengenai proses negosiasi antara Washington dan Teheran yang dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dikutip dari Investing.com, Jumat, 12 Juni 2026, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,3 persen ke level 99,69.

Sentimen pasar membaik setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan menyatakan pembahasan mengenai kesepakatan dengan Teheran telah memasuki tahap akhir.

"Kami baru saja mencapai penyelesaian yang sangat baik untuk perang dengan Iran dan saat ini sedang memfinalisasi dokumen-dokumen yang diperlukan," kata Trump kepada wartawan.

Trump juga menyebut proses penandatanganan kesepakatan berpotensi dilakukan dalam beberapa hari ke depan.

Meski demikian, sejumlah laporan media internasional menyebut proses negosiasi masih berlangsung dan belum terdapat konfirmasi resmi dari Iran bahwa kesepakatan final telah tercapai.

Optimisme terhadap meredanya ketegangan geopolitik mendorong investor mengurangi permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS, sehingga menekan pergerakan mata uang tersebut. Inflasi AS masih tinggi Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati data inflasi produsen AS yang dirilis Kamis waktu setempat.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) naik 1,1 persen secara bulanan pada Mei, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,7 persen.

Secara tahunan, PPI meningkat 6,5 persen, tertinggi sejak November 2022.

Baca Juga :

Wall Street Melonjak Usai Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Tercapai


(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Sementara itu, PPI inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi naik 0,4 persen secara bulanan dan 4,9 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan perkiraan analis.

Data tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi di AS masih relatif tinggi. Namun, pasar masih menunggu arah kebijakan Federal Reserve pada pertemuan pekan depan di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh.

Sejumlah analis menilai peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil, sementara kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat masih menjadi perhatian investor. Euro menguat setelah ECB naikkan suku bunga Pergerakan pasar valuta asing juga dipengaruhi keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) yang menaikkan tiga suku bunga kebijakan utamanya sebesar 25 basis poin.

Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan keputusan tersebut diambil secara bulat sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan inflasi, terutama akibat kenaikan harga energi.

"Keputusan yang kami ambil hari ini untuk menaikkan tiga suku bunga kami sebesar 25 basis poin merupakan keputusan bulat tanpa keberatan," ujar Lagarde.

Menurut dia, lonjakan harga energi sejak awal Maret menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan tersebut.

Pasca-keputusan ECB, euro menguat 0,4 persen terhadap dolar AS menjadi USD1,1578.

Sementara itu, yen Jepang juga menguat setelah sebelumnya sempat melemah hingga mendekati level yang pernah memicu intervensi pemerintah Jepang. Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga Bank Sentral Jepang (BoJ) yang dijadwalkan diumumkan pekan depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kenapa Gen Z Lebih Pilih Healing daripada Nabung? Ini Kata teman kumparan
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Tiket Piala Dunia 2026 Dibanderol Rp1,3 Miliar, Sikap Presiden FIFA Jadi Sorotan
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Mendes PDT Kukuhkan 200 Peserta Program Pemuda Bangun Desa untuk Belajar ke Jepang dan Dorong Pembangunan Desa
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Efisiensi Lonjakan Harga BBM, Pemkot Pontianak Kaji Sewa Kendaraan Listrik
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Anggaran Bedah Rumah Terserap Rp 1,15 T, Jabar Penerima Terbanyak
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.