Jakarta, tvOnenews.com - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno angkat bicara soal sejumlah kapal tanker Pertamina alias milik Indonesia yang masih tertahan di Selat Hormuz.
Menurut Havas, salah satu penyebabnya lantaran perusahaan asuransi kapal menolak menanggung biaya jika kapal tersebut melintasi Selat Hormuz.
“Jadi, kalau untuk kapal, itu dalam industri kapal, keputusan untuk navigasi dalam kondisi konflik, itu pertama tentunya ada jaminan dari negara. Negara maksudnya yang berkonflik di situ,” kata Havas di Gedung DPR, Jakarta Pusat, dikutip Jumat (12/6/2026).
“Tapi ada satu lagi yang tidak banyak diketahui adalah asuransi. Jadi, saat ini kondisinya adalah asuransi itu asuransi kapal, ya. Tidak ada yang mau menanggung kalau dia masuk Selat Hormuz,” lanjutnya.
Menurut Havas, kondisi ini tidak hanya terjadi pada kapal tanker dari Indonesia. Beberapa kapal dari negara lain juga tertahan karena perusahaan asuransi enggan memberikan biaya pembebasan.
Dia menjelaskan perusahaan asuransi masih bersedia menanggung biaya jaminan kapal ketika kapal tersebut berada di wilayah yang relatif aman.
“Jadi ada yang kalau dia parkir di pulau atau di pantai itu ya di-cover asuransi. Ini berlaku semua, ya. Enggak cuma di Indonesia saja. Jadi, begitu kapal itu dia masuk ke dalam selat yang sempit, asuransi langsung tidak mau menanggung,” tuturnya.
Meski demikian, Havas menyebut pemerintah Indonesia terus melakukan diskusi dengan pemerintah Iran agar kapal milik Indonesia bisa keluar dari Selat Hormuz.
“Tapi kan kondisi politiknya kan memanas, ya, eskalasi gitu. Dan ya kita wait and see, terpaksa,” pungkasnya.
Diketahui, dua kapal milik PT Pertamina International Shipping yakni Gamsunoro dan Pertamina Pride masih tertahan di Teluk Arab dan belum bisa melewati Selat Hormuz.
Dua kapal itu disebut membawa pasokan minyak mentah sekitar 2 juta barrel. (saa/muu)




