Dalam Seminggu Harga Minyak Sudah Anjlok 7% ke US$89,41

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (12/6/2026), memperpanjang koreksi tajam yang sudah berlangsung sejak awal pekan. Meredanya risiko konflik langsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat premi risiko geopolitik yang sempat membengkak mulai menguap dari pasar.

Menurut data Refinitiv hingga pukul 09.50 WIB, harga minyak Brent berada di US$89,41 per barel, turun 1,07% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$90,38 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 1% ke US$86,83 per barel dari US$87,71 per barel.

Pelemahan hari ini memperpanjang tren penurunan yang cukup dalam sepanjang pekan. Brent telah merosot dari US$97,81 per barel pada 3 Juni menjadi US$89,41 per barel saat ini, atau turun sekitar 8,6%. Dalam periode yang sama, WTI jatuh dari US$96,02 menjadi US$86,83 per barel, terkoreksi hampir 9,6%.


Tekanan terbesar datang setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Sebelumnya pasar sempat mengantisipasi kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas setelah serangkaian aksi saling serang antara kedua negara. Ancaman tersebut sempat mendorong harga minyak mendekati US$100 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Reuters melaporkan Trump pada Kamis waktu setempat memutuskan untuk membatalkan rencana serangan dan menyatakan pembicaraan dengan Iran mengalami kemajuan. Langkah tersebut langsung mengubah sentimen pasar. Pelaku pasar yang sebelumnya memburu aset energi untuk mengantisipasi risiko pasokan mulai melakukan aksi ambil untung sehingga harga minyak bergerak turun tajam.

Padahal, risiko di kawasan Timur Tengah sebenarnya belum sepenuhnya hilang. Iran pada Rabu lalu mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan memperingatkan kapal yang melintas akan menghadapi ancaman serangan. Jalur laut tersebut memiliki peran vital bagi perdagangan energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati kawasan itu setiap hari.

Namun pasar tampaknya mulai memandang ancaman tersebut dengan lebih hati-hati. Militer AS menyatakan lalu lintas kapal komersial masih terus berlangsung di Selat Hormuz. Artinya, gangguan fisik terhadap pengiriman minyak global sejauh ini belum terjadi meskipun ketegangan politik masih tinggi.

Koreksi harga juga menjadi semakin tajam karena posisi minyak sebelumnya sudah berada pada level yang sangat tinggi. Brent sempat menyentuh US$97,81 per barel pada awal Juni, level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Ketika risiko perang langsung mulai mereda, sebagian besar premi geopolitik yang terakumulasi selama beberapa pekan terakhir ikut terpangkas.

Meski demikian, analis IG Tony Sycamore menilai pasar belum sepenuhnya keluar dari bayang-bayang risiko kenaikan harga. Menurutnya, selama harga minyak masih bertahan di area support rendah US$80 per barel, potensi penguatan kembali masih terbuka. Pasalnya, ketidakpastian di Timur Tengah belum benar-benar berakhir dan status Selat Hormuz tetap menjadi faktor yang akan terus dipantau pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan.

CNBC Indonesia 


(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: FTSE Russel Hapus 4 Saham RI - Rupiah Melemah ke Rp 17.720/USD

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Bakal Revitalisasi 71.744 Sekolah, Target Buka 1,1 Juta Lapangan Kerja
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Piala Dunia 2026 di Tengah Pusaran Geopolitik Global
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Habis Sarapan Bubur, Napi Korupsi Rutan Kebonwaru Bandung Tewas Kena Serangan Jantung
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Gunung Semeru Meletus 18 Kali dalam 6 Jam, BPBD Lumajang Siagakan Personel
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Jadwal Salat Kota Makassar 12 Juni 2026
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.