Harga Minyak Turun di Tengah Menguatnya Sinyal Kesepakatan Iran-AS

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak dunia turun di tengah sinyal menuju kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan tersebut dapat diteken paling cepat akhir pekan ini.

Harga Brent turun 1.1% menjadi US$ 89,38 per barel pada pukul 09.51 waktu Singapura. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate turun 1% menjadi US$ 86,79 per barel.

Sebelumnya, Presiden AS itu telah berulang kali menyatakan kesepakatan dengan Iran sudah sedikit lagi tercapai, namun hingga saat ini belum satu pun yang benar-benar terwujud. 

Konflik tersebut menyebabkan hampir seluruh aktivitas di Selat Hormuz terhenti, sehingga menghambat pasokan penting minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam ke pelanggan global, sekaligus memicu tekanan inflasi. Iran hingga saat ini belum menyetujui hal apapun untuk perjanjian damai dengan AS.

Meski sinyal menguat, Trump sebelumnya sempat mengancam akan kembali menyerang Iran dan mengambil alih infrastruktur minyaknya. Namun dia lalu mengumumkan serangan dibatalkan dan kesepakatan sudah dekat, meskipun belum ada konfirmasi dari Teheran.

Risiko terhadap jalur pengiriman di Selat Hormuz masih tetap ada. Pasukan AS menembak jatuh dua drone serang Iran pada malam hari yang tampaknya menargetkan kapal-kapal komersial. Iran menyatakan jalur perairan tersebut akan ditutup bagi semua jenis kapal setelah aksi permusuhan terbaru dari AS.

Trump juga mengatakan bahwa penandatanganan kesepakatan dapat berlangsung paling cepat akhir pekan ini di Eropa, dan Wakil Presiden JD Vance akan hadir jika hal tersebut terlaksana. Ia juga menyatakan pemimpin tertinggi Iran telah menyetujui kesepakatan tersebut, meskipun ia menegaskan bahwa perjanjian itu belum final.

Menurut Trump, kesepakatan tersebut akan mengaktifkan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan komitmen Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Program nuklir Iran dan aset-asetnya yang dibekukan telah lama menjadi titik perselisihan yang menghambat tercapainya kesepakatan sejak kedua pihak menyetujui gencatan senjata pada bulan April.

Jika kedua belah pihak akhirnya mencapai kesepakatan, masih ada berbagai hambatan yang dapat menghalangi pemulihan penuh arus minyak secara normal. Di antaranya adalah pembersihan ranjau di Selat Hormuz, ladang minyak yang dihentikan operasinya karena perang mungkin memerlukan waktu berbulan-bulan untuk kembali berproduksi, serta perbaikan kerusakan infrastruktur energi akibat serangan drone dan rudal.

Beberapa kapal tanker memang mulai keluar dari Teluk Persia melalui selat tersebut, namun terdapat tanda-tanda di berbagai wilayah dunia persediaan minyak sedang menyusut secara drastis. Stok bahan bakar di Singapura berada pada level terendah sejak 2013, sementara persediaan minyak mentah AS telah menurun dengan cepat selama lima minggu terakhir.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berantas Peredaran Senpi Ilegal di Sumsel, Pelaku Bakal Ditindak Tegas
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Update BLT Kesra Rp900.000, Ini Daftar Prioritas Penerimanya
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Kronologi Penangkapan Buronan Narkoba Internasional di Bali, Sembunyi di Toilet Jet Pribadi
• 6 jam lalukompas.com
thumb
3 Anggota Brimob di NTT Ditusuk Oknum TNI: Propam-Pomal Investigasi
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Beda Jalan Lawan Iran, Pakar Sebut Israel Mustahil Bertahan Tanpa Bantuan AS
• 12 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.