Anggota DPR Heri Gunawan hingga Eks Staf Ahli Mangkir dari Panggilan KPK

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan, Anggota DPR Heri Gunawan mangkir dari panggilan tim penyidik untuk diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan korupsi dana corporate social responsibility (CSR) Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan, penyidik sudah melakukan pemanggilan kedua terhadap Heri Gunawan.

“HG selaku Anggota DPR Komisi XI, yang tidak memberikan keterangan ketidakhadirannya kepada penyidik. KPK tentunya akan melakukan pemanggilan dan penjadwalan ulang kedua untuk HG,” kata Budi dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).

Baca juga: KPK Tegaskan Tak Ada Tekanan Politik Tangani Kasus CSR BI-OJK

Selain Heri Gunawan, Budi mengatakan, sejak Selasa (9/6/2026) sampai dengan Kamis (11/6/2026), terdapat 9 saksi yang mangkir dari panggilan KPK.

Salah satunya, eks staf ahli Fitri Assiddikki dan Kartini Buchari selaku Ibu Rumah Tangga.

“KB, Ibu Rumah Tangga, juga kembali tidak hadir tanpa memberikan keterangan. Penyidik sendiri sudah melakukan pemanggilan kedua terhadap KB dan diharapkan bisa kooperatif memenuhi pemanggilan,” ujarnya.

Kemudian, tujuh saksi lainnya yang mangkir di antaranya, Muhammad Baden Solehudin selaku swasta; Tia Mutia selaku mahasiswi; Ponidin selaku swasta; Eka Kartika selaku swasta/ibu rumah tangga; Herry Linggar selaku pihak swasta; dan Dede Ade Standi selaku swasta.

Budi mengatakan, Heri Gunawan dan sembilan saksi tak memenuhi panggilan KPK tanpa keterangan.

Karenanya, KPK meminta tersangka dan saksi untuk kooperatif dengan memenuhi panggilan.

“KPK menegaskan kepada seluruh pihak agar kooperatif dan memenuhi panggilan penyidik. Agar proses hukum berjalan efektif,” tuturnya.

Baca juga: KPK Belum Tahan 2 Anggota DPR Tersangka Korupsi CSR BI-OJK karena Banyak OTT

Budi mengatakan, pemanggilan para saksi ini dibutuhkan untuk didalami terkait aliran uang dan penelusuran aset atas dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) oleh Heri Gunawan.

Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan dua Anggota DPR RI, Heri Gunawan dan Satori sebagai tersangka terkait kasus dana CSR BI-OJK Tahun 2020-2023, pada Kamis (7/8/2025).

KPK menduga, yayasan yang dikelola Heri Gunawan dan Satori telah menerima uang dari mitra kerja Komisi XI DPR RI, yaitu Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Namun, keduanya diduga tidak melaksanakan kegiatan sosial sebagaimana dipersyaratkan dalam proposal permohonan bantuan dana sosial tersebut.

Asep mengatakan, Heri Gunawan diduga menerima uang Rp 15,86 miliar. Rinciannya sebanyak Rp 6,26 miliar dari BI melalui kegiatan PSBI, senilai Rp 7,64 miliar dari OJK melalui kegiatan Penyuluhan Keuangan, serta senilai Rp 1,94 miliar dari mitra kerja Komisi XI DPR RI lainnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: KPK Masih Dalami Aliran Uang Korupsi CSR BI-OJK ke Anggota DPR


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Pesta Gay di Karawang Viral di Medsos, Dedi Mulyadi Siapkan Solusi dengan Opsi Masuk Barak Militer
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Cafu Yakin Ancelotti Bawa Brasil ke Semifinal Piala Dunia 2026
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Dasco Sebut Pemerintah Punya Strategi Khusus untuk Buat Nilai Tukar Rupiah Menguat
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Korupsi MBG, Kejagung Geledah Kantor dan Rumah di Jakarta-Bandung
• 19 jam laludetik.com
thumb
Zulhas Ungkap Dugaan Jual Beli Titik SPPG: Dari 21.000 Jadi 27.000 Dapur MBG
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.