Super El Nino Resmi Datang, Berpotensi Jadi yang Terkuat dalam Sejarah

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Fenomena iklim El Niño kini resmi terjadi dan diperkirakan berpotensi menjadi salah satu yang paling kuat yang pernah tercatat dalam sejarah.

Siklus iklim alami yang dikenal mampu mendorong kenaikan suhu dan mengubah pola cuaca di berbagai belahan dunia itu secara resmi mulai terbentuk dalam sebulan terakhir. Hal tersebut diumumkan oleh Climate Prediction Center milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat, pada 11 Juni 2026 kemarin.

Mirisnya, gabungan berbagai model prakiraan cuaca menunjukkan adanya peluang 63 persen bahwa El Niño kali ini akan mencapai kategori sangat kuat pada periode November–Januari, dan masuk jajaran peristiwa El Niño terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1950.

Sebenarnya, prediksi ini bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Pekan lalu, European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) yang kerap disebut sebagai 'standar emas' dalam pemodelan cuaca global juga memperkirakan El Niño tahun ini berpotensi menjadi yang terkuat yang pernah tercatat.

Prediksi tersebut kini makin diperkuat oleh sejumlah model iklim terbaik dunia. Sekitar 75 persen model memproyeksikan lonjakan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bisa mencapai 2,5 derajat Celsius di atas normal. Beberapa skenario bahkan memperkirakan kenaikannya dapat menyentuh 4 derajat Celsius.

Sebagai perbandingan, dua El Niño terkuat sebelumnya yang terjadi pada periode 1997-1998 dan 2015-2016, mendorong suhu laut di wilayah pengukuran Niño 3.4 hingga sekitar 2,3 derajat Celsius di atas rata-rata.

Apa Itu El Niño

El Niño merupakan fenomena yang muncul setiap dua hingga tujuh tahun sekali sebagai bagian dari siklus iklim alami El Niño, Southern Oscillation (ENSO) di Samudra Pasifik. Siklus ENSO bergerak bergantian antara fase El Niño yang lebih hangat dan La Niña yang lebih dingin, dengan periode netral di antaranya.

Saat El Niño terjadi, suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik meningkat. Kondisi ini melemahkan bahkan dapat membalikkan angin pasat yang biasanya bertiup di kawasan tersebut, sehingga memicu perubahan besar pada suhu global dan pola curah hujan.

El Niño terakhir berlangsung dari Juni 2023 hingga April 2024 dan menambah panas pada kondisi Bumi yang memang sudah terus menghangat. Dampaknya cukup signifikan, di mana tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah pengamatan.

Tahun tersebut juga menjadi kali pertama suhu global menembus batas kenaikan 1,5 derajat Celsius, ambang penting yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Jika batas itu terus terlampaui, dampak perubahan iklim diperkirakan akan semakin ekstrem.

Kini, El Niño diprediksi akan kembali menaikkan suhu global pada tahun ini dan tahun depan, bahkan berpotensi melampaui rekor sebelumnya.

Risiko Cuaca Ekstrem hingga Ancaman Pangan

Dengan status El Niño yang kini resmi diumumkan, para ilmuwan mulai mendorong berbagai negara untuk bersiap menghadapi dampaknya. Tambahan panas akibat fenomena ini diperkirakan dapat membawa konsekuensi besar.

Sejumlah penelitian sebelumnya mengaitkan periode El Niño dengan kelaparan di Eropa, konflik sipil di wilayah tropis, hingga kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan di berbagai negara. Tahun ini, dampaknya juga berpotensi lebih kompleks karena terjadi di tengah kondisi ketahanan pangan global yang sudah melemah akibat konflik Iran.

Di Indonesia sendiri, dampak El Niño dapat menyebabkan kondisi kering dan berkurangnya curah hujan. Ini berpeluang menyebabkan kekeringan yang dapat menurunkan produksi dan cadangan pangan.

Meski El Niño merupakan fenomena alami yang tetap akan terjadi tanpa campur tangan manusia, para ilmuwan mulai melihat tanda bahwa pemanasan global mempercepat proses kemunculannya.

“Ini mungkin salah satu transisi tercepat yang pernah saya lihat dalam catatan, bahkan mungkin yang paling cepat,” kata Nathaniel Johnson, meteorolog peneliti sekaligus anggota tim prakiraan musiman ENSO di NOAA.

Menurutnya, perubahan dari kondisi La Niña lemah hingga sedang menjadi El Niño kuat hingga sangat kuat hanya dalam satu tahun kalender merupakan sesuatu yang sangat jarang terjadi.

“Selama satu abad terakhir, kami melihat frekuensi perubahan cepat dari satu fase ke fase lain semakin meningkat,” lanjut Johnson.

Ia menambahkan, ada indikasi bahwa perubahan iklim mungkin berperan dalam mempercepat peralihan antara El Niño dan La Niña, meski hal tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkot Bandung Dukung Penuh Konprov PWI Jabar 2026, 2.000 Wartawan Diprediksi Hadir Agustus
• 15 jam lalurealita.co
thumb
Praz Teguh Kembalikan Uang Saku dari Hanania Travel
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Emas Antam Naik Rp20.000 Menjadi Rp2,709 Juta per Gram
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo Menegaskan Tawaran Mediasi AS-Iran Masih Terbuka di Tengah Kembali Memanasnya Konflik
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Raffi Ahmad Buka Suara Namanya Tiba-Tiba Muncul di Kasus Suap Bea Cukai, Gandeng Hotman Paris
• 4 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.