HARIAN.FAJAR.CO.ID , MAKASSAR – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kunjungan silaturahmi Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulawesi Selatan, Dr. Sila H. Pulungan, SH, MHum, ke Harian Fajar Makassar, Jumat (12/6/2026).
Baru sekitar satu bulan lebih bertugas di Sulawesi Selatan, Sila Pulungan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan diri sekaligus berbagi kisah perjalanan hidupnya yang ternyata memiliki hubungan erat dengan Kota Makassar.
Di hadapan jajaran redaksi Fajar, pria kelahiran Sumatera Utara itu mengaku pernah menghabiskan masa kecilnya di kawasan Tello Baru, Makassar.
“Tahun 1974 saya masuk SD di sini. Sampai kelas lima saya sekolah di Tello Baru. Jadi masa kecil saya banyak dihabiskan di sini,” kenangnya sambil tersenyum.
Ia bahkan masih mengingat berbagai sudut kawasan yang dulu menjadi tempat bermainnya. Mulai dari sawah, sungai, hingga lokasi memancing yang kini sebagian besar telah berubah menjadi kawasan permukiman.
Di balik jabatan strategis yang kini diembannya, Sila Pulungan mengaku memiliki filosofi hidup yang sederhana. Baginya, membangun hubungan baik dengan banyak orang jauh lebih berharga daripada sekadar mengumpulkan materi.
Menurutnya, silaturahmi menjadi modal penting dalam kehidupan.
“Kalau saya, lebih baik punya banyak teman daripada banyak uang tapi tidak punya teman. Waktu kuliah dulu, kalau tidak punya uang saya datang ke rumah teman untuk makan. Karena itu silaturahmi selalu saya tempatkan nomor satu,” tuturnya.
Pria yang mulai berkarier sebagai jaksa pada 1993 itu juga memiliki prinsip yang selalu dipegang selama bertugas di berbagai daerah di Indonesia.
“Tak perlu menampakkan diri untuk disegani. Tak perlu cari muka untuk dikagumi. Cukup diam dan laksanakan misi hingga tuntas,” katanya.
Kalimat tersebut bahkan menjadi salah satu kutipan favorit yang selalu ia pasang dalam profil pribadinya.
Selama lebih dari tiga dekade mengabdi di Korps Adhyaksa, Sila Pulungan telah bertugas di sedikitnya 14 provinsi. Pengalamannya membawanya menjelajahi berbagai wilayah Indonesia, mulai dari kawasan barat hingga timur, termasuk Timor Timur pada masa lalu.
Kini, setelah dipercaya memimpin Kejati Sulsel, salah satu fokus utamanya adalah memperkuat pengawasan internal dan memastikan seluruh jajaran kejaksaan bekerja sesuai arahan pimpinan.
Ia mengungkapkan bahwa sejak hari-hari pertama bertugas, dirinya langsung berkeliling ke sejumlah daerah untuk memetakan kondisi internal organisasi.
“Saya harus mengetahui wilayah saya terlebih dahulu. Dalam dunia intelijen disebut pengamatan dan penggambaran atau profiling. Saya perlu tahu kondisi di bawah seperti apa,” jelasnya.
Menurut Sila, kunjungan ke daerah bukan sekadar agenda seremonial. Ia ingin memastikan seluruh satuan kerja berjalan baik sekaligus menyerap berbagai persoalan yang dihadapi jajaran kejaksaan di daerah.
“Dari kunjungan itu banyak temuan yang saya dapatkan dan akan saya laporkan ke pimpinan. Karena itu saya memang memilih turun langsung,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sila Pulungan juga menegaskan pentingnya membangun sinergi dengan media massa. Menurutnya, media memiliki peran strategis sebagai mitra sekaligus kontrol sosial terhadap kinerja institusi penegak hukum.
“Kami tidak mungkin bekerja sendiri. Kerja kolaboratif dan sinergi itu menjadi keharusan. Media menjadi jembatan agar kerja-kerja kejaksaan bisa diketahui masyarakat,” katanya.
Ia mengaku tidak pernah alergi terhadap kritik maupun pemberitaan media. Sebaliknya, berbagai masukan yang muncul dari pemberitaan justru menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan penegakan hukum.
“Saya senang dengan teman-teman media. Itu menjadi bahan masukan dan evaluasi bagi kami setiap hari,” pungkasnya.





